← Beranda

Mengejar Uang Tanpa Akhir: 7 Sifat yang Sering Dimiliki Orang dengan Pola Pikir Materialistis , Menurut Psikologi

Vindi Rayinda AyudyaSelasa, 4 Maret 2025 | 21.38 WIB
Ilustrasi orang yang hanya mengaitkan kebahagiaan dengan uang. (Freepik)

 

JawaPos.Com - Uang memang penting, tetapi bagi sebagian orang, uang bukan hanya sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan dan kesuksesan. 

Mereka yang terjebak dalam pola pikir materialistis sering kali menjalani hidup dalam perlombaan tanpa garis finis, selalu merasa kurang, dan terus-menerus mengejar lebih banyak tanpa benar-benar menikmati apa yang sudah dimiliki.

Materialisme bukan hanya tentang memiliki banyak harta, tetapi juga cara seseorang memandang dunia. 

Psikologi telah lama mempelajari dampak dari pola pikir materialistis, dan hasilnya menunjukkan bahwa semakin seseorang terobsesi dengan uang dan status, semakin ia rentan terhadap ketidakpuasan hidup, stres, dan hubungan yang kurang harmonis.

Lalu, apa saja tanda-tanda seseorang memiliki pola pikir materialistis? 

Dilansir dari News Reports, inilah tujuh sifat orang yang hanya mengaitkan kebahagiaan dengan uang.

1. Selalu Mengejar Status dan Pengakuan

Orang yang berpikir materialistis sering kali mengukur nilai diri mereka berdasarkan harta yang mereka miliki dan bagaimana orang lain memandang mereka. 

Mereka sangat peduli dengan merek pakaian yang mereka pakai, jenis mobil yang mereka kendarai, atau seberapa mewah rumah mereka. 

Semua ini dilakukan demi pengakuan sosial dan status yang lebih tinggi.

Bagi mereka, memiliki barang-barang mahal bukan hanya tentang kualitas atau kenyamanan, tetapi lebih kepada bagaimana barang tersebut dapat meningkatkan citra diri mereka di mata orang lain. 

Akibatnya, mereka cenderung menghabiskan banyak energi dan sumber daya untuk terus menunjukkan kesuksesan, bahkan jika harus berhutang atau mengorbankan hal-hal lain yang lebih penting dalam hidup.

2. Tidak Pernah Merasa Cukup

Salah satu ciri utama dari pola pikir materialistis adalah ketidakpuasan yang terus-menerus. 

Tidak peduli seberapa banyak yang sudah dimiliki, mereka selalu merasa ada sesuatu yang kurang. 

Jika mereka sudah memiliki mobil mewah, mereka ingin yang lebih baru dan lebih mahal. 

Jika mereka sudah memiliki rumah besar, mereka menginginkan yang lebih megah.

Ketidakpuasan ini membuat mereka terus berada dalam siklus konsumsi yang tidak ada habisnya. 

Mereka mungkin berpikir bahwa pencapaian berikutnya akan membuat mereka bahagia, tetapi begitu mereka mencapainya, mereka justru merasa kosong dan segera mencari target baru untuk dikejar.

3. Mudah Stres dan Tertekan

Mengejar uang dan status tanpa henti bukanlah sesuatu yang mudah. 

Orang dengan pola pikir materialistis sering kali merasa tertekan karena harus selalu tampil sukses dan kaya. 

Mereka takut gagal, takut kehilangan apa yang sudah mereka miliki, dan selalu merasa perlu bekerja lebih keras untuk mendapatkan lebih banyak.

Tingkat stres yang tinggi ini juga berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka. 

Mereka lebih rentan terhadap kecemasan, sulit tidur, dan bahkan bisa mengalami masalah kesehatan akibat tekanan yang terus-menerus mereka rasakan.

4. Merasa Kosong dan Tidak Pernah Puas

Ironisnya, meskipun mereka terus mengejar kebahagiaan melalui materi, banyak orang yang memiliki pola pikir materialistis justru merasa kurang puas dalam hidup mereka. 

Psikologi telah menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati lebih sering datang dari pengalaman, hubungan yang bermakna, dan kepuasan batin, bukan dari jumlah harta yang dimiliki.

Mereka yang terlalu fokus pada materi cenderung mengabaikan aspek-aspek emosional dan spiritual dalam hidup mereka. 

Akibatnya, meskipun secara finansial mereka tampak sukses, di dalam hati mereka sering merasa ada sesuatu yang hilang.

5. Takut Hidup dalam Kekurangan

Salah satu alasan utama mengapa orang dengan pola pikir materialistis terus mengejar uang adalah karena mereka memiliki ketakutan yang mendalam terhadap kemiskinan atau kekurangan. 

Mereka takut kehilangan gaya hidup yang sudah mereka bangun, takut jatuh miskin, atau bahkan takut dianggap gagal oleh orang lain.

Ketakutan ini membuat mereka terus-menerus bekerja tanpa istirahat, bahkan ketika mereka sudah memiliki lebih dari cukup. 

Mereka mungkin tidak menikmati hasil kerja keras mereka karena selalu khawatir tentang masa depan, sehingga mereka merasa tidak bisa berhenti berusaha mengumpulkan lebih banyak.

6. Pola Pikir yang Selalu Berorientasi pada Materi

Orang dengan pola pikir materialistis sering melihat segala sesuatu dari segi keuntungan materi. 

Mereka lebih memilih pekerjaan yang memberikan gaji tinggi meskipun mereka tidak menikmatinya, daripada pekerjaan yang lebih bermakna tapi dengan penghasilan lebih rendah. 

Mereka juga cenderung menjalin hubungan berdasarkan manfaat finansial daripada keintiman emosional.

Bagi mereka, kesuksesan dalam hidup hanya bisa diukur dengan angka di rekening bank atau jumlah aset yang dimiliki. 

Akibatnya, mereka sering mengabaikan kebahagiaan sejati yang datang dari hal-hal sederhana seperti kebersamaan dengan keluarga, waktu luang untuk menikmati hobi, atau kontribusi kepada orang lain.

7. Mengabaikan Hal-Hal yang Bersifat Non-Material

Karena begitu fokus pada materi, orang dengan pola pikir materialistis sering kali mengabaikan hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, seperti persahabatan yang tulus, cinta yang murni, dan kebahagiaan dari hal-hal kecil dalam hidup. 

Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bekerja atau berbelanja daripada membangun hubungan yang berkualitas dengan orang-orang terdekat.

Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan mereka merasa kesepian dan kehilangan makna hidup. 

Mereka mungkin memiliki banyak harta, tetapi tanpa hubungan yang bermakna, semua itu terasa kosong.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti