← Beranda

KAI Kaji Wacana KRL Jabodetabek 24 Jam, Utamakan Keselamatan dan Kenyamanan

Ryandi ZahdomoKamis, 27 November 2025 | 03.49 WIB
Suasana kepadatan penumpang KRL di Stasiun Tanah Abang Baru, Jakara Pusat. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

 

JawaPos.com-PT Kereta Api Indonesia (KAI) buka suara soal wacana operasional KRL Jabodetabek 24 jam yang tengah menjadi sorotan. Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menyatakan tengah mengkaji usulan tersebut dengan menggandeng Kementerian Perhubungan.

"Tentunya kita kaji. Kita sudah berkoordinasi dengan kementerian perhubungan. Kita benar-benar kaji," ujar Bobby Rasyidin dikutip Rabu (25/11).

KAI tidak ingin gegabah. Menurut Bobby, ada tiga aspek krusial yang harus dipersiapkan secara maksimal jika KRL 24 jam dioperasikan.

Ketiga aspek tersebut adalah keselamatan, operasional dan kenyamanan pelanggan. Ketiga aspek itu harus sangat diperhatikan dalam operasional layanan kereta.

"Kami ini tiga aspek penting. Satu keselamatan, tentunya berkaitan dengan perawatan sarana dan prasarana, kedua dari aspek operasionalnya dan ketiga tentunya kenyamanan pelanggan," jelasnya.

Perawatan dan Risiko Insiden Listrik Jadi Sorotan Utama

Bobby menekankan bahwa menjalankan kereta api tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada kebutuhan perawatan rutin yang wajib dipenuhi, terutama terkait sistem kelistrikan dan prasarana.

Pengoperasian selama 24 jam penuh akan menghilangkan waktu yang sangat vital untuk perawatan.

"Namanya pengoperasian kereta ini kan tidak sederhana yang kita harus paksakan. Lalu bagaimana elektrifikasinya. Itu kan aliran listrik di atas juga. Kalau aliran listriknya 24 jam, kapan kita mengecek kabelnya," kata Bobby.

Ia mencontohkan insiden yang pernah terjadi pada Kereta Cepat Whoosh akibat benda asing, menunjukkan betapa rentannya jaringan listrik. Risiko serupa, bahkan lebih besar, bisa mengancam jaringan KRL yang jauh lebih panjang.

“Jangan-jangan kabelnya seperti teman-teman dengar sendiri. Kalau di Whoosh itu ada layangan nyangkut saja, itu berhenti. Apalagi jaringannya jauh lebih panjang dari Jakarta. Tentunya kita kaji," kata dia.

Reaksi Netizen: Dukungan vs Pemahaman Soal Maintenance

Wacana KRL Jabodetabek beroperasi 24 jam ini sontak membelah pendapat warganet.

Mayoritas masyarakat menyambut baik ide tersebut karena layanan ini sangat vital, khususnya bagi para pekerja. Mereka mengharapkan adanya pola operasi per jam di waktu dini hari.

"Adain pak tp pola 1 jam aja mulai 00.00 sampe jam 04.00 yg penting orang bisa pulang," tulis @moh.nuxxxxx.

"KRL yang beroperasi 24 jam di luar negeri memang ada, contohnya di Tokyo, Jepang dan Seoul, Korea Selatan. Di Tokyo beberapa jalur kereta api seperti Yamanote Line dan Keihin-Tohoku Line beroperasi 24 jam, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Sementara di Seoul, beberapa jalur subway seperti Line 1 dan Line 2 juga beroperasi 24 jam," kata @alfiansyah.raxxxxxx.

Namun, tidak sedikit pula netizen yang memahami dan mendukung sikap kehati-hatian KAI. Mengingat diperlukan kebutuhan untuk maintenance atau perawatan rutin.

"24 jam kapan waktu buat maintenance.nya ?," tulis @azis.alamxxxxxx.

"Seharusnya memang batas kereta akhir jam 12 malam, kan perlu maintenance juga dari rell, LAA bahkan kereta klo kereta beroperasi 24 jam kapan mau di cek kelayakan jalan. Gue sering liat dan dengar tengah malam kereta2 buat cek kondisi balast dan rell itu fungsinya," kata @adjnxxxx. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan