← Beranda

Keistimewaan Meninggal di Hari Jumat dalam Islam dan Maknanya Bagi Umat Muslim di Dunia Akhirat

Andika PurnamaJumat, 15 Agustus 2025 | 21.20 WIB
Dalam Islam, wafat di hari Jumat diyakini sebagai tanda kemuliaan

JawaPos.com - Bagi umat Islam, hari Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan hari istimewa yang sarat dengan kemuliaan spiritual. Dalam Al-Qur’an, hari ini disebut yaumul jum'ah, hari berkumpulnya umat untuk salat berjamaah, mendengarkan khutbah, dan memperbanyak amal kebaikan.

Rasulullah juga banyak menekankan keutamaan hari ini, mulai dari pahala besar untuk salat Jumat hingga doa yang lebih mustajab.

Namun, di antara keyakinan yang cukup populer di kalangan masyarakat adalah pandangan bahwa meninggal di hari Jumat merupakan pertanda baik, bahkan dianggap sebagai “kematian mulia” atau bagian dari husnul khatimah.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Libra dan Scorpio untuk Hari Jumat 11 Juli 2025: Mulai dari Karier, Cinta, Keuangan, hingga Kesehatan

Keyakinan ini bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan memiliki dasar dari hadis, meski penilaiannya beragam di kalangan ahli hadis.

Fenomena ini sering menjadi bahan renungan, apakah benar hari kematian seseorang bisa menjadi tanda khusus dari Allah? Lalu bagaimana pandangan para ulama terhadap hal ini?

Dikutip dari islamanswers.co.uk dan seekersguidance.org, terdapat sebuah hadis yang berbunyi:

“Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah melindunginya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Baca Juga: Sambut Berkah di Hari Jumat dengan 5 Amalan Sunnah Berikut!

Hadis ini menjadi salah satu alasan utama munculnya keyakinan bahwa wafat di hari Jumat membawa keberkahan.

Walaupun hadis ini dinilai da‘if (lemah) oleh sebagian perawi, para ulama tetap memandangnya memiliki makna motivasi (fadha’il al-a‘mal), yaitu mendorong umat Islam untuk memperbanyak amal baik, terlebih menjelang atau pada hari Jumat.

Namun sebagian juga meyakini hadis tersebut  tidak berarti ada jaminan otomatis masuk surga bagi siapa pun yang meninggal di hari Jumat. Yang lebih tepat adalah memahaminya sebagai tanda bahwa Allah memberikan rahmat dan kemudahan bagi hamba-Nya yang wafat pada hari tersebut.

Lantas mengapa Hari Jumat Dianggap Istimewa dibanding dengan hari lainnya?

Hari Jumat memiliki banyak keutamaan di dalam Islam. Beberapa di antaranya:

  1. Hari diciptakannya Nabi Adam AS dan hari beliau dimasukkan ke surga.
  2. Hari diturunkannya ampunan dan doa yang mustajab.
  3. Hari berlangsungnya kiamat menurut keterangan hadis sahih.

Dengan semua kemuliaan ini, wafat di hari Jumat sering diartikan sebagai tanda seorang hamba “pergi” pada waktu yang mulia. Namun, menurut ulama, makna keistimewaan ini harus tetap dikaitkan dengan amal dan iman yang dijaga semasa hidup, bukan sekadar bergantung pada hari kematian.

  • Perlindungan dari Fitnah Kubur

Salah satu poin penting dari hadis yang dikutip adalah janji perlindungan dari fitnah kubur. Dalam Islam, fitnah kubur adalah ujian yang dialami seseorang setelah meninggal, yang mencakup pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, serta keadaan di alam barzakh.

Bagi sebagian orang, fase ini sangat berat, namun hadis tersebut memberi kabar gembira bahwa wafat di hari Jumat menjadi sebab Allah melindungi dari ujian tersebut.

Ulama menjelaskan, makna “perlindungan” ini bukan hanya bebas dari pertanyaan, tetapi juga diberi keteguhan hati untuk menjawabnya dan dijauhkan dari siksa kubur. Meski begitu, hal ini tetap bergantung pada kadar iman, amal, dan keridhaan Allah.

  • Pandangan Realistis: Bukan Sekadar Tanggal Kematian

Tidak ada kepastian otomatis bahwa orang yang meninggal di hari Jumat akan masuk surga. Keistimewaan ini adalah bagian dari husnul khatimah, yang harus diiringi dengan keimanan yang benar, amal saleh, dan niat yang ikhlas sepanjang hidup.

Dengan kata lain, hari kematian bisa menjadi pertanda baik, tetapi yang menentukan adalah bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Ulama mengingatkan agar kita tidak terjebak pada anggapan bahwa kematian di hari Jumat saja sudah cukup untuk menjamin kebahagiaan akhirat, tanpa usaha memperbaiki diri.

  • Pelajaran yang Bisa Diambil
  1. Hari Jumat adalah momen untuk memperbanyak amal saleh. Mengingat banyaknya keutamaan hari ini, umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadah seperti membaca Al-Kahfi, memperbanyak doa, sedekah, dan shalat sunnah.
  2. Persiapan husnul khatimah harus dimulai sekarang. Keistimewaan meninggal di hari Jumat seharusnya memotivasi kita untuk hidup dengan baik, bukan hanya berharap pada waktu kematian.
  3. Makna spiritual lebih penting dari sekadar simbol. Perlindungan dari fitnah kubur hanyalah salah satu bentuk rahmat Allah, namun tujuan utama adalah keridhaan-Nya.
  • Kesimpulan

Meninggal di hari Jumat memang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, sebagaimana disebutkan dalam hadis meski dengan status da‘if. Namun, yang lebih penting dari sekadar harapan meninggal di waktu mulia adalah upaya sungguh-sungguh untuk mempersiapkan diri dengan iman, amal saleh, dan akhlak yang baik.

Hari kematian adalah rahasia Allah, dan yang dapat kita lakukan adalah mengisinya dengan amal yang mendekatkan diri kepada-Nya, agar kapanpun dan dimanapun kita dipanggil, kita siap menghadap dengan husnul khatimah.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho