← Beranda

Pencarian Dihentikan, Total Korban Tewas Kebakaran Hunian di Hong Kong Melonjak Jadi 94 Orang

Rian AlfiantoJumat, 28 November 2025 | 21.28 WIB
Tangkapan layar video kebakaran besar kompleks apartemen di Hong Kong. (NBC News)

JawaPos.com - Jumlah korban tewas dalam kebakaran besar di kompleks hunian Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, melonjak drastis menjadi 94 orang pada Jumat (28/11) pagi.

Hal tersebut menjadikan insiden ini sebagai kebakaran paling mematikan di kota tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Fire Services Department (FSD) melaporkan hingga pukul 06.00 waktu setempat, 94 orang meninggal dunia, termasuk seorang petugas pemadam kebakaran. Sebanyak 76 orang terluka, di mana 11 di antaranya adalah petugas pemadam.

Kematian juga mencakup dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Dua WNI lainnya masih dalam perawatan akibat luka-luka.

Meski api sudah dinyatakan 'under control', petugas belum menemukan penyintas baru selama operasi penyelamatan sepanjang Kamis malam hingga Jumat dini hari.

Ratusan orang masih diperkirakan hilang, sementara beberapa unit di menara hunian tersebut masih menyala dan mengeluarkan asap.

Deputi Direktur FSD, Derek Armstrong Chan, mengatakan bahwa timnya melakukan pemeriksaan dari pintu ke pintu di tujuh gedung yang terdampak.

“Kami akan memaksimalkan upaya masuk paksa ke seluruh unit untuk memastikan tidak ada korban lain,” ujarnya dalam konferensi pers dini hari.

Kompleks Wang Fuk Court memiliki sekitar 2.000 unit hunian dan dihuni hampir 4.000 warga, sehingga otoritas masih menyisir ribuan area potensial tempat korban mungkin berada.

Dua WNI Tewas, KJRI Buka Tempat Singgah dan Dampingi Korban

Kementerian Luar Negeri sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa dua WNI meninggal dunia dan dua lainnya luka-luka akibat kebakaran tersebut.

KJRI Hong Kong bergerak cepat membuka tempat singgah sementara di gedung konsulat, menyediakan logistik, melakukan pendataan, hingga memberi pendampingan psikologis dan hukum bagi para PMI terdampak.

Keluarga korban di Indonesia telah dihubungi dan tengah disiapkan proses repatriasi jenazah serta pemenuhan hak ketenagakerjaan para PMI.

Penyebab Kebakaran Mengarah ke Pelanggaran Keamanan

Polisi Hong Kong mengungkap indikasi kuat bahwa material renovasi dan pemasangan scaffolding di sekitar bangunan tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran.

Polisi Senior Superintendent Eileen Chung menyebut adanya temuan mengenai netting, mesh, canvas, dan plastik yang digunakan dalam proyek renovasi—bahan yang mudah terbakar dan dapat mempercepat penjalaran api.

Tiga pria berusia 52 hingga 68 tahun, semuanya terkait perusahaan konstruksi, telah ditangkap atas dugaan pembunuhan (manslaughter). Mereka terdiri dari seorang konsultan teknik dan dua direktur perusahaan.

Penangkapan ini dilakukan bersamaan dengan pembentukan tim investigasi gabungan antara polisi, FSD, dan otoritas anti-korupsi (ICAC).

Api Menjalar Cepat, Diduga Diperburuk Scaffolding Bambu

Kebakaran yang bermula Rabu sore itu menjalar melalui scaffolding bambu dan plastik pelindung yang menyelimuti hampir seluruh bangunan, yang tengah menjalani renovasi multi-tahun.

Instalasi tersebut diduga menjadi 'jalan tikus' bagi api untuk menembus tujuh menara sekaligus dalam waktu singkat.

Dalam dua hari pertama, foto dan video menunjukkan kobaran api yang menghantam lantai atas, ledakan kecil dari dalam bangunan, serta upaya petugas yang kesulitan menjangkau area karena suhu ekstrem dan jatuhan puing.

Sebagai informasi juga, kebakaran Wang Fuk Court kini menyaingi tragedi besar pada era 1990–2000-an, dan menjadi kebakaran level lima pertama sejak 2008.

Dengan lebih dari 90 korban tewas, ratusan luka dan hilang, hingga ribuan warga mengungsi, tragedi ini dianggap sebagai krisis urban paling serius dalam sejarah Hong Kong modern.

EDITOR: Bayu Putra