← Beranda

Halloween Night Bareng Zombie, Monster di Jalanan, dan Hantu Pontianak

Dhimas GinanjarKamis, 29 September 2022 | 01.29 WIB
Gerbang Dark Zodiac. (Resorts World Sentosa)
JawaPos.com - Pandemi Covid-19 yang mengerikan perlahan mulai mereda. Tetapi, tidak demikian di Universal Studios Singapura (USS). Bukan, bukan karena ada lonjakan Covid-19 di sana. Tetapi karena banyak monster di jalanan, psikopat, zombie, sampai hantu pontianak atau yang di Indonesia dikenal di Indonesia. Mereka kembali "menginvasi" taman bermain itu setelah absen dua tahun karena pandemi.

Atas undangan Singapore Tourism Board (STB), JawaPos.com ikut merasakan "aura kelam" untuk merayakan Halloween Night dari 30 September hingga 5 November. Pada perayaan ke -10 Halloween Night itu, pengunjung bisa merasakan ketakutan dari tiga rumah hantu, dua zona menakutkan, game menaklukkan psikopat dengan laser, makan malam dengan tampilan menu yang "menjijikkan", atau sekadar teriak ketakutan karena monster di jalanan.

Paling menyenangkan untuk merasakan ketakutan itu tentu saja datang saat malam. Kegelapan yang dipadu dengan permainan lampu membuat nuansa USS makin menakutkan. Apalagi, ketika mulai masuk gerbang Dark Zodiac. Dari gerbang bergaya kastil kuno itu banyak monster berkeliaran. Mereka akan mendekat, dan mengeluarkan suara aneh. Terkadang, monster itu akan "menyerang" dan mengagetkan. Tapi jangan khawatir, monster-monster itu tidak akan sampai menyentuh. Jadi, aman.

Zona menakutkan berikutnya adalah hantu legendaris Pontianak atau Kuntilanak. Lokasinya didesain sedemikian rupa sampai mirip dengan hutan. Di sini, pengunjung akan berperan sebagai influencer yang sedang menerima tantangan untuk masuk ke hutan di Malaysia. Mereka akan live streaming untuk mencari hantu perempuan itu. Selain jumpscare, juga banyak hal menakutkan di sana.

Rumah Hantu

Yang istimewa dari Halloween Horror Nights 10 adalah tiga rumah hantu. Mereka mengklaim rumah hantu kali ini yang paling menyeramkan dibanding sembilan edisi sebelumnya. Rumah hantu pertama adalah Hospitality of Horror. Menceritakan sebuah mansion mewah milik orang terkaya di Asia Tenggara yang ditinggal selama beberapa dekade.

Rumah mewah itu lantas dipugar, dan dijadikan hotel. Pengelola lantas memberikan diskon yang menarik untuk menarik pengunjung. Namun, bukannya staycation yang menyenangkan. Menginap di sana justru benar-benar menjadi mimpi buruk karena banyak hantu.

Rumah hantu kedua namanya Killustrator: The Final Chapter. Dari namanya bisa ditebak jika rumah hantu ini berkaitan degan seorang seniman. Di sana, pengunjung akan mengunjungi kamar seorang seniman yang kesepian, gila, dan benar-benar terobsesi dengan malam horor Halloween. Dia terus-menerus mencoba untuk mengalahkan dirinya sendiri dengan lebih banyak kengerian, lebih banyak teror, dan lebih banyak darah!

Terakhir, Operation: Dead Force. Pengunjung akan melihat lebih dekat wilayah yang penuh dengan zombie. Special Forces Against the Dead (S.F.A.D) mencari sukarelawan untuk membersihkan dan mempertahankan dunia dari zombie. Bagi penggemar mayat hidup, wahana singkat ini cukup membawa adrenalin untuk merasakan hidup di kiamat zombie.

Memburu Psikopat

Ketakutan pada halloween night tidak hanya berasal dari hantu atau monster. Manusia yang punya sifat seperti setan tidak kalah menakutkan. Itu digambarkan dari sosok Reaper. Dia memimpin kelompok penjahat bengis yang mematikan di sebuah penjara. Jika di tempat lain pengunjung hanya bisa berteriak karena kaget atau ketakutan, tidak di Laser-Tag Challenge. Pengunjung akan dibekali sebuah senjata untuk memburu Reaper dan gang.

Berbekal sebuah senjata laras panjang yang dilengkapi laser, pengunjung akan melewati beberapa area. Di sana, anak buah Reaper bersiap untuk memburu kita. Saat bertemu mereka, arahkan pistol ke mereka, dan tarik pelatuk. Saat laser mengenai kalung dan berubah warna, menjadi penanda bahwa penjahat telah mati. Menariknya, untuk keluar dari zona kacau itu juga harus memecahkan teka-teki agar bisa pindah wilayah.

Jika gagal memecahkan kode di pintu, anak buah Reaper akan terus berdatangan. Jika waktu atau peluru habis, pengunjung harus siap menjadi korban kekejaman para penjahat itu.
EDITOR: Dhimas Ginanjar