← Beranda

Ramai-Ramai Dibuat Gerah Tiongkok, Buntut Keluarnya Peta Wilayah Baru  

Siti AisyahJumat, 1 September 2023 | 19.47 WIB
Kapal perang Tiongkok bersiaga di perbatasan.

 

JawaPos.com – Tiongkok membuat gerah sejumlah negara. Setelah India, kini giliran Filipina, Malaysia, dan Taiwan yang memprotes Negeri Tirai Bambu itu.

Mereka menentang peta nasional baru Tiongkok yang dirilis Senin (28/8) lalu. Dalam peta tersebut, negara yang dipimpin Xi Jinping itu mengklaim wilayah-wilayah yang masih jadi sengketa.

Versi peta yang diterbitkan di situs Kementerian Sumber Daya Alam dengan jelas menunjukkan, Arunachal Pradesh dan Dataran Tinggi Doklam termasuk dalam wilayah perbatasan Tiongkok.

Padahal, dua area itu masih menjadi sengketa dengan India. Begitu pula Aksai Chin di bagian barat yang dikuasai Tiongkok, tetapi India juga masih mengklaim wilayahnya.

India dan Tiongkok pernah berperang memperebutkan wilayah perbatasan pada 1962. Tiongkok mengklaim sekitar 90 ribu kilometer persegi wilayah di timur laut India, termasuk Arunachal Pradesh yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.

India juga menuding Tiongkok menempati 38 ribu kilometer persegi wilayahnya di Dataran Tinggi Aksai Chin yang dianggap India sebagai bagian dari Ladakh. Nah, di Aksai Chin atau Ladakh itulah India-Tiongkok belakangan berkonflik.

Peta baru Tiongkok itu berbeda dengan versi lebih sempit yang diserahkan ke PBB pada 2009 mengenai Laut China Selatan. Di peta lama itu, ada 9 garis putus-putus atau biasa disebut nine dash line.

Nah, di peta terbaru, wilayah geografis yang diklaim Tiongkok lebih luas dan memiliki 10 garis putus-putus, yang juga mencakup Taiwan.

’’Taiwan sama sekali bukan bagian dari Republik Rakyat Tiongkok. Tak peduli bagaimana pemerintah Tiongkok memutarbalikkan posisinya terhadap kedaulatan Taiwan. Hal itu tidak mengubah fakta objektif keberadaan negara kami,’’ ujar Jeff Liu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Taiwan.

Dengan tambahan garis itu, Beijing mengklaim 90 persen wilayah Laut China Selatan. Garis putus-putus berbentuk U di peta Tiongkok berputar sejauh 1.500 kilometer di selatan Pulau Hainan dan memotong zona ekonomi eksklusif (ZEE) Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Indonesia.

Laut China Selatan merupakan jalur perairan yang paling diperebutkan di dunia. Kawasan itu adalah tempat lewatnya perdagangan senilai lebih dari USD 3 triliun (Rp 45,6 kuadriliun) per tahun.

Tiongkok mengatakan, garis tersebut didasarkan pada peta bersejarahnya. India, Filipina, Malaysia, dan Taiwan pun ramai-ramai menolak peta baru yang dikeluarkan Tiongkok. Sebab, klaim itu dianggap tidak berdasar. India telah mengajukan nota protes pada Selasa (29/8). Sehari berikutnya, Malaysia juga memprotes.

’’Upaya terbaru untuk melegitimasi kedaulatan dan yurisdiksi Tiongkok atas wilayah dan zona maritim Filipina tidak memiliki dasar berdasarkan hukum internasional,’’ bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Filipina, seperti dikutip Reuters.

Filipina meminta Tiongkok untuk mematuhi kewajibannya berdasar hukum internasional dan Keputusan Arbitrase Tahun 2016, yang menyatakan bahwa garis itu tidak memiliki dasar hukum.

Malaysia juga menolak peta terbaru Tiongkok. Mereka menegaskan, peta itu tidak mengikat Malaysia. Dengan kata lain, Malaysia tidak mengakuinya.

Menanggapi protes tersebut, Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin menegaskan, pihaknya tidak ragu-ragu mengenai wilayahnya. ’’Posisi Tiongkok terhadap masalah Laut China Selatan selalu jelas.

Pihak berwenang Tiongkok rutin memperbarui dan merilis berbagai jenis peta standar setiap tahun. Kami berharap pihak-pihak terkait dapat memandang hal ini secara objektif dan rasional,’’ tuturnya. 

EDITOR: Candra Kurnia Harinanto