← Beranda

Cerita Tasya Kamila Sebelum Ayah Berpulang

Dwi ShintiaSenin, 27 Maret 2017 | 02.55 WIB
TUGAS: Tasya Kamila (tengah) bersama penduduk Desa Tanggedu, kabupaten Sumba Timur.

JawaPos.com – Berita meninggalnya ayah artis dan penyanyi Tasya Kamila, 24, memang tidak terduga. Tasya tidak menyangka bahwa lambaian tangan ayahnya saat mengantarnya ke bandara sepekan lalu adalah tanda perpisahan selamanya.


Tasya juga harus ikhlas lantaran tidak bisa mengantar ayahnya ke peristirahatan terakhir Sabtu (25/3). Sebab, dia berada di New York untuk kuliah S-2 di Columbia University.


Pada Jumat sekitar pukul 17.00 ayah tercintanya H Gatot Permadi Joewono, 59, tutup usia. Lewat akun Instagram-nya, Tasya mengunggah video ayahnya yang sedang melambaikan tangan. ’’Mohon turut mendoakan agar almarhum diampuni segala dosanya, diharamkan dari siksa kubur,’’ tulis Tasya.


Seminggu lalu, Sabtu (18/3), Tasya berangkat dari Indonesia menuju ke AS. Ketika itu Tasya diantar ayahnya hingga ke Bandara Soekarno-Hatta. Setelah mengikuti pemakaman di TPU Pangkalan Jati, Cinere, Jakarta Selatan, Isverina Andriany, ibunda Tasya, mengatakan bahwa suaminya meninggal karena terkena serangan jantung. Menurut dia, sang suami mengeluh dadanya sakit dua hari sebelum meninggal. ’’Tapi susah diajak ke dokter,’’ kata Isverina.


Almarhum Gatot masih sempat menunaikan ibadah salat Jumat. Setelah asar, ayah Tasya kembali mengeluh sakit di bagian dada. ’’Meninggalnya di rumah, di kamar,’’ tambahnya sambil menahan tangis.


Isverina melarang Tasya pulang ke Jakarta. Sebab, putrinya tersebut saat ini melaksanakan ujian. Selain itu, pesawat dari Amerika paling cepat sampai di Indonesia hari ini. Karena itu, baik Tasya maupun kakaknya yang juga menempuh studi S-3 di AS tidak bisa mengantar ayahnya ke peristirahatan terakhir. ’’Kakaknya yang duluan pulang minggu depan karena sudah selesai ujian S-3-nya. Kalau Tasya masih belum bisa. Dia baru bisa pulang Mei nanti mungkin,’’ ungkapnya.


Beberapa hari sebelum sang ayah berpulang, Tasya masih menceritakan dengan bersemangat mengenai proyek terkininya. Sebagai mahasiswa semester dua The School of International and Public Affairs (SIPA) Columbia University, AS, Tasya memang tidak hanya fokus di kegiatan akademis.


Alumnus FE Universitas Indonesia yang kini mendapatkan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut baru saja memulai project pemberdayaan masyarakatnya di Desa Tanggedu, kabupaten Sumba Timur.


’’Saya dan teman-teman memanfaatkan liburan spring-break dengan survey langsung ke Sumba,’’ papar Tasya saat dihubungi lewat telepon. Tasya memaparkan, project ini merupakan bagian dari mata kuliah pilihan yang dipilihnya, yaitu Global Colaboratory Project.


Dimana dari 13 kelompok yang mengajukan project, hanya dipilih empat kelompok untuk menjalankan misinya. Kelompok Tasya terdiri atas tiga orang Indonesia, satu orang Tiongkok, dan satu Amerika Serikat.


Project Tasya dkk sendiri fokus di bidang swadaya energi. ’’Banyak area di Indonesia Timur yang mengalami krisis energi. Mulai dari bahan bakar yang sulit didapat, ketersediaan yang cepat habis, hingga tidak meratanya listrik,’’ papar Tasya.


Dia dan timnya sendiri sudah membuat guidebook untuk membangun desa swadaya energi. Isinya seputar kriteria dan hal-hal detail lain. Tasya dan tim pun mengerucutkannya menjadi swadaya energi yang ramah lingkungan, yakni biodiesel.


’’Kami survey dan merasa cocok dengan desa Tanggedu, Sumba Timur. PLN saja belum masuk di sana,’’ paparnya. Desa Tanggedu memenuhi kriteria yang dicari Tasya dkk. Bahkan, Desa Tanggedu pun mempunyai Sumber Daya Alam (SDA) berupa pohon jarak yang bisa digunakan untuk biodiesel.


Biji dari pohon jarak bisa diekstrak menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Saat terjun langsung ke Desa Tanggedu, Tasya dkk juga melakukan Focuss Group Discussion (FGD) dengan tokoh masyarakat dan masyarakat setempat.


Kesepakatannya, biodiesel dari biji jarak tersebut nantinya akan digunakan untuk memberikan sambungan energi ke sekolah. ’’Saya terharu rasanya melihat masyarakat kita mau berkorban untuk pendidikan anak-anaknya,’’ ucapnya.


Untungnya, para tokoh masyarakat dan Bupati Sumba Timur sendiri juga punya visi yang sama dengan project Tasya, untuk membangun bahan bakar ramah lingkungan tersebut. Bahkan, masyarakat pun sepakat untuk diwajibkan menanam pohon jarak di rumah masing-masing. ’’Alhamdulilah juga sudah dapat sponsor, karena dari Columbia University tidak memanjakan kami, Columbia hanya menanggung transport kami ke sini,’’ ujarnya.


Rencananya, Mei mendatang Tasya dkk kembali ke Sumba Timur untuk melakukan follow-up. ’’Challenge-nya adalah berkomunikasi dengan partner di Indonesia. Saya harus begadang supaya bisa berkoordinasi dengan waktu Indonesia, tapi saya menikmati sekali menjalankan project ini,’’ papar Tasya. (ina/tia)

EDITOR: Dwi Shintia