← Beranda

Makna Sakral Ngunduh Mantu dalam Pernikahan Kahiyang-Bobby

AdministratorMinggu, 19 November 2017 | 21.11 WIB
Kahiyang-Bobby ikut mengantar menuju akad nikah sahabat Bobby di Lampung

JawaPos.com - Ngunduh Mantu merupakan istilah dalam perspektif budaya Jawa yang mengacu pada rangkaian upacara perkawinan adat Jawa. Acara tersebut diselenggarakan setelah selesai acara resepsi perkawinan di lingkungan tempat tinggal pengantin wanita. Ngunduh Mantu (memetik pengantin wanita) diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal pengantin pria.


Tempat tinggal yang dipergunakan sebagai penyelenggaraan ngunduh mantu di Mandailing Natal Tapanuli Selatan Sumatra Utara di lingkungan kediaman keluarga Bobby Nasution (pengantin pria) dihadiri oleh 50 raja. Bobby Nasution memperoleh gelar Sultan Kumala Abdul Rachman Raja, sedangkan Kahiyang Ayu mendapatkan marga "Siregar" oleh pemangku adat Tapanuli Selatan.


Dosen Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Darmoko menjelaskan upacara Ngunduh Mantu di dalam masyarakat Batak Tapanuli Selatan dapat dimaknai sebagai strategi dan upaya manusia untuk menyatukan dirinya dengan kosmos (jagad raya). Persatuan antara manusia dan kosmos sebagai manifestasi penyatuan antara pribadi-pribadi manusia dengan Tuhan.


Darmoko menjelaskan pada upacara pemberian gelar sultan kepada Bobby Nasution dimaknai sebagai upaya masyarakat untuk menjaga keselarasan relasi antara raja (sultan), rakyat, dan Tuhan. Raja (sultan) merupakan kalifatullah (wakil Tuhan di dunia) yang akan memegang teguh etika ketuhanan.


"Perkawinan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution merupakan ekspresi penyatuan diri antara sifat alus atau lembut (halus) dan agal atau wungkul (bongkahan)," kata Darmoko kepada JawaPos.com, Minggu (19/11).


Menurut Darmoko, kehalusan merupakan hakekat dari kekuasaan (kekuatan) yang dapat diperoleh dengan cara pengolahan rasa (batin) secara terus-menerus, sehingga manusia selalu hidup untuk ngudi kasampurnan (mengupayakan diri untuk menuju kesempurnaan hidup).


Kehalusan diperoleh dengan cara melatih pengendalian diri dari gangguan hawa nafsu seperti ngrowot, putih, ngepel, dan lainnya (tapabrata). Di dalam sistem ideologi Jawa kehalusan selalu dapat mengelola (menguasai) ketidakhalusan.


"Dalam konteks perkawinan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution, kelak diharapkan Kahiyang Ayu dapat mengelola, menjaga, merawat, dan mengemong Bobby Nasution (ngrangkani dan ngrengkuh)," ujarnya.


Hal itu digambarkan dalam suatu adegan (peristiwa) dalam pewayangan yang sering disebut Perang Kembang (bambangan melawan cakil). Upacara Ngunduh Mantu terkesan sakral dengan secara rigid merepresentasikan tahapan-tahapan upacara.


"Hal itu membuat sirkulasi finansial ke Medan Sumatra Utara cukup melimpah pada acara tersebut disertai maraknya industri sandang dan pangan," jelas Darmoko.

EDITOR: Administrator