← Beranda

Sifat, Karakter, dan Fase Kehidupan Orang yang Lahir Hari Sabtu, Menurut Primbon Jawa

Intan PuspitasariRabu, 30 April 2025 | 19.32 WIB
Sifat, Karakter, dan Fase Kehidupan Orang yang Lahir Hari Sabtu, Menurut Primbon Jawa (pressfoto/Freepik)

 

 

JawaPos.com - Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri. Ada yang sejak kecil hidup berkecukupan, ada pula yang harus jatuh bangun dulu baru meraih kesuksesan. Nah, dalam Primbon Jawa, kehidupan manusia ternyata mengikuti sebuah pola atau siklus kehidupan yang unik dan salah satunya bisa dilihat dari hari kelahiran. 

Kali ini, kita bahas khusus untuk orang-orang yang lahir pada hari Sabtu. Menariknya, menurut pembahasan pada salah satu video di kanal youtube Panggila Leluhur, berdasarkan Primbon, mereka memiliki siklus yang berubah setiap 12 tahun sekali. Siklus ini mencakup masa keberuntungan (Harjo), masa kesusahan, dan masa ketika doa seolah tak terkabul.

Primbon menyebut orang kelahiran hari Sabtu sebagai pemilik lakuning banyu atau sifat air. Artinya, mereka dikenal fleksibel, cekatan, pandai berdagang, serta mudah beradaptasi. Tapi sisi lainnya, mereka juga sering disalahpahami, bahkan dibenci oleh orang-orang yang tak mengenalnya lebih dekat. Watak bawaan ini akan menjadi modal penting dalam menghadapi siklus kehidupan yang cukup dinamis.

Menurut hitungan Primbon Jawa, masa sulit pertama datang di usia 12–23 tahun. Di periode ini, seseorang yang lahir hari Sabtu akan menghadapi berbagai cobaan yang bisa datang bertubi-tubi. Karenanya, dibutuhkan kesabaran, kekuatan mental, serta hati yang ikhlas dalam menjalani hidup. Setelah masa sulit ini, datanglah masa Harjo di usia 24–35 tahun. Di sinilah keberuntungan mulai mengalir. Rezeki terbuka, kehidupan lebih stabil, dan banyak kesempatan baik muncul. Tapi jangan lupa, masa makmur ini juga harus diiringi dengan rasa syukur dan kerja keras.

Kemudian, di usia 36–47 tahun, datanglah masa yang disebut satruning Allah. Di masa ini, seseorang mungkin merasa doanya tak terkabul, usahanya tak membuahkan hasil, dan jalan hidupnya terasa buntu. Ini adalah masa ujian iman dan kesabaran. Lalu, memasuki usia 48–71 tahun, masa Harjo kembali hadir. Rezeki dan keberuntungan akan kembali mengalir dengan deras, tapi tentu saja hanya bagi mereka yang terus berusaha dan tetap peka terhadap kesempatan.

Sebagai penutup, penting untuk kita sadari bahwa semua siklus ini hanyalah hitungan dan ramalan yang berdasarkan kepercayaan tradisional. Percaya boleh, tapi jangan dijadikan patokan mutlak. Yang terpenting adalah bagaimana kita terus berbuat baik, bekerja keras, dan selalu berserah diri kepada Tuhan. Karena bagaimanapun juga, yang menentukan hidup kita bukan hanya weton atau hitungan, tetapi usaha dan ridho dari Yang Maha Kuasa.

EDITOR: Novia Tri Astuti