JawaPos.com – Saat bencana Tsunami Aceh 2004 melanda, terdapat sebuah wilayah terselamatkan, dimana hanya ada tiga hingga enam korban jiwa saja walau gelombang setinggi 30 meter memporak-porandakan wilayah tersebut.
Wilayah tersebut ialah Simeulue, sebuah kabupaten di Provinsi Banda Aceh. Kabupaten ini terletak di sebuah pulau yang berjarak sekitar 150 Km dari pantai barat Aceh.
Masyarakat setempat memiliki kearifan lokal berupa syair yang dituturkan turun-temurun yang dijadikan sebagai pengingat akan bencana alam tsunami.
Syair tersebut dikenal dengan Smong. Syair inilah yang disebut penyebab sedikitnya korban jiwa di Pulau Simeulue saat Tsunami Aceh 2004.
Syair yang disenandungkan di wilayah Simeulue ini bermula dari gelombang besar yang menghantam pesisir Pulau Simeulue pada 1907 akibat gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter.
Sejak saat itulah Syair Smong menjadi budaya tutur yang menyebar di pulau ini untuk menggambarkan bencana gempa dan tsunami. Syair Smong disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya melalui berbagai kesempatan seperti setelah mengaji di surau, ketika anak membantu orangtuanya, hingga pengantar tidur.
Kata Smong berasal dari Bahasa Devayan, sebuah bahasa asli di Simeulue yang diartikan sebagai hempasan gelombang air laut. Syair ini pun terbagi menjadi beberapa bait.
Enggelan mon sao surito
Inang maso semonan,
Manaknop sao fano
Uwilah da sesewan
Unen ne alek linon
Fasang bakat ne mali,
Manaknop sao hampong
Tibo-tobo maawi
Anga linon ne mali
Uek suruik sahuli,
Maheya mihawali
Fano me senga tenggi
Ede smong kahanne
Turiang da nenekta,
Miredem teher ere
Pesan navi-navi da
Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia
Dengarlah suatu kisah
Pada zaman dahulu,
Tenggelam suatu desa
Begitulah dituturkan
Diawali oleh gempa
Disusul ombak besar,
Tenggelam seluruh negeri
Secara tiba-tiba
Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut,
Segera lah cari tempat
Tempat kalian yang tinggi
Itulah smong namanya
Sejarah nenek moyang kita,
Ingatlah ini semua
Pesan dan nasihatnya
Jika dimaknai, dalam bait pertama, diceritakan seorang orang tua yang sedang mengisahkan kepada anaknya tentang sebuah desa yang tenggelam oleh lautan pada zaman dahulu. Orang tua tersebut mengetahuinya dari orang tuanya dan menceritakan kembali kepada anaknya. Secara konteks, bait ini menggambarkan kisah tersebut didapat dari nenek moyang Pulau Simeulue.
Pada bait kedua Syair Smong, memberikan tanda sebelum gelombang besar menerjang. Pada bait ini menjelaskan sebelum gelombang besar menerjang secara tiba-tiba terjadi diawali sebuah gempa yang sangat kuat.
Dalam bait berikutnya, bait ketiga juga menyebutkan ciri lain terjadinya tsunami, yaitu setelah gempa dan terjadi air laut yang surut. Selain itu menjelaskan bagaimana menghadapi kondisi tersebut dengan segera menuju tempat yang lebih tinggi.
Selanjutnya, bait keempat menjelaskan jika peristiwa tersebut disebut Smong oleh orang terdahulu. Selain itu, pada bagian inilah terdapat pesan untuk mengingat peristiwa ini.
Dalam artikel jurnal yang berjudul ‘Smong dalam Nyanyian Warisan Penyelamat Diri Bencana Tsunami Aceh Simueulue’, fungsi Syair Smong digunakan untuk memberi tahu gejala dan peristiwa tsunami, cara menyelamatkan diri dari tsunami, menjaga keseimbangan kosmologis, fungsi komunikasi, kesinambungan kebudayaan, memperkuat identitas kebudayaan Simeulue, penghayatan agama Islam, hiburan, dan integrasi sosio budaya.
Selain itu, syair yang berangkat dari peristiwa tahun 1907 ini juga mengingatkan peristiwa serupa sangat memungkinkan terjadi kembali dan perlu mewaspadai jika terjadi tanda-tanda alam serupa terlihat.
***