MARAKNYA tren siniar edukasi anti-mainstream merupakan fenomena yang menarik. Apalagi, program itu digawangi figur-figur publik dari berbagai latar belakang profesi.
”Itu membuat masyarakat memiliki sarana untuk mendapatkan edukasi tentang berbagai macam hal,” ujar Poppy Amalya, pakar mikroekspresi sekaligus pegiat media sosial, saat dijumpai Jawa Pos pada Jumat (31/3).
Poppy mengatakan bahwa siniar edukasi itu punya banyak kelebihan. Dari sisi pengikut (follower), siniar fleksibel karena bisa didengarkan dari mana pun. Tidak ada batasan tempat. Sementara, dari sisi pembuat konten (content creator), siniar bisa dibuat tanpa ada batasan durasi. ”Juga bisa mengatur (jadwal) tayangan,” terangnya.
Siniar edukasi dengan gaya komunikasi yang universal bisa diterima lebih banyak kalangan. Apalagi jika topik yang dibahas berkaitan alias relate dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, masalah anak dan kecantikan. ”Kadang-kadang orang malas mendengarkan konten edukasi, maka itu harus dibuat packaging yang menarik,” papar Poppy.
Dari sisi konten kreator, siniar yang didengar banyak orang juga bisa mendatangkan keuntungan. Sebab, ada skema pendapatan (ad sense) yang dihitung dari jumlah viewer atau pendengar. Itu salah satu kelebihan siniar yang menjadi daya tarik para pembuat konten. ”Pasti banyak yang tertarik karena bisa menghasilkan duit tiap bulan,” ungkapnya.
Namun, yang patut digarisbawahi, kelebihan-kelebihan tersebut juga bisa menjadi bumerang bagi konten kreator. Itu terjadi jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh pembuat konten. Pihak tersebut bisa melakukan upaya-upaya hukum.
Selain itu, siniar rawan menjadi sasaran framing. Pernyataan bernada negatif atau salah ucap dalam siniar bisa digunakan untuk membangun persepsi tertentu. Di era medsos seperti saat ini, hal tersebut jamak terjadi. ”Sekarang ini media sosial cepat sekali memviralkan kesalahan bicara orang,” ungkapnya.
Karena itu, Poppy mengimbau para pembuat siniar anti-mainstream, khususnya yang bertema hukum dan politik, untuk ekstrahati-hati. Lebih-lebih karena tahun depan adalah tahun politik. Kesalahan ucap bisa menjatuhkan diri sendiri. ”Itu perlunya sortir sebelum membuat konten atau sebelum diwawancarai, kalau tidak cocok bisa dipilah, jangan asal komen,” imbuhnya. (tyo/c7/hep)