← Beranda

Memelihara Palmas, sang Naga Air

Dhimas GinanjarMinggu, 24 Januari 2021 | 23.16 WIB
EKSOTIS: Palmas Lapradei termasuk jenis ikan palmas yang dapat tumbuh memanjang dengan sirip atas yang kokoh dan tegak seperti seekor monster naga dalam cerita fiktif serta warna gelap menambah kesan garang dan menakutkan. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Baru melihat sirip atasnya saja, semua orang pasti mafhum mengapa palmas dijuluki ikan naga. Buku-buku sirip itu seperti gerigi tajam pada pundak hewan mitos tersebut. Kegarangan parasnya sudah mencuri perhatian penggila ikan predator sejak bertahun-tahun silam.

---

SEBAGIAN besar penghobi memang tertarik dengan palmas karena posturnya yang garang. Mereka gemar berenang atau berdiam diri di dasar air. Gerakan tubuhnya seperti merayap. Saat usianya sudah dewasa dan tubuhnya membesar, polah palmas menjadi sangat kalem. Namun, justru di situlah perangainya sebagai predator terasah.

Dengan tidak bergerak, mangsa-mangsanya seperti ikan-ikan kecil dan udang tak sadar bahwa ada predator di dekatnya. Begitu mendekat, palmas akan dengan sigap melahapnya. Saking cepat dan kerasnya caplokan mulutnya, sampai menimbulkan suara kecipak yang keras.

Dendy Aditya, penghobi ikan predator asal Dukuh Pakis, mengaku teracuni pesona palmas pada 2016. Tak sengaja, ketika jalan-jalan di pasar ikan, tatapannya tertumbuk pada sosok palmas albino. Citranya eksotis karena menggabungkan unsur garang dengan warna tubuhnya yang putih susu. ”Itu yang pertama saya beli. Palmas senegalus albino,” kenangnya sembari memperlihatkan foto ikan tersebut.

Saat itu harga satu ekor palmas senegalus albino masih sangat terjangkau. Satu ekornya yang berukuran 10 sentimeter setara dengan seliter bensin eceran. Namun, sekarang harganya sudah berlipat-lipat. Tak disangka, perjumpaan pertamanya dengan si albino itu membuatnya ketagihan. Rasa penasaran mengantarnya untuk memburu jenis palmas lainnya. Hingga kini, dia memiliki beberapa jenis palmas. Meski sebagian sudah ada yang dijual, beberapa ekor masih bertahan menghiasi tank miliknya. Di antaranya, palmas endlicheri, teugelsi, endlicheri semi-short body, senegalus leucistic, dan endlicheri platinum pirates. Semuanya berukuran di atas 30 sentimeter.

Dari semua koleksinya itu, dia begitu mengidolakan palmas endlicheri platinum pirates. Keunikannya ada pada matanya yang cuma satu seperti tipikal perompak-perompak (pirates) di dunia dongeng. Dendy memiliki palmas yang hanya memiliki satu mata kanan. ”Itu sebenarnya karena kelainan genetik. Tapi, bagus loh. Aneh, tapi sangar,” tuturnya. Bagi dia, hewan asli perairan Afrika itu seperti aset bergerak. Dengan ukuran 27–30 sentimeter, palmas jenis platinum itu sudah dihargai di angka Rp 5 juta.

Baca Juga: Prairie Dog, Anjing Padang Rumput, Sang Pengerat yang Menggonggong

Para penghobi palmas juga memiliki komunitas tersendiri. Baik regional Jawa Timur maupun seluruh Indonesia. Menurut Dendy, komunitas penghobi itu memiliki fungsi kontrol terhadap para anggotanya. Dengan demikian, ketika ada penghobi yang sudah bosan bermain palmas, anggota komunitas lainnya akan mendorong untuk menjual atau melelangnya sehingga tidak sampai dibuang ke sungai.

”Itu penting. Jangan sampai muncul lagi kasus seperti itu. Apalagi, palmas itu termasuk predator yang cukup agresif,” tutur pria yang juga aktif bersama komunitas Unique Polypterus Indonesia (UPI) itu. Membuang ikan predator tersebut ke sungai, sama dengan merusak ekosistem yang sudah terbentuk di sana.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=iYkdSZegf0M
EDITOR: Dhimas Ginanjar