JawaPos.com – Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Banyak orang merasakan ketenangan batin yang lebih dalam selama menjalani puasa Ramadhan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik : apakah puasa benar-benar dapat menurunkan stres? Dalam beberapa tahun terakhir, studi psikologis mulai meneliti hubungan antara puasa, regulasi emosi dan kesehatan mental.
Menurut APA, stres merupakan respons alami tubuh terhadap tekanan fisik maupun emosional. Jika tidak dikelola, stres dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental.
Sementara itu, riset dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa praktik refleksi diri dan pengendalian diri dapat membantu menurunkan respons stres.
Berikut penjelasan ilmiah mengenai bagaimana puasa Ramadhan berpotensi membantu menurunkan stres menurut studi psikologi sebagaimana dilansir dari laman Duke University dan University of Oxford.
- Puasa melatih pengendalian diri dan regulasi emosi
Puasa mengajarkan seseorang menahan dorongan dasar seperti makan dan minum. Latihan ini berkaitan erat dengan kemampuan regulasi diri dalam psikologi.
Menurut publikasi dari Aassociation for Psychological Science, kemampuan self control (pengendalian diri) berhubungan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Individu dengan kontrol diri baik cenderung lebih stabil secara emosional.
Selama Ramadhan, latihan ini berlangsung setiap hari selama sebulan penuh. Hal ini memperkuat kemampuan menghadapi stres dengan lebih tenang.
Ketika emosi lebih terkendali, reaksi terhadap tekanan pun menjadi lebih rasional. Inilah salah satu alasan puasa dapat membantu menurunkan stres.
- Aktivitas spiritual meningkatkan ketenangan
Ramadhan memang identik dengan peningkatan ibadah seperti shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Aktivitas spiritual ini terbukti memiliki efek psikologis positif.
Penelitian dari Duke University menunjukkan bahwa keterlibatan religius berkorelasi dengan tingkat stres yang lebih rendah. Spiritualitas memberikan makna dan harapan dalam hidup.
Selain itu, praktik doa dan meditasi dapat menurunkan hormon kortisol. Kortisol dikenal sebagai hormon stres dalam tubuh manusia.
Dengan meningkatnya aktivitas spiritual selama puasa Ramadhan, pikiran menjadi lebih fokus dan damai. Intinya hal ini membantu menekan kecemasan berlebihan.
- Puasa dan perubahan biologis yang mempengaruhi stres
Selain aspek psikologis, puasa juga berdampak pada sistem biologis. Beberapa studi menunjukkan bahwa puasa memengaruhi respons tubuh terhadap stres.
Menurut tinjauan ilmiah di National Institutes of Health, pembatasan kalori dalam periode tertentu dapat meningkatkan ketahanan sel terhadap stres. Meskipun konteksnya umum, temuan ini relevan dengan pola puasa Ramadhan.
Puasa juga membantu menstabilkan kadar gula darah jika pola makan sahur dan berbuka terkontrol. Namun, manfaat ini tetap bergantung pada pola makan sehat. Mengonsumsi makanan berlebihan saat berbuka justru dapat menimbulkan kelelahan.
- Efek sosial Ramadhan terhadap pengurangan stres
Ramadhan mempererat hubungan sosial melalui buka puasa bersama dan silaturahmi. Dukungan sosial merupakan faktor penting dalam manajemen stres.
Menurut WHO, hubungan sosial yang positif berkontribusi terhadap kesehatan mental. Interaksi yang hangat membantu mengurangi tekanan emosional.
Buka puasa bersama keluarga dengan menu sederhana bisa menciptakan suasana nyaman. Intinya momen kebersamaan ini bisa memperkuat rasa syukur.
- Mindfulness dalam puasa Ramadhan
Puasa mendorong kesadaran penuh terhadap perilaku dan pikiran. Konsep ini mirip dengan mindfulness dalam psikologi modern. Riset dari University of Oxford menunjukkan bahwa mindfulness efektif mengurangi kecemasan dan stres.
Intinya saat berpuasa, seseorang lebih sadar terhadap tindakan dan ucapan. Kesadaran ini bisa membantu menekan respons emosional negatif. ***