← Beranda

Ramadhan Dikenal Sebagai Bulan Penuh Ampunan, Ketahui Asal-usul hingga Makna Bulan Ramadhan

Risma Azzah FatinKamis, 27 Februari 2025 | 22.32 WIB
Ilustrasi puasa Ramadhan. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

JawaPos.com – Bulan Ramadhan sebagai waktu yang paling penting dan suci dalam tahun Islam. Bulan suci ini menandai periode puasa, refleksi, dan pengabdian kepada Allah SWT. Selama bulan kesembilan tahun Hijriyah umat Muslim di seluruh dunia menahan diri dari makan dan minum antara matahari terbit dan terbenam, menggunakan waktu ini untuk membaca Al-Qur’an dan memperkuat hubungan mereka dengan Allah SWT.

Berikut penjelasan terkait asal-usul, makna hingga pelaksanaan ibadah pada bulan Ramadhan, seperti dilansir dari laman Muslim Aid dan Kemenag.

1. Asal-usul bulan Ramadhan

Sesuai dengan kronologi turunnya wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW. Mereka yang meyakini bahwa wahyu tersebut turun selama dua dekade berpendapat bahwa Sawm dan dengan demikian Ramadan, diresmikan sekitar tahun 622 M.t

Saat itu Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya berada di Madinah, di mana iklim yang panas memengaruhi istilah ‘Ramadhan', yang memiliki arti ‘panas yang membakar.’ Aspek historis Ramadan ini memberikan latar belakang yang bermakna bagi perayaannya.

2. Ajaran dan makna bulan Ramadhan

Ramadan merupakan salah satu rukun Islam keempat, yaitu puasa, dimana mendorong umat Muslim untuk mempraktikkan pengendalian diri, rasa syukur, dan kasih sayang.

Melalui ajaran-ajaran ini, umat Muslim memperingati sejarah Ramadan dan pentingnya puasa Ramadan dengan menahan diri dari makan dan minum di siang hari.

Bulan ini mengingatkan mereka tentang nilai disiplin diri, alasan utama mengapa Ramadan memiliki tempat dalam sejarah.

3. Ibadah pada bulan Ramadhan

Meskipun Ramadan merupakan bagian penting dari praktik Islam, ada pengecualian bagi mereka yang tidak dapat berpuasa karena alasan kesehatan atau usia.

Orang-orang yang tidak dapat melakukan puasa diharuskan membayar Fidyah sebagai gantinya. Selain itu, semua Muslim didorong untuk membayar Zakat dan Fitrana, suatu tindakan yang berakar pada praktik awal Ramadan.

4. Adat dan perayaan

Secara tradisional, umat Islam berbuka puasa dengan kurma, sebuah kebiasaan yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW. Isyarat ini bersifat simbolis, yang menghubungkan ketaatan modern dengan praktik aslinya, yang selanjutnya menekankan signifikansi historis Ramadan.

5. Tujuan umat manusia melakukan puasa Ramadhan

Puasa merupakan kesempatan untuk berpaling kepada orang lain, untuk menunjukkan kasih, altruisme, dan kemurahan hati kepada orang-orang yang dekat dengan kita.

Dapat dikatakan bahwa Ramadhan adalah waktu ketika umat Islam di seluruh dunia bersatu, berkumpul di masjid, dan menyerahkan seluruh keberadaan mereka kepada Allah.

Berikut hadits tentang bulan suci Ramadhan yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i.

‎‫عن أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلَّم: أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَ تُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلَّ ، وَفِيهِ لَيْلَةً هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حرم. أخرجه النسائي

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (Hadis shahih, dan diriwayatkan oleh An –Nasa’i)‎

EDITOR: Edy Pramana