← Beranda

Waspada Riya! Jangan Lakukan 11 Hal Ini yang Bikin Ibadah Jadi Sia-Sia

Thalia SalsabilaJumat, 29 Maret 2024 | 15.34 WIB
Ilustrasi orang riya yang memamerkan kepemilikannya. (Freepik).

JawaPos.com - Ikhlas adalah inti dari diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Tanpa itu, ibadah menjadi sia-sia. Syaitan terus berusaha menggoda manusia, terutama dengan pintu riya', yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang.

Riya adalah penyakit hati yang tidak terlihat, selalu muncul tanpa disadari ketika seseorang melakukan amal di mana pun dan kapan pun.

Melansir dari umroh.com, perilaku riya yang samar-samar juga sangat berbahaya dan dapat merusak semua amal ibadah yang kita lakukan, seperti yang disebutkan dalam firman Allah SWT:

Baca Juga: Warga Tak Perlu Khawatir, Polri Jaga Maksimal Seluruh Gereja Selama Tri Hari Suci Paskah

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah : 264).

Riya adalah pelaksanaan ibadah tidak untuk mencari keridhaan Allah, tetapi untuk mendapat pujian dari manusia. Tindakan ini termasuk dalam syirik kecil atau ringan yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam, namun membuat amalannya tidak diterima.

Dosa-dosa kecil yang dilakukan dapat menyebabkan hati yang semula bersih menjadi tertutup oleh dosa tersebut. Karena alasan ini, penting untuk mewaspadai riya karena dapat menyebabkan murka Allah.

Baca Juga: Badan Geologi Paparkan Kondisi Gunung Semeru Setelah Erupsi

Berikut sebelas jenis riya yang tanpa sadar sering dilakukan:

  1. Orang yang melakukan riya melakukan ibadah dengan maksud untuk diperhatikan dan dipuji oleh orang lain. Mereka tidak menunjukkan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah, dan perilaku ini termasuk dalam jenis nifaq.
  2. Seorang hamba Allah yang awalnya beribadah dengan niat ikhlas hanya untuk Allah, namun ketika dipuji oleh orang lain, ia menjadi lebih giat dalam beribadah dan memperbaiki tampilan ibadahnya, maka ini termasuk dalam bentuk syirik yang tersembunyi.
  3. Seorang hamba awalnya melakukan ibadah dengan ikhlas hanya karena Allah SWT, dan ia tetap ikhlas sampai selesai. Namun, ketika ada orang yang memuji ibadahnya, dan ia merasa bangga dengan pujian tersebut, maka hal itu merupakan tindakan riya.
  4. Riya badaniyah adalah bentuk riya di mana seseorang menonjolkan tubuh atau fisiknya, seolah-olah kurus karena banyaknya ibadah kepada Allah SWT, dan menceritakan hal tersebut kepada orang lain.
  5. Riya dalam hal penampilan atau gaya, seperti seseorang yang mengubah penampilannya menjadi tampak sederhana agar terlihat seperti orang yang hidup sederhana atau zuhud.
  6. Riya dalam ucapan, contohnya adalah membanggakan kepemilikan atau kekayaannya.
  7. Seseorang yang melakukan riya akan menunjukkan amalannya kepada orang lain, misalnya dengan menceritakan bahwa ia memberi sedekah kepada fakir miskin.
  8. Riya dengan teman atau orang lain yang mengunjunginya, misalnya saat ia berteman dengan para ustad atau ulama, membuatnya merasa bangga dan mengharapkan pujian dari orang lain, sehingga merupakan bentuk riya.
  9. Riya dengan cara merendahkan dirinya di depan manusia, seperti mengatakan bahwa ia hanyalah manusia biasa yang penuh dosa, dan kemudian merasa bangga saat orang lain memuji atau menyangkal pernyataannya, merupakan bentuk riya.
  10. Seseorang melakukan amal dengan tulus tanpa ingin diketahui oleh siapapun karena tidak menginginkan popularitas. Namun, jika dilihat oleh orang lain, ia mengharapkan jabatan atau penghormatan yang dimulai dengan pengucapan salam.
  11. Menggunakan kesungguhan dalam perbuatan sebagai sarana untuk mencapai keinginan-keinginan, dan meyakini bahwa ketulusan itu akan menjamin bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa-doa yang dipanjatkannya.

Sungguh disayangkan jika amal ibadah kita disertai dengan riya, seperti mengajarkan Al-Quran untuk dipandang sebagai orang sholeh, atau bersedekah untuk dianggap dermawan. Keinginan akan pujian orang lain dapat mengakibatkan murka Allah.

Semoga kita semua dapat menjauhi segala bentuk riya, dan yang penting untuk diingat adalah ketika melakukan segala hal, sebaiknya dilakukan dengan niat yang tulus hanya untuk Allah SWT

EDITOR: Banu Adikara