← Beranda

Waktu Terbaik Mengajarkan Anak Berpuasa Ramadhan

Abdul RahmanKamis, 14 Maret 2024 | 18.23 WIB
Ilustrasi Puasa. Menggali Beberapa Manfaat Puasa Bagi Kesehatan, Ahli Gizi dan Ilmuwan Ungkap Hal Ini.
JawaPos.com - Agama Islam tidak mengenakan kewajiban kepada anak-anak untuk melaksanakan ibadah seperti sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, dan sejumlah kewajiban lainya. Anak baru dikenakan kewajiban ketika dia sudah memasuki memasuki akil baligh.
 
Muhammad Arif Zuhri, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan, anak harus tetap diperkenalkan kepada puasa sejak usia dini supaya mereka dapat melaksanakan ibadah dengan baik ketika mereka sudah dibebankan kewajiban untuk menjalankannya.
 
Pria lulusan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar Kairo Mesir itu membagi tiga tahapan mengajarkan anak untuk melaksanakan puasa atau ibadah lainnya.
 
Baca Juga: Warteg Alfamart ‘Berbagi Kebaikan’ Hadir di Ramadhan 2024 dengan 35 Ribu Paket Buka Puasa di 34 Wilayah Indonesia
 
"Saya kira ada tiga tahapan dalam mengajarkan anak berpuasa," kata Muhammad Arif Zuhri kepada JawaPos.com.
 
Tahap pertama adalah waktu pengenalan. Pada tahap ini, anak mulai diperkenalkan tentang puasa dan sholat ketika si anak mulai memasuki usia Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK) atau usia anak kira-kira mencapai 4 tahun, 5 tahun atau 6 tahun.
 
"Bisa dimulai dengan menceritakan hukum puasa, bagaimana cara pelaksanaan puasa, tujuan dan fungsi puasa, diajak latihan sahur, diajak melakukan puasa meski kuatnya cuma setengah hari atau beberapa jam sesuai kemampuan anak. Anak juga diajak buka puasa bersama," tuturnya.
 
Baca Juga: 8 Golongan yang Diperbolehkan Tidak Puasa Saat Ramadhan, Siapa Saja?
 
Tahapan kedua, ketika anak menginjak usia 7 tahun atau sudah memasuki kelas 1 Sekolah Dasar (SD). Menurut Muhammad Arif Zuhri, pada usia ini, anak mulai diajarkan untuk melaksanakan puasa penuh. Namun tentu harus disesuaikan dengan kemampuan si anak. 
 
"Ketika anak sudah tidak kuat, anak tetap diberikan keleluasaan untuk berbuka dan kemudian diminta untuk melanjutkan puasanya lagi hingga Maghrib tiba," paparnya.
 
Tahapan ketiga adalah ketika anak berusia 10 tahun dan belum memasuki usia Akil baligh. Pada tahap ini, anak sudah dapat dipertegas untuk berpuasa sehari penuh. Diajarkan untuk disiplin makan sahur dan diberikan motivasi untuk dapat berpuasa hingga Maghrib.
 
Baca Juga: Dampak Banjir Semarang, KA Pandalungan Alami Keterlambatan Enam Jam di Stasiun Jember
 
"Jika anak tidak ada udzur syar'i, alasan yang dibolehkan syariat tidak berpuasa, dia tidak puasa hanya karena enggan, maka anak dapat diberikan sanksi yang mendidik," tuturnya. 
 
Lebih lanjut dia mengatakan, tahapan kedua dan ketiga tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah untuk mulai mengajarkan anak melaksanakan kewajiban ibadah sholat ketika anak sudah memasuki usia 7 tahun. Rasulullah SAW bersabda:
 
عَلِّمُوا الصَّبِيَّ الصَّلَاةَ لِسَبْع سِنِيْنَ  واضْرِبُوهُ عَلَيْهَا ابْنَ عَشْرِ سِنِيْنَ
 
"Ajarkanlah anak untuk sholat pada usia tujuh tahun. Dan berilah hukuman yang mendidik jika anak tidak salat ketika ia berusia sepuluh tahun".
 
Baca Juga: KPK Periksa Sekjen DPR dan Kepala Bagian Rumah Jabatan Terkait Dugaan Korupsi
 
Ketika anak sudah memasuki Akil baligh yang ditandai dengan keluarnya darah haid bagi perempuan dan ditandai dengan mimpi basah bagi laki-laki,  anak tersebut sudah dikenakan melaksanakan kewajiban syar'i melaksanakan puasa, sholat, atau kewajiban lainnya.
 
"Jika anak sudah dilatih sejak usia dini oleh orang tua dengan penuh kasih sayang, insya Allah dia akan terbiasa untuk melaksanakan syariat puasa ataupun sholat," tuturnya.
EDITOR: Banu Adikara