← Beranda

Ketika Bollywood Menatap Sinema Indonesia

Mahfud IkhwanSabtu, 12 Oktober 2024 | 18.59 WIB
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Seorang tentara India yang hendak menjemput kekasihnya terjebak di kereta penuh bandit. Ia mesti menghabisi mereka, atau ia yang dihabisi. Kill (2023), judul film tersebut, dipuji tinggi karena memberi standar baru film aksi Bollywood.

TAPI, simaklah pujian lain tentang film karya sutradara Nikhil Nagesh Bhat ini. Slashfilm, sebuah situs kritik khusus film aksi, menyebut Kill sebagai ”The Raid-nya India”. Lebih jauh mereka menulis, ”Tak ada joget-joget Bollywood –ini bukan RRR. Ia lebih mirip dengan film ugal-ugalan Indonesia macam The Night Comes for Us atau The Raid.”

Tak berselisih lama dari rilisnya Kill, dalam genre yang kurang lebih sama, hadir Monkey Man (2024). Film yang dibintangi sekaligus disutradarai aktor Dev Patel ini bahkan lebih kental bau Indonesianya. Tak hanya secara verbal Patel mengatakan The Raid memberinya pengaruh besar, tapi dari ujung ke ujung Monkey Man dipenuhi hal-hal berbau Indonesia.

Meski ber-setting permukiman kumuh Mumbai, Monkey Man sepenuhnya syuting di Batam. Sebagian cukup besar figuran dan krunya terdiri atas orang Indonesia. Bahkan polisi India di film ini diperankan Kalih Dewantoro, sebuah nama Indonesia.

Di luar bahasa Hindinya, juga cerita yang menyinggung soal kasta dan nasionalisme Hindu, saya, seorang penonton film India yang rakus, nyaris hanya menemukan unsur Bollywood dari film ini pada aktor-aktor macam Vipin Sharma, Pitobash, dan Makarand Deshpande. Dan, tentu saja, kemunculan sekilas maestro tabla Zakir Hussain.

Sejujurnya, menonton Kill dan Monkey Man secara berdekatan dan menemukan pengaruh besar film-film Indonesia di sana, disebut atau tidak, rasanya sungguh ganjil. Ya, ada sejenis kebanggaan yang janggal dan dangkal di situ. Tapi, ganjil adalah kata sifat yang lebih mewakili.

Dan sebuah pertanyaan: Apakah arus telah berbalik?

***

Pengaruh India bagi Indonesia tak mungkin dijelaskan dalam satu-dua paragraf, atau bahkan satu kolom; satu perpustakaan penuh buku pun rasanya masih akan kurang. Bahkan sekadar untuk bicara relasi film India dan Indonesia, Anda butuh buku-buku tebal ambisius atau riset telaten dan serius untuk benar-benar bisa menjelaskannya.

Tapi, daripada tak menjelaskan apa-apa, saya akan memilih mengatakan: betapa besar dan dalamnya pengaruh sinema India dalam sinema kita. Dan untuk memberi semacam gambaran paling sederhana, juga paling gampangan, pengaruh musik Hindi ke musik dangdut via film akan sangat membantu kita untuk tahu betapa besar utang itu.

Lata Mangeshkar, tak diragukan, adalah pengaruh besar bagi musik Rhoma Irama. Tapi, tak seperti George Harrison yang melawat ke India untuk belajar siter kepada Ravi Shankar, Rhoma menyimak suara Lata melalui musik film India. Lagu Lata, ”Tera Jana”, yang disebut dalam lirik lagu ”Dangdut” (album Dangdut, 1974), yang dianggap sebagai cikal bakal penyebutan musik ini, diambil dari film Anari (1959). Lagu India lain yang identik dengan Rhoma, ”Sawan Ka Mahina”, yang direkam ulang di album Indonesia (1982), merupakan soundtrack dari film Milan (1967).

Lagu-lagu film India itu tak hanya mengilhami musik Rhoma, tapi juga jelas terlihat dari film-filmnya. Cerita tentang penyanyi melarat yang kemudian sukses, atau hubungan terlarang si kaya dan si miskin, atau cinta segitiga yang berakhir nelangsa, bisa didapatkan dari mana saja. Tapi, film melodrama dengan 5–8 lagu di dalamnya kita tahu ditiru dari mana.

Formula yang dipakai Rhoma ini, yang seperti kita tahu kemudian menjadi fenomena besar di perfilman kita, tentu saja banyak ditiru, dengan musik dangdut sebagai komponen intinya. Sekadar menyebut nama, Elvy Sukaesih, A. Rafiq, Mansyur S., hingga Jaja Miharja juga melakukannya.

Pandangan Pertama (1978) dari A. Rafiq dan Khana (1980) dari Mansyur S. barangkali perlu sedikit digarisbawahi. Lagu ”Pandangan Pertama” yang dipakai sebagai judul film, sangat populer bahkan untuk kalangan di luar penggemar dangdut (pernah dinyanyikan ulang oleh Slank ft Nirina di film Get Married [2007]), sebenarnya disadur A. Rafiq dari lagu ”Cheda Mera Dil Ne Tarana” dari film Ashli Naqli (1962). Sementara Khana tak saja secara musikal sangat bercita rasa irama Ganga, tapi nyaris secara keseluruhan ingin jadi film India. Mansyur tak hanya memacari Khana si ”gadis India” dan mesti mendapat restu Vrendeep, ayahnya, ia juga harus menghadapi musuh bernama Mahipal.

Dengan struktur yang relatif mirip, juga karena unsur dangdutnya, kita bisa juga menyebut dua film pertama Warkop DKI, Mana Tahaan (1979) dan Gengsi Dong (1980), di sini. Di film Mana Tahaan, lagu ”Karena Gengsi” yang dinyanyikan Elvy Sukaesih adalah daur ulang dari lagu ”Mera Joota Hai Japani” dari film Shree 420 (1955).

Film Indonesia yang ke-India-India-an boleh dikata telah habis di awal ’90-an, ketika Rhoma membuat film terakhirnya, Tabir Biru (1993). Namun, secara bersamaan gelombang baru dari India menyapu televisi kita, yang berpuncak pada mania massa pada dongeng cinta Kuch Kuch Hota Hai (KKHH, 1998), dan lebih khusus lagi pada wajah memelas Shah Rukh Khan. KKHH mungkin tak berdaya menghadapi AADC (2002) dan karena itu tak memberi dampak di bioskop, tapi after taste-nya masih terus ngendon di televisi kita hingga hari ini (lebih jauh, silakan baca Bettina David, 2008).

***

Jadi, sekali lagi, apakah arus memang telah berbalik?

Perkembangan teknologi hiburan telah mengubah sinema, proses produksinya, persebarannya, dan cara orang menikmati dalam taraf yang sulit dijelaskan. Berubahnya percaturan dunia, secara ekonomi maupun politik, membuatnya lebih kompleks lagi. Hanya dalam dua dekade semua sudah sepenuhnya berbeda.

Hollywood mungkin masih akan terus menguasai pasar; bagaimanapun di sanalah uang berada. Tapi, kita tahu, mereka sudah kepayahan dengan film-film waralaba yang begitu-begitu saja. Yang lebih jelas, kini mereka bukan satu-satunya pusat dunia.

Perfilman Hongkong yang dulu begitu jagoan secara artistik maupun industri seperti amblas begitu negara-kota ini dikembalikan Inggris kepada Tiongkok pada 1997. Secara bersamaan, film Korea (Selatan) tiba-tiba muncul dari kekosongan sebagai raksasa baru. Tak hanya di kawasan, tapi secara global.

Dalam kondisi seperti inilah saya kira para sineas maupun penonton Bollywood tak bisa lagi mengurung diri dengan khazanah dan cita rasa lama mereka. Sembari terus mencari (lagi) formula yang sukses besar seperti KKHH, mereka dipaksa mengadopsi gaya dar-der-dor dari sinema Selatan yang memang lebih ampuh. Dan setelah 15 tahun terakhir mereka menyontek film-film triller Korea, tiba masanya mereka akhirnya terpaksa belajar bikin film berantem ala Indonesia.

Ya, tentu saja, kita boleh merasa bangga mendapati Bollywood mengambil pengaruh dari sinema kita –sebagaimana kita juga bangga melihat Yayan Ruhian menghajar John Wick atau saat Iko Uwais nongol di Star Wars. Setidaknya, dalam perspektif yang lebih personal, saya akhirnya melihat bahwa tatapan yang sebelumnya hanya searah itu kini berbalas. Dalam satu-dua hal, kini kita sepadan.

Pada saat bersamaan, saya rasa ini juga menjadi kesempatan untuk menatap sinema India lebih baik lagi. Jika selama ini yang kita tatap, dan kita tahu, hanya Bollywood, kita menjadi tahu India punya sinema yang luar biasa beragamnya, juga kaya. Dari film-film Rajamouli (Telugu) atau Lokesh Kanagaraj (Tamil), kita bisa belajar betapa film-film besar bisa digali dari khazanah sendiri. Dari sinema Malayalam kita bisa tahu bahwa kisah-kisah yang dekat dan membumi tak dibenci penontonnya. (*)

EDITOR: Ilham Safutra