← Beranda

Peringatan dari Iwan Fals

Ilham Safutra10 April 2022, 16.30 WIB
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Iwan Fals baru-baru ini meluncurkan sebuah lagu protes dan sebuah lagu cinta yang romantis. Iwan telah kembali, kata beberapa penggemarnya, meski Iwan tidak pernah hilang. Iwan sudah kritis lagi, catat penggemar yang lain, padahal Iwan tak pernah diam dan tunduk. Iwan adalah Iwan.

---

MUSIK country bukan dunia tradisional-feodalistis. Karena itu, tak ada raja di dalam dunia musik ini. Andai ada, maka tak ayal lagi, Iwan-lah rajanya. Lagu-lagunya masih diperdengarkan di radio-radio, di dalam bus, di warung kopi, dan di berbagai acara, serta ditonton jutaan orang di kanal YouTube. Iwan sejatinya adalah raja, tanpa takhta, tanpa mahkota.

Regenerasi dalam genre musik ini berlangsung lancar. Ada banyak musisi muda dengan kemampuan bermusik yang bisa jadi lebih hebat dan cemerlang. Lirik-lirik lagunya juga tak kalah nyinyir, nakal, dan tengil. Mereka kini juga punya jutaan anak muda penggemar. Tetapi, Iwan tetap tak terpinggirkan karena para musisi itu pada dasarnya hanya ”pengganti”-nya. Dan para penggemar muda itu sesekali juga akan merujuk nama Iwan. Tentu karena Iwan adalah salah seorang eksponen, yang ”mbabat alas lebat” untuk tegaknya musik protes ini.

Iwan adalah salah satu ikon anak muda Indonesia tahun 1980-an/1990-an. Ini yang tidak dimiliki anak muda tahun 1960-an dan 1970-an. Jika kita membaca catatan harian Soe Hok Gie dan menonton filmnya, kita tahu bahwa musik protes yang menginspirasi dan menggalang solidaritas mereka adalah Bob Dylan dan Joan Baez.

Kini jika orang ingin membuat dokumentasi tentang anak muda tahun 1980-an dan 1990-an dengan serangkaian aksi protes yang berujung pada tumbangnya Presiden Soeharto, sebagai latar musiknya tak bisa lain adalah lagu Wakil Rakyat, Bongkar, Bento, dan lainnya, di samping lagu Darah Juang serta puisi-puisi pamflet Rendra atau Wiji Thukul. Karena memang lagu-lagu Iwan yang menemani aksi-aksi protes dan happening art yang mereka gelar. Sampai-sampai aksi protes itu berubah menjadi pertunjukan seni tersendiri.

Itulah momen historis ketika Orde Baru berada dalam puncak kekuasaan yang sekaligus puncak paranoidnya sehingga batuk yang bunyinya beda dengan yang digariskan kekuasaan harus diamankan. Pers, partai, intelektual, dan mahasiswa berada di bawah kontrol yang ketat. Lagu-lagu Iwan menjadi kanal penyaluran kemarahan dan protes ketidakpuasan.

Masa-masa ini juga membawa Iwan pada persekutuan dengan banyak musisi dan seniman jempolan di eranya. Dari situ lahir beberapa album yang monumental. Di antaranya Kantata Takwa (1990) yang seluruhnya mengolah puisi-puisi Rendra sebagai lirik lagu-lagunya. Plus dukungan Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan pengusaha Setiawan Djodi. Pentas mereka pada 23 Juni 1990 di Stadion Gelora dianggap sebagai terbesar dan termegah yang pernah digelar di Indonesia.

Sebelumnya (1989) Iwan berhimpun dalam Swami bersama Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri dengan album Swami I dan II, yang menghasilkan lagu legendaris Bongkar dan Bento. Bento benar-benar personifikasi ”setan yang berdiri mengangkang” yang punya bisnis ”menjagal apa saja… yang penting asyik” yang mendorong para anak muda ”…harus ke jalan”.

Tetapi, tidak semua lagu Iwan berisi protes. Lagunya Kemesraan yang dirancang penyanyi balada paling top saat itu, Franky Sahilatua, mungkin jadi sampel ironis. Lirik lagu ini yang berisi suasana tenteram dan mesra ternyata cocok dengan suasana yang dibayangkan kekuasaan, karena itu kerap menjadi lagu penutup di acara para pejabat Orde Baru.

Iwan yang kala itu masih di usia 30-an awal rupanya memang sangat terbuka dengan kolaborasi dan negosiasi karya yang membuatnya dinamis. Dalam album Mata Dewa (1989) ia tampil ”ngerock” yang beda dengan gayanya sebagai penyanyi country. Dalam Swami gaya ngerock-nya makin kuat. Meski demikian, di antara nama-nama besar itu, ia tetaplah bintangnya. Pada kenyataannya, memang sosoknyalah yang menyedot para musisi, penyair, aktor teater, dan pengusaha itu untuk berhimpun. Iwan adalah magnet.

Iwan menemani generasi 1980-an/1990-an melewati masa-masa muda dengan serangkaian protes, kenyinyiran pada keadaan, dan sinisme pada kemunafikan para orang tua. Bagi generasi dekade ini, Iwan adalah kenangan. Bukan sekadar kenangan pada perlawanan, tapi juga pada percintaan. Lirik-lirik lagu cintanya –yang menjadi salah satu kekuatannya– mendedahkan cinta yang apa adanya, sederhana, dan terbuka, namun tak kurang tulus dan indahnya. Cinta yang teramat percaya diri seperti dalam rumusan salah satu lirik lagunya ”cinta jalanan yang sombong menghadapi keadaan”.

Namun, ironisnya mungkin sebagian dari generasi yang dulu menyanyikan Wakil Rakyat (1987), entah saat demonstrasi ataupun di kamar kos, kini telah jadi wakil rakyat yang tak jauh-jauh amat dari gambaran wakil rakyat yang dulu mereka nyanyikan. Sebagian mereka mungkin telah menjadi birokrat dengan watak Tikus-Tikus Kantor (1986) dan sebagian mereka lagi telah menjadi bento-bento kecil. Tentu hal ini bukanlah tanggung jawab Iwan.

Iwan sebenarnya menyuarakan kegelisahan moral. Tugasnya hanya menyerukan dan mengajak. Tak lebih tak kurang. Ia bukan politikus, juga bukan aktivis. Ia tidak akan masuk ke dalam pusaran kekuasaan. Jika suatu saat ia tampak memberikan sinyal dukungan kepada seseorang, atau suatu janji politik, itu bagian dari suara moral, yang mudah saja ia tarik ketika orang itu seturutnya telah menyimpang dan janji politiknya hanya tong kosong.

Jadi, Saudara, Iwan baru saja mengeluarkan album Minyak Goreng. Ia menggumamkan protes ditemani gitar akustiknya. Tapi, suaranya mungkin tak seistimewa dulu lagi. Sekarang orang bisa protes apa saja via media sosial. Selain itu, kekuasaan sekarang bekerja dengan cara berbeda, tak peduli pada suara-suara macam Iwan, dengan memandangnya sekadar seni atau bagian kebebasan berbicara. Lagu-lagu protes, seperti protes sejenis, diterima dan diberi ruang untuk menunjukkan kedemokratisan kekuasaan itu sendiri. Ia jadi aksesori demokrasi. Sebuah era memang telah berlalu.

Tapi, apa pun Iwan telah memberikan peringatan. Bahwa ada masalah serius yang menimbulkan bau anyir dalam rezim kekuasaan ini. (*)

*) HAIRUS SALIM HS, Penulis dan penyuka lagu-lagu Iwan Fals

 
EDITOR: Ilham Safutra