← Beranda

Rhoma Irama, sang Penampil

Mahfud IkhwanMinggu, 10 September 2023 | 16.46 WIB
ILUSTRASI

Di grup WhatsApp kecil yang dibuat untuk mempersiapkan buku saya yang bakal terbit, Kepikiran Dangdut, pemilik penerbitannya, seorang mantan wartawan musik amatir yang kini memilih berjualan buku, mengunggah video pendek yang jelas ditujukan untuk saya.

SEKALI klik saya segera tahu bahwa itu rekaman video Rhoma Irama dari panggung Synchronize 2023 yang baru saja berlangsung. Yang saya tidak tahu adalah lagu yang dimainkannya.

”’Butter’ dari BTS,” sahut anggota grup lain, seorang kritikus musik yang akan mengeditori buku tersebut, memberi tahu saya yang bertanya. Saya, seorang yang merasa paling tahu tentang Rhoma Irama, hanya manggut-manggut di depan layar Android saya. Oh, pantas.

Dan saya kembali manggut-manggut ketika menyadari, pada akhirnya, telah tiba masanya pengetahuan dan pengalaman saya berkait musik Rhoma Irama tak lagi memadai. Saya mandek dengan Rhoma dan Soneta lama, yang sudah tersusun sejak pertama saya mendengar suaranya dari radio atau tape milik tetangga di usia empat atau lima. Sementara Rhoma Irama dan Soneta-nya terus bergerak, dan berubah.

***

Setiap menyaksikan Rhoma Irama di Synchronize, kali ini yang keempat setelah 2016, 2018, dan 2021, dan mendapati betapa besar daya hidup orang ini, betapa masih menyala-nyala semangatnya, saya jadi ingat kekhawatiran-kekhawatiran yang saya tulis tentangnya. Beberapa hal saya pikir benar. Tapi, tak sedikit yang salah besar.

Akhir 2015, dalam catatan Facebook lumayan panjang tentang dangdut koplo (dimuat ulang Indoprogress, 5/3/2016), saya menyebut setidaknya dua hal (buruk) tentang Rhoma Irama dan Soneta: 1) Rhoma dan Soneta-nya semakin menua dan tak lagi membuat lagu baru; 2) seni berpretensi ala Rhoma telah sepenuhnya redup.

Untuk yang pertama, dengan pahit harus saya bilang, nujuman itu sepertinya benar. Selama satu dekade terakhir, tak ada lagu ”baru” Rhoma Irama yang ”lumayan” melekat di kepala kecuali ”Azza” dan ”Gala Gala”. Jika Wikipedia Indonesia tak salah, keduanya rilis di album yang sama, Azza, 2010. Artinya, sudah 13 tahun lalu. Lagu Rhoma paling baru, ”Virus Corona” (2021), sebagai respons Rhoma atas Covid-19, mesti jujur dikatakan berada di bawah standar. Bukan saja terdengar repetitif dan rutin, tapi terutama inferior baik secara lirik maupun musik jika dibanding, misalnya, dengan lagu-lagu Trilogi Musibah (”Malapetaka”, ”Bencana”, dan ”Baca”, tiga lagu yang belakangan sering dibawakan secara medley di panggung).

Sisanya saya kira adalah lagu-lagu aransemen ulang. Biasanya dengan disertai perubahan judul dan lirik. Dan, dalam hemat saya, rasanya tak ada yang bisa melampaui versi awalnya. Lagu ”Tulus Hati Luhur Budi” yang dinyanyikan ulang bersama Rita Sugiarto bisa dipakai sebagai gambaran. Rhoma-Rita tetap akan jadi duet favorit saya dibanding duet-duet lain, tapi untuk lagu yang sebelumnya berjudul ”Andai” (OST Menggapai Matahari 2, 1986) ini keduanya tak bisa menggeser versi solo Riza Umami, yang dengan sempurna menggambarkan kekasih yang terus mencoba tegar dengan cintanya meskipun sedang rentan. Pengubahan dan pemenggalan lirik, terutama di bagian akhir lagu (versi pertama), juga memangkas sebagian besar magis lagu ini.

Tapi, apakah seni berpretensi ala Rhoma makin meredup? Barangkali itu salah satu kalimat paling konyol yang pernah saya tulis.

Sebagai performer, seorang penampil, Rhoma seperti punya sembilan nyawa. Ia tak ada matinya. Ketika ambil bagian di Synchronize, misalnya, Rhoma dan Soneta tak pernah semata sebagai ”salah satu penampil”; ia adalah bagian yang paling menyita perhatian. Jauh dari musisi gaek yang mencoba mengais masa jayanya yang sudah silam, Rhoma menunjukkan dengan gagah tentang siapa diri dan musiknya di depan audiens yang bukan penggemarnya.

Kesadarannya untuk terus terhubung dengan audiens yang berbeda generasi dengannya dan generasi yang jadi basis penggemarnya membuat Rhoma terus menyesuaikan diri dengan (atau bahkan menunggangi) zaman yang berubah. Ia membuat podcast dan saluran YouTube sendiri yang ia beri nama Bisikan Rhoma. Itu membuatnya tak hanya terus terhubung dengan para penggemarnya, baik yang lama maupun yang baru, melainkan juga menunjukkan sisi-sisi dirinya yang jarang terekspos.

Di Bisikan Rhoma, Rhoma sama sekali tak mengurangi hasrat purbanya untuk membuat dunia jadi lebih baik. Di antara pertanyaan-pertanyaan kepada tamu, ia mendesakkan nasihat dan dalil-dalilnya, seperti ia dulu lakukan di film-filmnya. Itu menguatkan citranya selama ini sebagai seorang klerik. Namun, pada saat yang sama, di podcast ini Rhoma juga menunjukkan bahwa ia adalah seorang kosmopolit yang tak dibuat-buat, yang bisa dan biasa bergaul dengan siapa pun. Gambaran ini terutama sangat menonjol ketika ia mengundang para musisi ke meja siniarnya, lebih khusus lagi musisi-musisi dari genre berbeda.

Hingga tulisan ini dikerjakan, Bisikan Rhoma telah mencapai episode ke-93, dengan tamu terakhir adalah gitaris legendaris Ian Antono, yang identik dengan God Bless, entitas musik yang selama ini dianggap berseberangan dengan musik Soneta. Tak semua episode menarik, namun saya bisa bayangkan betapa melimpah footage yang bisa jadi sumber data bagi para sarjana yang akan mengulik diri dan musik Rhoma kelak.

Tapi, etalase sembilan nyawa Rhoma Irama yang sesungguhnya tetaplah panggung, ketika ia memakai kostum kebesarannya lengkap dengan gitar menyilang di dada. Rhoma, dan musiknya, masih sama perkasanya dengan saat ia dulu memulainya. Di sini kita juga bisa saksikan keluwesan dan keliatan Rhoma Irama dan Soneta menghadapi zaman.

Rhoma, terutama sejak berkonflik secara terbuka dengan Inul, dicitrakan sebagai seorang yang bukan saja fanatik dalam beragama, tapi juga dalam bermusik. Dan saya pikir citra itu masih terus direproduksi para kritikusnya. Tapi, saya juga mengingat, di saat yang kurang lebih bersamaan, tepatnya awal 2003, Rhoma dan Soneta justru naik panggung bersama Slank, salah satu band terbesar Indonesia yang pernah ada. Sejak itu Rhoma secara berkala tampil atau terhubung dengan band-band atau musisi-musisi mapan Indonesia, seperti Gigi, Ahmad Dhani, Eross, Ari Lasso, Ungu, hingga Ardhito Pramono.

Pada era ketika para penyanyi solo merajalela, cara Rhoma dan Soneta menjaga eksistensinya masih relatif sama. Dalam rentang tiga tahun ini, misalnya, Rhoma Irama tampil sepanggung dengan Via Vallen atau Nella Kharisma hingga Denny Caknan, nama-nama paling populer di musik pop Indonesia belakangan.

Dalam beberapa titik, ”keluwesan” Rhoma dan Soneta terasa terlalu jauh, terutama untuk orang yang selera musiknya dibentuk oleh musik Rhoma Irama macam saya. Saya jadi waswas ketika Soneta memainkan ”Butter”-nya BTS secara live di sebuah stasiun TV awal tahun 2023 ini. (Bahkan untuk itu, Rhoma mesti mengubah lirik lagu ikonik ”Musik” dari ”yang pop” ke ”K-pop”.) Penampilan itulah yang kemudian diulanginya di Synchronize 2023. Di pentas yang sama, Rhoma Irama dan Soneta juga berkolaborasi dengan Dipha Barus, yang nama dan musiknya sama asingnya untuk saya.

(Kecuali untuk kolaborasinya dengan Dewa Budjana dalam ”Smararindu” yang relatif lebih mudah saya telan) saya rasanya butuh waktu untuk ”menerima” ini semua. Namun, secara bersamaan, saya jadi mengingat kenapa (almarhum) Bill Frederick menyebut Rhoma tak semata artis (seniman), melainkan juga entrepreneur (pengusaha). ”Pak Haji selalu mampu menemukan cara untuk tetap relevan,” demikian tulis sebuah komentar di YouTube.

***

Menuanya Rhoma dan Soneta dan perkembangan dangdut membuat saya sering berpikir terlalu apokaliptik. Itu membuat semua jadi terlihat gawat. Padahal tak semuanya berdasar. Lebih banyak lagi yang emosional.

Lagi pula, jelas sekali Rhoma dan musiknya, juga dangdut secara umum, tak seringkih yang dikira. Dan jika pun benar demikian, tampaknya Rhoma tak akan begitu saja membiarkannya.

”Get it, let it roll,” teriak Rhoma, menirukan BTS.

Saya tak benar-benar yakin apa maksudnya. Tapi, saya merasa semuanya baik-baik saja selagi Rhoma Irama masih memainkan gitarnya. Mari menikmatinya selagi bisa. (*)

---

MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

EDITOR: Ilham Safutra