JawaPos.com - Seiring perkembangan zaman, wajah suatu kota pun berubah. Seperti halnya Jogjakarta. Di balik predikatnya sebagai Kota Pendidikan, geliat perekonomian masyarakat Jogja pun terus bertumbuh dengan banyaknya pendatang.
Wajar apabila dalam perjalanannya, muncul mal, hotel, pusat perbelanjaan dan gedung pencakar baru sebagai potret menuju Kota Metropolitan.
Namun seperti biasa, banyaknya pusat perbelanjaan baru yang lebih modern menimbulkan pergeseran, seperti kebanyakan di daerah lain. Pasar tradisional yang dulunya menjadi andalan masyarakat, mulai bergeser dan ditinggalkan lantaran dianggap kurang memadai. Pengap, bau dan kondisi pasar yang kurang layak menjadi pemicunya.
Salah satunya terjadi di Pasar Legi Kotagede, Jogjakarta. Meski sudah berumur ratusan tahun dan menjadi salah satu pasar tertua di Jogjakarta, namun kondisinya tidak jauh berbeda dari tahun ke tahun.
Pasar tradisional yang terletak di Purbayan Kotagede ini seolah menjadi saksi bisu perubahan Jogja dari masa ke masa. Meski dari luar bangunannya terlihat mentereng, namun pemandangan berbeda terlihat kentara di dalam pasar tersebut.
Atap pasar yang terbuat dari seng hingga rembesan air dari atap pasar kerap menjadi pemandangan pasar tersebut ketika hujan turun. Tak ayal kondisi tersebut dikeluhkan oleh pedagang yang mendiami pasar tersebut.
"Kalau untuk renovasi bangunan, sudah lama sekali. Sampai lupa. Pasar-pasar lain di Kota (Jogja) sudah pada direnovasi, kalau ini belum," kata Rumadi, pria berumur sekitar 60 tahun yang menemani istrinya berdagang di pasar Legi, Kota Gede, Kamis (15/3).
Rumadi yang tinggal di daerah Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul itu juga mengatakan, hanya bangunan luarnya saja yang terlihat bagus. Kelihatan dengan tembok permanen. Namun di dalam pasar, atapnya masih memakai seng, sering ketika hujan, airnya masuk kemana-mana. "Yang paling terganggu itu orang yang belanja, kalau hujan deras bocor," ucapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Mbah Jum, 50, pedagang sayuran di Pasar Legi Kotagede. Selama ini, pihaknya hanya terus dijanjikan adanya perbaikan atap pasar. "Tapi perbaikannya, kata petugas nanti kalau sudah ada tempat relokasi," katanya.
Karena atap yang bocor itu Mbah Jum kerap kelimpungan ketika turun hujan. Maklum dagangan sayurnya menjadi cepat busuk lantaran terpapar air hujan. Lantaran tidak ada pembenahan, pelanggannya kian hari kian menyusut.
Bahkan selepas pukul 10.00 WIB, kondisi pasar menjadi sangat sepi dan banyak pedagang yang memilih untuk beristirahat. Yang rame itu kalau pas pasaran, pedagang burung di luar. Kalau di dalam sepi," ucapnya.
Tidak hanya kondisi di dalam pasar yang dikeluhkan para pedagang, kondisi luar pasar juga menjadi pekerjaan rumah bagi dinas terkait. Pasalnya kondisinya semrawut dan seringkali terlalu padat sehingga semakin semrawut.
"Terutama saat pagi jam sekolah, sama pas pasaran Legi," ucap Slamet, 40, warga Tamanan Banguntapan Kabupaten Bantul yang rumahnya tidak jauh dari pasar tersebut.
Pihaknya berharap pihak terkait segera merevitalisasi pasar tersebut. Pasalnya selain didiami ratusan pedangan juga menjadi urat perekonomian warga Jogja. "Mosok bangun pasar saja tidak mampu," pungkasnya.