← Beranda

Menjajal Rute Anyar Feeder Trans Jatim Mojokerto–Batu via Jalur Ekstrem Cangar, Selama Pelatihan Sopir Diminta Melintas Enam Kali Sehari

Retno Dyah AgustinaRabu, 31 Januari 2024 | 01.35 WIB
JALUR NAIK-TURUN: Minibus feeder Trans Jatim saat melewati kawasan Cangar yang menghubungkan Kabupaten Mojokerto dengan Kota Batu, Jawa Timur (24/1).

Rute Cangar yang menghubungkan dua destinasi wisata populer di Kabupaten Mojokerto dan Kota Batu melewati jalur sempit, naik-turun, dan tikungan tajam, tapi di sisi lain juga penuh pemandangan beragam. Tempat istirahat paling ramai di desa adat yang terkenal dengan nasi jagungnya.

RETNO DYAH AGUSTINA, Kabupaten Mojokerto-Kota Batu

NAMANYA saja sudah cukup membuat keringat dingin mengucur: Jurang Kutukan. Sebuah titik sempit, hanya cukup satu kendaraan, di jalur Cangar yang menghubungkan Kabupaten Mojokerto ke Kota Batu (dan sebaliknya), Jawa Timur.

Pada Rabu (24/1) siang pekan lalu itu, dari feeder Trans Jatim yang Jawa Pos naiki, tampak satu kendaraan dari arah Batu mundur untuk memberi jalan kendaraan dari arah Mojokerto. Ada sejumlah relawan yang membantu.

Para relawan memang secara bergantian berjaga di titik tersebut. Mereka mengatur pergiliran arus lewat kendaraan dari kedua arah.

”Kalau dari sisi satunya ada kendaraan, kita memang mesti berhenti,” ucap Hoistiadi, petugas Dinas Perhubungan Jatim yang bertugas di rute tersebut.

Pada Rabu pekan lalu itu, minibus feeder Trans Jatim bersama PO Bagong yang melintasi rute Mojokerto–Batu via Cangar resmi diluncurkan di Terminal Kertajaya, Mojokerto. Dari Mojokerto ke Batu lewat Cangar bisa memangkas jarak sekitar 24 kilometer ketimbang harus memutar dulu melalui jalur reguler via Malang.

Pengguna bisa naik minibus yang melayani jarak total 74 kilometer tersebut di Terminal Kertajaya, Mojokerto. Beroperasi dari pukul 05.00 hingga 15.00. Begitu pula keberangkatan dari Terminal Batu.

Harga tiket Rp 30 ribu. Bisa dibayar secara tunai pas di jalan atau pesan di loket terminal. Kalau mau cashless, harus di terminal atau pesan dulu di OTA (online travel agency/sementara baru Traveloka).

”Keberangkatannya tiap satu jam sekali,” ucap Kepala Dinas Perhubungan Jatim Nyono.

Jalur yang berada di lereng Gunung Welirang dan Gunung Anjasmoro tersebut menghubungkan dua destinasi wisata populer di Jawa Timur, bahkan nasional: Pacet, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Batu. Sebuah jalur paket lengkap. Ada jalanan landai ala perkotaan. Ada pula tanjakan, turunan, serta tikungan khas kawasan pegunungan.

Pemandangannya juga beragam. Hutan, tebing, hingga hamparan sawah. Titik wisata air terjun tersebar di beberapa titik. Sebuah pilihan mengasyikkan bagi penggemar perjalanan darat.

Tapi, di sisi lain, Cangar juga salah satu jalur ekstrem di Jawa Timur. Setidaknya ada empat tikungan tajam yang langsung menanjak.

Dari kawasan Pacet, jalur mulai menanjak dan cenderung menyempit. Perjalanan dilanjutkan hingga ke area Sendi yang berada di tengah-tengah antara Pacet dan Batu. Perumahan warga beralih jadi rimbunnya pepohonan. Kondisi jalan juga kian meliuk.

Bagi yang mudah mabuk, waspada! Obat antimabuk jadi bekal wajib. Meski minibusnya nyaman dan adem, kondisi jalan jelas tak bisa diakali.

”Untungnya, pengemudinya juga pinter. Nyetirnya alus gitu,” ucap Budi Darmawan, salah seorang penumpang yang satu armada dengan Jawa Pos, di sela perjalanan.

Para pengemudi rute tersebut memang dipilih dengan syarat ketat. Direktur PO Bus Bagong Budi Susilo mengatakan, sopir wajib memiliki pengalaman di rute ekstrem.

”Dari Dinas Perhubungan Jawa Timur juga minta bukan sekadar punya SIM sekian tahun saja,” katanya.

Heriyanto, salah seorang pengemudi, mengaku menjalani pelatihan yang tak main-main. ”Kami diminta pulang pergi (PP) rute (Mojokerto–Batu) sebanyak enam kali sehari,” ucapnya.

Latihan itu supaya mereka hafal betul dengan setiap liukan rute Cangar. ”Terutama tikungan-tikungan sulit seperti Tikungan Love selepas kawasan Sendi,” imbuh Heri.

Tikungan Gothekan juga jadi perhatian karena tingginya angka kecelakaan di sana. Heri mengaku sempat deg-degan saat terpilih. Tapi, bekal selama latihan membuatnya percaya diri membawa belasan penumpang tiap perjalanan.

Tantangan bukan hanya ada di dua tikungan tadi. Sepanjang rute Cangar menuju Batu, jalanan diisi lajur sempit, tepi jurang, dan area rawan longsor. Rute tersebut juga minim penerangan.

Karena itu, operasional feeder dihentikan jelang sore. Di musim hujan, turunnya kabut juga jadi tantangan tambahan bagi pengemudi.

Demi keamanan pengendara, puluhan relawan sudah lama menjadi kuncen di rute tersebut. Setelah melewati kawasan Sendi dan Bukit Gajahmungkur, mereka sigap memberi aba-aba bagi pengemudi.

Baca Juga: Trans Jatim Koridor V Rute Bangkalan- Surabaya Masih Tahap Sosialisasi dan Uji Coba

”Dengan dibukanya rute ini, relawan juga dibekali tenda, senter, hingga rompi keselamatan. Supaya pengendalian lebih optimal,” imbuh Hois.

Sekitar 15 menit setelah meninggalkan Jurang Kutukan, pemandangan berganti hamparan sawah di kedua sisi. Menambah warna-warni sisi rute Cangar.

Perjalanan Mojokerto–Batu via Cangar pada kondisi normal diperkirakan memakan waktu dua jam. ”Itu kalau tidak menghitung waktu istirahat. Sedangkan, kita wajibkan istirahat supaya kondisi armada tetap kondusif,” ucap Hois.

Ada tiga titik perhentian armada minibus di rute Mojokerto–Batu. Masing-masing di Sendi, Wisata Air Panas Cangar, dan Wisata Air Panas Watu Ondo. Sebaliknya, dari arah Batu, perhentian hanya di kawasan Sendi dan Wisata Air Panas Cangar.

Sendi adalah desa adat sekaligus tempat beristirahat paling ramai. Tersedia banyak tempat makan dengan sajian paling khas nasi jagung. ”Di Watu Ondo, titik berhentinya hanya ada di satu sisi. Tidak memadai untuk berhenti dari dua arah,” ucapnya.

Jika dijumlahkan dengan pemberhentian, perjalanan minibus Mojokerto–Batu bisa memakan waktu 3 sampai 3,5 jam. Menantang sekaligus mengasyikkan karena lengkapnya paket sajian di sepanjang rute. (*/c6/ttg)

EDITOR: Ilham Safutra