Orang-Orang Muda yang Menggerakkan Desa dengan Mengolah Hasil Hutan
Aza Zulva Maula bersama anak-anak muda sedesanya di Batang menggarap produk nonpangan dari kayu yang tak terpakai. Ria Hartini tiap pekan masuk-keluar hutan di Muara Enim untuk menanam, mengambil hasil panen, atau sekadar menyiangi rumput.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
---
SELEPAS wisuda, Aza Zulva Maula memilih kembali ke desanya di Batang, Jawa Tengah, karena dia tahu apa yang akan dilakukan di sana. Bersama anak-anak muda sedesanya, dia menggarap produk nonpangan.
’’Kami bikin craft dari kayu pinus yang sudah tidak terpakai. Biasanya habis ditebang sisanya buat kayu bakar, ini kami buat seperti gantungan kunci, tatakan gelas,’’ tutur Aza di sela menghadiri Konferensi & Kongres Perempuan dan Generasi Muda Penjaga Hutan di Surabaya pekan lalu (8/11).
Oktober lalu, perempuan 24 tahun tersebut belum genap sebulan bergabung dengan KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) Melati Craft Sejahtera. Hampir semua anggota Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Pesantren, Batang, tempat tinggalnya, juga berisi anak-anak muda. Itu yang membuatnya kian nyaman berkiprah karena merasa nyambung.
’’Kebetulan kalau di BUMDes aku terlibat mengurus coffee shop desa. Jadi, ada yang bagian nanam kopi, mengolah terus di-roasting, lalu dijual di tempat kami sendiri,’’ tutur Aza yang baru diwisuda Mei lalu.
Di Desa Penyandingan, Muara Enim, Sumatera Selatan, Ria Hartini dan para anggota KUPS setempat juga sepekan sekali masuk-keluar hutan untuk menanam, mengambil hasil panen, atau sekadar menyiangi rumput. ’’Hutan adat kami namanya Gimbe Pramunan itu 43 hektare, tapi baru digarap bagian depannya saja. Tebing ke bawah belum tersentuh,’’ ujar Ria yang juga ditemui Jawa Pos di sela Konferensi & Kongres Perempuan dan Generasi Muda Penjaga Hutan.
Desa Ria termasuk salah satu desa yang memperoleh izin perhutanan sosial untuk mengembangkan badan usaha lewat KUPS. Mulai menanam komoditas sayur hingga membuat kerajinan dari kayu atau bambu, lalu memasarkannya. ’’Saat ini kami sedang menanami kacang puri atau kacang tanah, tapi belum panen,’’ imbuh Ria.
Tak hanya mengambil dan mengolah hasil hutan. Mereka juga melakukan regenerasi dengan menanam kembali. Jadi, tidak sampai gundul. ’’Misal tadi ambil bambu untuk dibuat anyaman, sebelahnya harus ditanami lagi. Kalau kita ambil 1, kita harus tanam 2. Supaya bisa dipakai anak cucu kita nanti,’’ kata perempuan 33 tahun itu.
Tiga tahun terlibat mengurus lingkungan desanya membuat Ria jadi orang kepercayaan kepala desa. Apalagi, dia telah banyak mengikuti pelatihan. ’’Sebagai yang termuda di KUPS, saya diminta mengajak anak-anak yang lebih muda lagi. Karena mereka-lah yang jangka panjang meneruskan,’’ tuturnya.
Tidak sulit bagi Ria mengajak anak-anak muda di desanya untuk berpartisipasi dalam menjaga dan mengolah hutan. Kini, para anggota karang taruna itu bahkan memiliki lahan bagian mereka sendiri di hutan untuk digarap. Ria tinggal memberikan masukan dan membimbing. ’’Yang susah itu mengingatkan untuk tidak buang sampah sembarangan. Saya pikir kalau mau hutan itu lestari, sampah juga harus dikurangi,’’ lanjutnya.
Dia pun giat menyuarakan dampak membuang sampah di alam bebas. Termasuk menginisiasi pengumpulan sampah untuk diolah. Usahanya tak selalu mulus. Bicara dengan masyarakat desa tidak semudah bayangannya. Beberapa kali Ria mendapat cemoohan, tapi tak dia gubris.
Padahal, awalnya Ria mengaku tak tertarik dengan kegiatan-kegiatan itu. Apalagi terlibat dalam KUPS. ’’Pas sudah jalan, ternyata sesenang itu berkontribusi untuk kemajuan desa, walaupun hanya perbuatan kecil,’’ ungkapnya.
Aza bersama rekan-rekannya di KUPS Melati Craft juga tengah semangat-semangatnya mengikuti berbagai pelatihan. Kerajinan dari kayu pinus baru pemanasan saja. ’’Semoga bisa turut memajukan desa,’’ harapnya. (*/c18/ttg)