Semula keduanya tak pernah berpikir akan dirumahkan. Apalagi Kiki. Sebab, sebelum pandemi, okupansi hotel tempatnya bekerja sedang naik. Namun, Juni tahun lalu dia harus menerima kabar tidak enak. Pengelola tak mampu lagi membayar gaji karyawan. Kiki pun dirumahkan dan sempat menjadi tukang ojek online.
Begitu juga yang dialami Adis. Awal pandemi membuat hotel tempatnya bekerja bangkrut. Dia dan karyawan lain dirumahkan. Usaha sampingan tour and travel pun mandek. Berbekal sedikit ilmu memasak yang dimiliki, dia lantas membuka jasa pemesanan makanan online. ’’Meski beda hotel, kita tetap saling komunikasi dengan Pak Kiki,’’ kata Adis. Karena saat itu Kiki masih menjadi ojol, mereka bekerja sama. Adis bagian masak dan Kiki yang mengantarkan makanan.
Mereka saling curhat dan akhirnya muncul ide baru. Apalagi sekitar September tahun lalu banyak warung yang sudah buka. Berbekal nekat dan modal seadanya, Adis dan Kiki membuka warung bernama Pawon Mbokdis.
Baca juga: Kisah Para Chef yang Buka Bisnis Kuliner Sendiri di Masa Pandemi
Modal yang mereka keluarkan tidak banyak. Hanya sekitar Rp 3 juta. Uang itu hasil patungan berdua. Kiki menyatakan, modal tidak banyak karena mereka memanfaatkan lahan kosong di depan rumah Adis. Mereka berdua sepakat berbagi tugas. Kiki menangani urusan dapur. Adis bagian kasir dan pemasaran.
Menu yang disajikan adalah makanan rumahan. Mulai nasi goreng, bakmi, capcai, sup, hingga rica-rica. Harganya relatif murah, rata-rata Rp 12 ribu per porsi. ’’Tempat memang kaki lima, tapi rasa bintang lima,’’ terang Kiki.
Membuka usaha di tengah pandemi tidaklah mudah. Adis menuturkan, tahun 2020 serasa hanya Januari dan Februari. Kemudian, langsung bertemu Desember. Sisanya adalah bulan yang penuh ketidakpastian. Nasibnya terkatung-katung dan tidak ada kejelasan kapan bisa kembali bekerja. Meski begitu, tidak ada alasan untuk berhenti melangkah. Sebab, tagihan dan kebutuhan hidup terus berjalan. Saling menguatkan adalah cara terbaik untuk tetap berdiri. ’’Kekerabatan kami dengan semua orang hotel memang dekat,’’ ucap Adis.
Baca juga: Sangu Disinfektan hingga Blusukan
Babat alas memang tidak mudah. Meski untuk masalah rasa sudah juara, mereka tetap harus berjuang. Terutama untuk mengenalkan menu kepada pembeli. Kesabaran menjadi kunci bagi mereka. Yang awalnya omzet mereka hanya Rp 4 juta per bulan sekarang bisa tembus sampai Rp 10 juta per bulan.
Berbagai cara dilakukan untuk mendongkrak penjualan. Mulai upload menu di media sosial hingga bergabung di layanan ojol. Pandemi tidak hanya membuat Adis dan Kiki lebih tegar. Tapi, juga mengerti arti sebuah pertemanan.