← Beranda

Tiga Murid SMAN 6 Surabaya Jadi Panelis di Acara Decarbonize UNCC

Ramadhoni Cahya Candra WibawaSelasa, 14 November 2023 | 22.49 WIB
SIAP BERANGKAT: Dari kiri, Kepala SMAN 6 Surabaya Mamik Pujowati, Audre Rizki, Vania Winola Febriyanti, Raia Luthfia Herasmana, dan guru pendamping Dian Ariani pada Jumat (10/11) lalu.

Siswa SMA Negeri 6 Surabaya terpilih sebagai delegasi pada perhelatan Decarbonize. Tiga pelajar perempuan bakal mewakili Asia serta Indonesia pada acara yang digelar United Nation Climate Change (UNCC) itu.

RAMADHONI CAHYA C. Surabaya

PADA Desember mendatang, tiga murid SMA Negeri 6 Surabaya terbang ke Dubai, Uni Emirat Arab. Mereka akan mengikuti acara Decarbonize yang digelar United Nation Climate Change (UNCC). Acara yang menyoroti perubahan lingkungan itu bakal berlangsung dua pekan sejak Jumat (1/12).

Tiga murid tersebut adalah Vania Winola Febriyanti, Raia Luthfia Herasmana, serta Audre Rizki. Mereka terpilih sebagai peserta diskusi panel (panelis) pada perhelatan itu. Vania menjadi perwakilan panelis dari lingkup Asia. Dua rekannya, yakni Raia dan Audre, menjadi panelis yang berfokus pada masalah lingkungan di Indonesia.

’’Decarbonize itu program berbasis sekolah multibahasa terbesar di dunia yang bertujuan untuk pendidikan, advokasi, seni, dan aksi perubahan iklim,” kata Vania Jumat (10/11) lalu.

Acara itu diikuti perwakilan dari 6 benua, 75 negara, dan 100-an sekolah. Mereka pun patut berbangga bisa menjadi perwakilan Asia asal Indonesia.

Decarbonize bertujuan menyatukan suara dan pengalaman anak-anak usia 5–18 tahun. Terutama terhadap perubahan iklim untuk meningkatkan empati, pengambilan perspektif dan rasa memiliki, serta tindakan nyata.

’’Memastikan keterlibatan dan pemberdayaan generasi muda di sektor lingkungan,” jelasnya.

Hasil konferensi itu bakal menelurkan manifesto global. Yakni, seruan atau ajakan bagi pemangku kepentingan akan perubahan iklim di seluruh negara.

Dengan begitu, dapat memberikan langkah maju yang nyata. Baik melalui tindakan maupun kebijakan baru di setiap negara. Tak terkecuali bagi Vania, Raia, dan Audre yang bakal berbicara isu lingkungan di Indonesia dan Asia.

’’Misal, di Indonesia itu polusi udara cukup tinggi. Yang ternyata penyebab utamanya bukan dari kendaraan, melainkan pabrik dan pembangkit listrik tenaga uap,” paparnya.

Riset kondisi lingkungan itu dilakukan melalui beragam sumber. Baik buku, jurnal terverifikasi, maupun pemberitaan media berbasis data. Riset tersebut tidak mudah dan berlangsung sejak awal September.

Raia mengatakan, awal mula mendaftar merupakan inisiasi pihaknya yang ternyata mendapat dukungan dari sekolah. ’’Dari 100-an orang yang mengikuti Zoom awal, hanya ada 40 orang yang tersisa,” terang dia.

Mereka pun optimistis mampu memaparkan dengan baik. Terlebih, mereka telah melakukan berbagai persiapan. Bahkan, tugas esai awal yang terbilang paling susah berhasil diatasi.

Yakni, mengenai 10 rancangan dan tantangan perubahan iklim di masa mendatang. Mulai pemanasan global, upaya penurunan suhu, hingga polusi udara. ’’Tidak tahu ada juara atau tidak, kami menargetkan kontribusi ini membawa dampak positif,” lanjut Audre.

Tiga murid itu tak sekadar bicara tanpa solusi nyata. Mereka memiliki inovasi baru, yakni pengolahan sisik ikan menjadi plastik. Hanya, belum ada contoh nyata lantaran terkendala biaya yang cukup tinggi. Mereka berharap ada pemangku kepentingan yang tertarik dengan ide tersebut dan menerapkan di negaranya. ’’Jadi, bukan bentuk pendanaan, melainkan ide kita diambil,” kata Vania.

Ide inovasi itu bermula dari banyaknya sisik ikan yang terbuang. Mereka pun melakukan riset dan menemukan bahwa sisik dari semua ikan bisa dimanfaatkan. Saat Jawa Pos berkunjung, mereka memamerkan hiasan yang memanfaatkan sisik ikan.

Mereka pun berharap inovasi itu dapat memikat panelis dari benua lain. ’’Kami berharap ada yang setuju dengan ide tersebut meskipun biaya produksi terbilang mahal. Tapi, ini solusi ke depan,” ungkapnya.

Keberhasilan mereka tak terlepas dari dukungan pihak sekolah. Yakni, guru pendamping Dian Ariani dan Kepala SMAN 6 Surabaya Mamik Pujowati. Bagi Mamik, sudah seharusnya generasi muda memiliki ruang kontribusi lebih di sektor lingkungan. Tak hanya dari generasi milenial, tapi juga generasi Z. ’’Kami sangat mendukung prestasi para murid,” ucapnya. (*/c7/ai)

EDITOR: Dhimas Ginanjar