← Beranda

Jarwo Susanto, Pengusaha Tempe yang Merambah Pasar Luar Negeri

Dhimas GinanjarSenin, 1 Juli 2019 | 01.43 WIB
DISUKA SEMUA: Jarwo menunjukkan tempe buatannya. Dia sudah punya pelanggan setia.(Adi Wijaya/Jawa Pos)
NAMA Jarwo Susanto sudah tidak asing di kawasan eks lokalisasi Dolly. Mantan penjual kopi yang sekarang menjadi pengusaha tempe itu semakin melebarkan sayap usahanya. Kini, dia mulai merintis pasar luar negeri.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

Tiga bak besar tertata rapi di Jalan Kupang Gunung Tembusan Gang II No 6. Seorang lelaki kurus sibuk mencuci biji kedelai. Kulit kedelai disaring dengan menggunakan keranjang besar. Dia adalah Jarwo Susanto. Pria yang dulu menolak keras penutupan lokalisasi Dolly pada 2014 itu sedang banjir orderan tempe. ”Ini 25 kilogram kedelai untuk pesanan 500 biji tempe,” ujarnya.

Bapak satu anak itu mengatakan, tempe yang dirinya produksi sejatinya tidak jauh berbeda dengan tempe lain. Bedanya, ada cerita di balik usaha tempe yang dia rintis sejak Oktober 2014, tepat tiga bulan setelah aparat menutup paksa lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu.

Jarwo mengungkapkan, tidak ada rencana untuk menjadi pengusaha tempe. Sebab, dia sudah nyaman dengan pekerjaannya sebagai penjual kopi yang digeluti selama 15 tahun. Pelanggannya yang juga ”tamu” para pekerja seks komersial (PSK) di Dolly sudah banyak. Omzet per bulan dari menjual kopi bisa mencapai Rp 45 juta Sayang, usaha warung kopinya harus banting setir. Keadaan yang serbasulit mendorongnya untuk belajar. ”Saat itu saya dicari polisi karena menolak penutupan Dolly. Saya kabur ke luar kota,” terangnya.

Jarwo berpindah-pindah tempat saat diburu aparat. Mulai Pasuruan, Malang, hingga Sidoarjo. Di Sidoarjo, dia mengungsi di rumah kakaknya yang merupakan pengusaha tempe. Di tempat itu pula, dia mulai belajar.

Setelah dua pekan belajar, Jarwo membuat tempe sendiri. Namun, dia belum berani kembali ke rumahnya di Dolly. Sebab, sembilan temannya yang ditangkap polisi belum diadili. Dia baru kembali ke Dolly setelah sembilan temannya itu divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Saat kembali ke rumah, Jarwo merasa ada yang aneh. Sebab, hiruk pikuk di sepanjang Jalan Girilaya sudah tidak seperti dulu. Suasananya lebih sepi. ”Saya mulai mikir dan akhirnya memantapkan diri untuk memulai produksi tempe,” ujarnya. Suami Munasifa itu mengatakan tidak mudah memulai usaha tempe. Bukan soal produksinya. Yang sulit adalah memasarkan tempe ke pedagang, toko kelontong, maupun pelanggan rumahan.

Karena itu, Jarwo memutar otak agar bisa memasarkan produk tempenya. Salah satunya melalui cerita dirinya saat merintis usaha tersebut. Mulai menjadi buron polisi sampai memutuskan belajar membuat tempe.

Cerita itu awalnya hanya disebar dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya, ada wartawan sampai penulis buku yang tertarik untuk menuliskan kisahnya. Bahkan, biografinya ditulis Mustofa Sam dalam buku berjudul Jarwo Susanto si Arek Dolly. ”Saya dinilai paling vokal dalam menolak penutupan itu,” ucapnya.

Hal itulah yang membuat merek tempenya kian diminati. Jarwo mengaku usaha yang dirinya geluti sekarang memang tidak semoncer warung kopinya dulu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, penghasilannya kian meningkat. Yang awalnya hanya mendapat omzet Rp 5 juta per bulan sekarang bisa sampai Rp 30 juta per bulan.

Pelanggan tempenya juga sudah merambah kalangan pejabat. Mulai pejabat organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Surabaya sampai pejabat Pemprov Jatim. Setiap bulan Jarwo juga melayani pesanan satpol PP dan dinas sosial (dinsos). Dua instansi itulah yang paling rutin pesan. ”Untuk dua dinas itu bisa sampai 2.000 biji tempe setiap bulan,” terangnya.

Usaha tempenya juga mendapat perhatian dari kampus-kampus negeri maupun swasta di Kota Pahlawan. Jarwo kerap menjadi jujukan mahasiswa untuk belajar wirausaha. Sampai-sampai, ada turis dan mahasiswa dari luar negeri yang tertarik dengan tempe dan ceritanya. ”Itu jadi motivasi saya untuk mengembangkan usaha ini sampai ke mancanegara,” jelasnya.

Keinginan mengembangkan usaha ke luar negeri akhirnya menemukan jalan. Pada Februari, salah seorang teman Jarwo yang bekerja di Belanda tertarik untuk memasarkan produknya ke Negeri Kincir Angin tersebut.

Tawaran itu diterima dengan senang hati. Jarwo menitipkan produknya untuk dipromosikan di Belanda. Namun, yang diambil belum banyak. Baru 20–100 biji per bulan. Sebab, rasa tempe akan berubah setelah empat hari.

Menurut Jarwo, setiap orang sejatinya punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan bisnis ke mancanegara. Kuncinya, harus percaya dan yakin bahwa kualitas produk yang dimiliki bisa bersaing dengan produk di negara lain. ”Misalnya, tempe. Sebetulnya tempe orang Indonesia itu lebih enak daripada yang ada di sana (luar negeri, Red). Karena itu, banyak yang suka,” tuturnya.

Jarwo berharap ceritanya bisa menjadi inspirasi bagi yang lain agar berani memulai bisnis di bidang apa pun. ”Yang penting adalah kemauan dan tekad yang kuat. Pasti bisa,” tandasnya. 
EDITOR: Dhimas Ginanjar