← Beranda

Indahnya Batu Hoda, Pantai Berkisah Kuda Betina yang Setia

Sari HardiyantoSelasa, 18 Desember 2018 | 12.50 WIB
OBJEK WISATA: Pemerintah Kabupaten Samosir tengah mengoptimalkan potensi wisata yang dimiliki, salah satunya dengan pengembangan Pantai Batu Hoda.

Danau Toba menyimpan segudang potensi wisata yang menakjubkan. Salah satunya adalah Pantai Batu Hoda. Keindahan alam, hamparan pasir putih dan desiran suara ombaknya seolah mampu menghipnotis wisatawan sehingga mampu menghilangkan penat sejauh mata memandang.


Prayugo Utomo, Samosir


JawaPos.com - Pantai Batu Hoda terletak di Dusun Malau, Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir. Pantai Batu Honda berjarak sekitar 1 kilometer dari pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir.


Sementara jika dari Kota Medan ke Pantai Batu Honda membutuhkan waktu sekitar 6 jam. Namun, meski perjalanan cukup jauh, semua lelah seolah terbayar dengan keindahan alam yang disajikan.


Sesampai di Pantai Batu Hoda, kita langsung disambut oleh sebuah patung kuda berwarna hitam. Kenapa hitam? karena memang terbuat dari ban bekas. Di hari-hari biasa, pantai Batu Hoda lumayan sepi, tetapi kalau musim liburan jangan salah, wisatawan tumpah ruah memadati hamparan pasir yang ada.


Suara desir air terdengar jelas. Beberapa ekor bangau terbang rendah di atas danau. Mencoba memangsa ikan-ikan kecil yang naik ke permukaan. Saat ini, Batu Hoda memang belum rampung seutuhnya. Objek wisata di Danau Toba ini memang masih dalam tahap pengembangan oleh Pemerintah Kabupaten Samosir.


Kepala Dinas Pariwisata Samosir Ombang Siboro berharap Batu Hoda menjadi salah satu wisata unggulan. Terlebih untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Karena PAD Samosir memang paling besar dari sektor tersebut.


"Nanti ada banyak fasilitas disini. Ada rumah pohon, deretan Gajebo, dan lokasi camping. Kami juga akan bikin home stay untuk pengunjung yang akan bermalam," kata Ombang, baru-baru ini.


Samosir memang sedang giat-giatnya membangun pariwisata. Sesuai target pemerintah yang ingin memenuhi target satu juta wisatawan tahun depan.


Menurut masyarakat setempat, Batu Hoda memiliki cerita tersendiri turun-temurun. Konon katanya, dulu ada kuda betina di pantai itu yang menunggui pasangannya. Namun karena pasangannya tak kunjung datang, kuda itu berubah menjadi batu. "Ceritanya turun-temurun seperti itu," paparnya.


Masyarakat sekitar memang meyakini. Jika kuda betina itu menjadi batu. Karena memang, di Batu Hoda banyak batu besar yang menghampar di tepian pantai. Itu narasi yang terus diceritakan. "Kuda Betina yang telah menjadi batu adalah salah satunya," ungkapnya.


Patung kuda hitam di dekat pintu masuk juga ada karena hikayat itu. Agar masyarakat terus mengingat cerita-cerita yang menarik di mata wisatawan.


Batu Hoda tidak mendadak ada. Dulu lahan di sana digunakan masyarakat untuk bercocok tanam. Pantainya tidak terurus. Banyak ilalang yang tumbuh subur. Pemerintah melirik potensi Batu Hoda. Hingga mereka mengelolanya. Dikemas semenarik mungkin dan disesuakan dengan nuansa kekinian.


"Ada spot foto, tendanya sengaja warna warni. Supaya instagramable," ungkapnya.


Kata Ombang, PAD bisa meningkat dengan adanya Batu Hoda. Masyarakat juga harus andil dalam pengembangan Batu Hoda. Karena memang keberhasilan itu akan punya dampak positif untuk perekonomian masyarakat. "Jadi ketika pengunjung datang, akan dikenakan retribusi kepada pengunjung, ya nanti akan di manajemen dengan masyarakat sementara," pungkas Ombang.


Batu Hoda kembali menambah narasi Danau Toba yang tidak ada habisnya. Mulai dari asal muasal Orang Batak yang turun dari puncak Pusuk Buhit. Hingga cerita mitologi Danau Toba.

EDITOR: Sari Hardiyanto