Di pelosok desa, pekerjaan sebagai buruh tembakau biasanya menurun kepada anak. Prihatin dengan kondisi itu, Stapa Center Jember turun tangan. Mereka membuat program ASP (after school program) atau program setelah sekolah.
RANGGA MAHARDIKA, Jember
PULUHAN anak di salah satu SD di Mayang, Jember tampak lelah bermain di lapangan. Mereka tidak hanya bermain, namun juga membawa buku. Ternyata mereka mencatat sejumlah kegiatan lapangan yang dilakukan.
’’Ini salah satu kegiatan untuk anak-anak buruh yang bekerja di dunia tembakau agar bisa mengenal lingkungan,’’ ucap Ari Widjianto, koordinator daerah Social Transformation and Public Awareness (Stapa) Center atau Pusat Transformasi Sosial dan Penyadaran Publik Jember.
Stapa Center adalah salah satu komunitas yang memang bergerak untuk membentengi pekerja anak, terutama di sektor tembakau. Stapa di Jember ada sejak 2012 .
Awalnya, pendampingan dilakukan kepada sejumlah petani tembakau di Jember. Terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan buruh di bidang tembakau. Hingga akhirnya, pada 2015, mencuat kabar bahwa banyak pekerja anak di Jember, terutama di sektor tembakau.
’’Sebenarnya mulai 1980-an banyak anak buruh petani menjadi buruh di bidang pertanian,’’ ucap Ari.
Kebanyakan mereka menjadi tukang sujen (menyunduk tembakau sebelum dikeringkan) atau juru angkut tembakau. Dengan adanya ALP (agriculture labour practices) menurut dia, tidak ada lagi anak yang terlibat dalam pertanian tembakau.
Stapa Center berfokus kepada programnya dalam melindungi anak-anak agar tidak bekerja di bidang tembakau. Mereka ingin menyadarkan anak keluarga petani yang masih SD akan pentingnya keterampilan akademik dan nonakademik. ’’Kami menamakan after school program (ASP) atau kegiatan setelah sekolah,’’ ucapnya.
Berbagai kegiatan dilakukan. Di antaranya, mengenal lingkungan, mengenal dasar-dasar pertanian, literasi, serta drum band dan tari. Kegiatan tersebut, lanjut Ari, dikhususkan untuk anak-anak di daerah Jember Timur. Sebab, menurut dia, dari segi pendidikan dan pengetahuan, mereka kalah jauh bila dibandingkan dengan anak-anak di daerah selatan.
Berbagai kegiatan yang dilaksanakan memang santai, namun bisa membuat anak-anak tertarik. Di pihak lain, kegiatan tersebut bukan hanya untuk anak, namun juga guru dan sekolah.
Karena itu, keterlibatan guru dan sekolah sangat membantu anak mengetahui risiko dari pekerja anak. ’’Ada juga parenting class, yakni kelas untuk orang tua,’’ jelasnya.
Stapa Center juga memberikan pendampingan kepada orang tua agar anak-anak tetap mendapatkan haknya sebagai anak. Juga pendampingan cara asuh anak yang benar. ’’Ternyata cukup efektif karena dilakukan di luar jam sekolah,’’ ujarnya.
Ari menerangkan, Stapa Center Jember saat ini hanya memiliki lima relawan. Dia bersama dengan Nur Hadi, Geovani Dea, Agustini, dan Akbar Ridho terus memberikan pendampingan kepada masyarakat. ’’Meski berlima, kami tetap bersemangat untuk menghindarkan pekerja anak,’’ tegasnya.
Bahkan, pendampingan kepada anak-anak terus bertambah. Kini, papar dia, ada delapan sekolah yang diberikan pendampingan ASP. Sekolah itu, antara lain, SDN 2 Gumuksari, SDN 03 Glagaweroh, dan SDN 1 Kalisat (Kecamatan Kalisat). Selain itu, ada SDN 3 Sumber Kejayan, dan SDN 01 Mayang (Mayang), serta SDN 1 dan SDN 2 Pakusari. (hdi/c4/diq)