← Beranda

Tofel, Penata Rambut-Rias Ibu dan Ribuan Rambut Orang Bawean

Suryo Eko PrasetyoSelasa, 16 Mei 2017 | 12.54 WIB
BUKTI PRESTASI: Tofel menunjukkan sertifikat kelulusan dari sekolah tata rambut milik Rudy Hadisuwarno. Dia adalah alumnus terbaik sekolah tersebut. Kini Tofel sangat beken di Bawean.

Karir Tofel sebagai penata rambut bisa saja melejit bila dia meneruskannya di Jakarta. Dia adalah salah seorang lulusan terbaik sekolah kecantikan milik Rudy Hadisuwarno. Dia juga sempat bekerja di sana. Namun, Tofel memilih pulang ke Bawean.



SALMAN MUHIDDIN



NAMANYA memang cuma Tofel. Ya, Tofel. Bukan TOEFL alias test of English as a foreign language.


Tapi, prestasinya tak sependek namanya. Ada 36 pigura yang memenuhi dinding rumah Tofel di Desa Pudakit Timur, Kecamatan Sangkapura, Bawean. Sebanyak 17 di antaranya berisi sertifikat dan piagam penghargaan yang diraihnya selama menjadi penata rambut dan rias. Ya, dia bukan penata rambut sembarangan. Teknik menggunting didapatkan dari sekolah. Bukan ototidak.


Di salah satu pigura tertulis bahwa dia alumnus sekolah tata rambut Rudy Hardisuwarno angkatan 1991–1993. Hal itu terlihat pada salah satu pigura paling usang yang diletakkan di sebelah kiri ruangan. Kertas di pigura tersebut sudah menguning.


Rumah Tofel bergaya Belanda. Warisan buyutnya. Dindingnya saja setebal setengah meter. Ubin oranye masih terawat. Kaca-kaca kristal di jendela juga menandakan bahwa keluarga Tofel adalah keluarga berada.


Namun, dia tidak mau berpangku tangan. Gairah merantau orang Bawean membawanya bertualang ke ibu kota. Jakarta.


Rumah Tofel berada di atas bukit. Letaknya pun tidak strategis. Jauh dari jalan utama. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah salon. Yang bikin heran, pelanggan terus berdatangan saat Jawa Pos bertamu ke rumahnya, Rabu (10/5).


”Yaelah. Nggak perlu tanda, orang juga sudah tahu kok,” jelas Tofel sembari mencukur rambut salah seorang pelanggan asal Kecamatan Tambak.


Jelas saja. Jumlah salon di Bawean memang hanya hitungan jari. Apalagi yang punya keahlian make-up dan merias kemanten. Jumlahnya mungkin hanya 2-3 orang.


Lantas, mengapa Tofel kembali ke Bawean? Dia menerangkan bahwa ibunya, Gustariyah, tinggal seorang diri. Dia tidak tega meninggalkan perempuan yang kini berusia 65 tahun itu. ”Kalau saya di Jakarta, ibu sama siapa?” ujar pria yang pernah tinggal di Kediri tersebut.


Kakak laki-laki Tofel bekerja di luar pulau. Karena itu, tugas menjaga ibunya dia emban sendiri. Terhitung sudah 15 tahun dia mengabdikan diri sebagai penata rias dan tukang cukur di Bawean. Keputusan tersebut diambil setelah Tofel bekerja di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, selama enam bulan.


Tofel tak iri melihat teman-temannya yang sukses di ibu kota. Bila mengikuti langkah teman-temannya, mungkin saja dia sudah punya salon besar di Jakarta atau Surabaya. ”Ada teman saya yang buka di Surabaya. Hmmm berapa itu tarifnya. Mahal banget,” celetuknya.


Katanya, untuk cukur di salon temannya saja, tarifnya bisa ratusan ribu rupiah. Dia tidak mungkin menerapkan tarif yang sama di Bawean. Tarif termurah untuk potong rambut hanya Rp 20 ribu.


Namun, keputusan pulang kampung itu ternyata justru membawa berkah. Tidak banyak pesaing membuat usahanya lancar-lancar saja. Bisa dibilang, dia ’’memonopoli’’ dunia persalonan Pulau Putri, sebutan lain Bawean.


Menjelang Ramadan seperti sekarang, banyak tenaga kerja wanita (TKW) yang kembali ke Bawean. Kebanyakan di antara mereka melakukan rebonding atau mengecat rambut. Saat itulah pendapatannya meningkat pesat. ”Yang dari Singapura biasanya minta pirang,” tambah pria berkucir tersebut.


Karena itu, etalase kaca di salonnya kini sudah dipenuhi berbagai macam merek cat rambut. Beberapa hari sebelumnya, dia pergi ke Surabaya untuk membeli segala kebutuhan salon. Berkembangnya transportasi Bawean saat ini mempermudah dirinya untuk mendapatkan semua barang itu. Ya, sekarang setiap pekan ada penyeberangan kapal. Naik pesawat pun bisa.


Kalau dahulu, satu-satunya transportasi hanya kapal. Itu pun sering mogok beroperasi. Terutama saat kapal dalam perawatan. Atau, ketika ombak sedang tinggi. Bila sudah begitu, pelayanan yang diberikan Tofel hanya potong rambut atau rebonding. ”Sekarang tidak perlu khawatir. Stok aman,” lanjutnya.


Karena Bawean punya penata rambut top, model rambut orang Bawean tidak pernah ketinggalan zaman. Yang paling gampang terlihat adalah kaum laki-laki. Sebab, mayoritas perempuan Bawean memakai kerudung.


Saat ini gaya potong rambut anak-anak muda Bawean hampir sama. Kebanyakan minta dicukur gaya undercut. Mirip bintang Real Madrid Cristiano Ronaldo. Terkadang tanpa ditanya, Tofel sudah tahu keinginan sang pelanggan.


Selain itu, Tofel berprofesi sebagai perias manten. Ada sejumlah koleksi busana di lemarinya. Ada yang berwarna terang, ada juga yang kalem. Bergantung siapa mempelainya. Mereka yang sudah pernah melanglang ke luar pulau biasanya suka warna kalem. Krem atau putih.


Tapi, pengantin yang tidak pernah ke luar pulau biasanya lebih suka warna merah menyala. Hijau sampai biru. ”Saya sih sedia dua-duanya,” ujarnya.


Tofel lantas menunjukkan perubahan tata rias pengantin Bawean. Seluruhnya tersimpan rapi di buku album foto yang ada di bawah rak meja.


Dia meringis bila ingat gaya rias jadul (zaman dulu). Salah satu foto yang dia tunjukkan adalah pengantin dengan ’’alis Krisdayanti”. Alis pengantin dicukur habis. Lalu, dibuat garis tipis yang melingkar setengah lingkaran. Pada zamannya, mungkin alis itu oke-oke saja. ”Kalau sekarang pakai alis itu, ya diguyu,” jelas lelaki kelahiran Februari 1969 tersebut.


Tofel juga menceritakan, ada daerah yang pengantinnya tidak pernah memakai jasanya. Sebab, pemuka agama menganggap Tofel bukan muhrim bagi calon mempelai. Namun, dia tidak mempermasalahkannya karena hal tersebut memang menjadi keyakinan yang perlu dihargai. ”Memang di Bawean itu agamanya sangat kuat,” ucap pria yang masih membujang tersebut.


Tofel lantas mengajak Jawa Pos melihat luar ruangan. Ada ruang tunggu salon miliknya berupa bangunan khas Bawean. Nama bangunan itu adalah Dhurung. Bangunan tanpa dinding tersebut dipakai para pelanggan yang lama menunggu. Atau, bisa juga dipakai para suami yang mengantar istrinya nyalon.


Kalau para istri sudah cat rambut atau rebonding, bisa-bisa suaminya menunggu hingga tiga jam. Tenang, Tofel sudah menyiapkan banyak bantal. Khusus dipakai para tamu. Menunggu dengan semilir angin pasti mudah ngantuk. Bila sudah begitu, waktu tidak terasa.


Tofel sempat bergurau bahwa seluruh orang Bawean mengenalnya. Dia menantang untuk menanyakan hal itu ke orang-orang Bawean yang saya temui.


Saya lantas bertanya tentang Tofel ke pedagang makanan di Sangkapura, perajin perahu jukong, pemilik penginapan Bahagia, hingga anak-anak SMP. Semuanya ternyata mengaku kenal. Top. (*/c7/dos)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo