JawaPos.com - Program hilirisasi, yang tengah dijalankan pemerintah, dinilai menjadi langkah tepat membangun masa depan Indonesia. Menurut Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra, hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, serta mendorong transfer teknologi.
Demikian dia sampaikan saat UI Mine Summit 2025, di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (28/11). Hangga juga menyakini bahwa minyak-gas bumi (migas) dan pertambangan masih berada pada fase sunrise. Oleh karena itu, seluruh proyek hilirisasi dan investasi hulu migas yang masuk ke Indonesia, baik lokal maupun asing, wajib mengutamakan tenaga kerja lokal.
"Hal ini tidak hanya untuk penyerapan tenaga kerja, tetapi juga untuk peningkatan skill, knowledge, dan daya saing SDM lokal," sebutnya.
Melalui hilirisasi pula, katanya, pemerintah berupaya menekan defisit impor dengan dua sasaran strategis. Pertama adalah optimalisasi hidrokarbon melalui pengembangan biodiesel B35, yang telah menghemat devisa dan menyerap tenaga kerja.
Selain itu, peresmian Kilang RDMP Balikpapan akan menciptakan kelebihan solar yang berpotensi untuk diekspor. Untuk mencapai target produksi 1 juta barel per hari, pemerintah juga sedang menawarkan 75 blok migas baru dan mendorong eksplorasi pada 108 cekungan migas yang belum dimanfaatkan. Upaya ini didukung dengan adanya insentif fiskal dan teknologi canggih seperti enhanced oil recovery (EOR).
Pilar kedua adalah transisi ke energi baru dan terbarukan (EBT) dan kendaraan listrik (EV) dengan target yang dicanangkan, yakni 2 juta mobil listrik dan 13 juta sepeda motor listrik pada 2030 dan didukung penuh dengan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
"Pengembangan EBT yakni surya, panas bumi, bayu, hidro, dan nuklir melalui RUPTL 2025-2034 bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan defisit impor," katanya pula.
RDMP Balikpapan Tonggak Kemandirian Energi
Terpisah, Asosiasi Perusahaan Pertambangan Rakyat Indonesia (APPRI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menyatakan, megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan akan menjadi tonggak penting bagi kemandirian energi nasional. Ketua APPRI Kaltim Rudi Prianto mengatakan, proyek RDMP Balikpapan akan memodernisasi kapasitas kilang, meningkatkan kualitas BBM, dan mendukung energi berkelanjutan.
"Kami optimistis, jika semua elemen, seperti pemerintah, Pertamina, media, dan masyarakat, mendukung, maka RDMP Balikpapan akan menjadi salah satu tonggak penting bagi kemandirian energi dan pembangunan nasional," kata Rudi, dikutip dari Antara, Minggu (30/11).
Rudi menilai proyek ini sebagai upaya strategis yang tidak hanya bermanfaat bagi sektor energi, tetapi juga bagi stabilitas dan kemandirian nasional. Rudi menjelaskan beberapa manfaat RDMP Balikpapan bagi energi dan ekonomi.
Diantaranya, meningkatkan kapasitas kilang, produksi BBM ramah lingkungan, mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional, dan membuka peluang sektor ekonomi dan tenaga kerja.
"Oleh karena itu, APPRI menilai RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek industri, melainkan proyek strategis nasional yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian," ujarnya lagi.
Rudi berharap keberhasilan RDMP Balikpapan bisa menjadi contoh bagi proyek strategis lain di Indonesia, dengan aspek teknis, lingkungan, sosial, dan komunikasi publik berjalan selaras.
"Proyek semacam ini bisa memberikan manfaat maksimal, tidak hanya untuk energi dan ekonomi, tetapi juga untuk reputasi, transparansi, dan kepercayaan publik," ujarnya.
Megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan adalah Proyek Strategis Nasional yang bertujuan merevitalisasi kilang minyak lama di Balikpapan. Proyek ini dilakukan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (PT KPB), anak perusahaan PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI).