JawaPos.com – Perubahan iklim kian mengkhawatirkan. Merespons hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kian massif menggencarkan gerakan Indonesia's FOLU Net Sink 2030 di tingkat Sub Nasional.
Kali ini, sosialisasi dilaksanakan di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Sosialisasi dihadiri oleh pejabat pemerintah pusat dan daerah, akademisi, LSM, dan tokoh masyarakat.
Staf Ahli Menteri LHK Bidang Industri dan Perdagangan Internasional Novia Widyaningtyas mengungkapkan, kerja sama semua pihak dalam menghadapi perubahan iklim ini kian mendesak. Semua pihak harus bahu membahu mengurangi hal-hal yang berdampak nyata pada terjadinya perubahan iklim.
"Indonesia pun menyatakan komitmennya kepada dunia internasional untuk mengendalikan perubahan iklim sejak Paris Agreement. Dan melalui program Indonesia's FOLU Net Sink 2030, kita berupaya mencapai tingkat emisi GRK -140 juta ton CO2e pada tahun 2030," ujarnya, kemarin (21/5).
Adapun program Indonesia's FOLU Net Sink 2030 menggunakan empat strategi utama. Yaitu, pencegahan deforestasi; konservasi dan pengelolaan hutan lestari, perlindungan dan restorasi lahan gambut, serta peningkatan serapan karbon.
KLHK menggandeng sejumlah pakar dari berbagai universitas, termasuk UGM, IPB, Universitas Brawijaya, dan ITB, untuk menyusun rencana operasional yang detail dan dapat diterapkan secara efektif.
"Fokus utama FOLU Net Sink 2030 ini adalah mengurangi emisi gas rumah kaca, dengan sektor kehutanan dan penggunaan lahan yang memegang peranan penting. Di mana keduanya berkontribusi sebesar 25,4 persen terhadap target nasional," paparnya.
Program ini, kata dia, disusun dengan memperhatikan karakteristik spesifik wilayah masing-masing. Khusus Jawa misalnya, dispesifikkan pada daya dukung dan daya tampung air, luasan lahan kritis. D.I. Jogjakarta dengan kepadatan penduduk yang tinggi, hingga soal tutupan lahan hutan yang minim.
Setidaknya, ada tujuh Rencana Operasional (RO) di Region Jawa dan enam RO yang dapat diterapkan di D.I. Jogjakarta. Adapun detailnya terdiri dari RO1 pencegahan laju deforestasi pada lahan mineral, RO4 Pembangunan Hutan Tanaman, RO7 Peningkatan Cadangan Karbon dengan Rotasi, RO8 Peningkatan Cadangan Karbon Non Rotasi, RO11 Perlindungan Konservasi Keanekaragaman Hayati, dan RO12 Pengelolaan Mangrove.
Rincian RO tersebut akan segera detailkan pada Workshop I penyusunan Rencana Kerja Sub Nasional Provinsi DIY. "Hal-hal tersebut menjadi fokus utama dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim," sambungnya.
Selain itu, menurut dia, dukungan internasional yang terus mengalir. Terkait kontribusi pendanaan. Hal ini menunjukkan keseriusan dunia dalam menangani isu perubahan iklim dan melihat potensi Indonesia dalam kontribusinya pada pengendalian perubahan iklim global.
"Keunggulan komparatif sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya, best practices dalam pengelolaan lingkungan dan kehutanan, serta kerja kolaborasi berbagai pihak adalah kunci utama keberhasilan Indonesia untuk mencapai target net sink di tahun 2030," pungkasnya.