← Beranda

Sering Disebut Raja Delay, Lion Air Cuman Bisa Minta Maaf

R. Nurul Fitriana PutriSenin, 12 Juni 2023 | 01.15 WIB
SIKAP SIMPATIK: Ikuti alur sesuai panduan petugas. Tas ransel sebaiknya digendong di bagian depan atau dijinjing agar tidak mengganggu orang lain di sekitar. Terutama di antrean masuk pesawat dan lorong kabin. (Dite Surendra/Jawa Pos)
 
JawaPos.com - Tidak sedikit warganet menilai Lion Air sebagai raja delay. Hal ini didasarkan pada aneka pengalaman para penumpang yang mengeluhkan keterlambatan terbang atau delay.
 
Menurut pantauan JawaPos.com saat mencari kata kunci Lion Air di media sosial Twitter, banyak warganet yang mengeluhkan soal keterlambatan. Seperti pemilik akun @buatanmuu yang mengalami delay di Surabaya dalam perjalanannya ke Kupang.
 
"Pelajaran pertama: jangan naik lion air alias raja delay," cuitnya, Minggu (11/6).
 
Tak hanya akun tersebut, ada banyak akun yang mengeluhkan keterlambatan tersebut. Salah satunya, dikeluhkan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti.
 
"Hampir setiap pekan saya ke berbagai daerah di tanah air. Hampir setiap terbang selalu dengan Lion Group. Hampir setiap penerbangan selalu delay. Dan, mereka (hampir) tidak pernah minta maaf atas keterlambatan penerbangan," ujarnya melalui cuitan di akun @Abe_Mukti, dikutip Minggu (11/6).
 
Baca Juga: Cuaca Buruk, Lion Air Sebut Sejumlah Penerbangan dari Palembang Alami Keterlambatan
 
Terkait hal tersebut, Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mewakili seluruh manajemen termasuk pilot dan awak kabin atas keterlambatan penerbangan yang terjadi.
 
Menurutnya, permohonan maaf yang tulus dan komunikasi yang jelas adalah bagian dari upaya maskapai untuk memberikan pengalaman perjalanan yang terbaik meskipun terjadi situasi di luar kendali.
 
"Pilot dan awak kabin menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatan penerbangan kepada penumpang. Mereka berkomunikasi dengan penumpang secara transparan, menjelaskan alasan keterlambatan dan memberikan bantuan yang diperlukan," ujar Danang dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Minggu (11/6).
 
Lebih lanjut, Lion Air mengungkapkan tujuh faktor penyebab keterlambatan penerbangan yang tidak diinginkan baik oleh maskapai atau penumpang. Maskapai penerbangan, lanjut Danang, terus berusaha mengurangi keterlambatan dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada penumpang.
 
"Namun, penting untuk memahami bahwa terkadang keterlambatan penerbangan adalah hal yang tidak dapat dihindari dan merupakan bagian dari industri ini," lanjutnya.
 
Berikut ini tujuh faktor penyebab keterlambatan penerbangan Lion Air yang sering dikeluhkan:
 
1. Cuaca kurang baik
Menurut Danang, salah satu penyebab utama keterlambatan penerbangan adalah cuaca yang tidak menentu. Menurutnya, hujan deras, kabut tebal, badai petir, angin, dan kondisi cuaca ekstrem lainnya bisa memengaruhi keamanan penerbangan. "Maskapai akan menunda atau membatalkan penerbangan jika kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk terbang dengan aman," ujar Danang.
 
2. Penumpang tidak disiplin
Danang mengingatkan bahwa penumpang harus mengikuti aturan maskapai penerbangan. Tindakan melanggar aturan seperti bercanda bom, tidak ada surat kesehatan saat sakit dapat menyebabkan keterlambatan penerbangan.
 
"Tindakan bercanda bom dianggap serius dan mengancam keselamatan, sehingga maskapai akan menurunkan penumpang dan melakukan pengecekan tambahan pada pesawat," jelasnya.
 
3. Penumpang terlambat
Menurut Danang, kondisi ini berdampak terhadap keterlambatan penerbangan. Jika penumpang terlambat dan pesawat harus menunggu mereka, maka jadwal penerbangan akan terganggu.
 
4. Barang bawaan melebihi kapasitas
Jika banyak penumpang membawa barang bawaan yang banyak atau berukuran besar, kata Danang, proses boarding pesawat dapat menjadi lebih lambat. Demi keamanan dan kenyamanan, penumpang dilarang meletakkan barang bawaan di kompartemen bagasi kabin yang tidak sesuai dengan nomor kursi.
 
Penumpang diwajibkan meletakkan barang bawaan di dalam kompartemen bagasi yang berada di atas tempat duduk sesuai dengan nomor kursi yang tertera pada boarding pass. Apabila terlalu banyak barang bawaan, dapat memperlambat proses ini.
 
Awak kabin harus membantu penumpang untuk menyusun barang bawaan mereka dengan aman dan efisien. Proses boarding bisa membutuhkan waktu lebih lama dari yang diharapkan.
 
Kapasitas bagasi kabin yang diizinkan adalah maksimum 7 kg terdiri 1 item barang bawaan untuk setiap penerbangan. Apabila penumpang membawa barang bawaan yang banyak, terutama dalam penerbangan yang penuh, ada kemungkinan bahwa kapasitas bagasi di dalam kabin akan terbatas.
 
"Sehingga maskapai harus mengatur ulang bagasi penumpang yang melebihi kapasitas yang membutuhkan waktu tambahan sebelum pesawat bisa berangkat," tuturnya.
 
5. Keterlambatan pesawat sebelumnya
Jika pesawat mengalami keterlambatan sebelumnya seperti karena faktor cuaca atau kondisi lain, maka penerbangan berikutnya dengan pesawat tersebut juga akan terlambat. Keterlambatan dalam suatu penerbangan bisa memengaruhi jadwal penerbangan selanjutnya.
 
6. Gangguan teknis
Faktor lain yang menyebabkan keterlambatan adalah masalah teknis. Maskapai memprioritaskan keamanan dan kelayakan pesawat sehingga perbaikan secara tidak berjadwal harus dilakukan sebelum penerbangan dilanjutkan.
 
7. Faktor operasional lainnya
Contoh penyebab keterlambatan penerbangannya adalah kepadatan lalu lintas udara yang menyebabkan antrean lepas landas dan mendarat, pembatasan yang diberlakukan di bandar udara, atau pemogokan (demo) di suatu wilayah yang mampu memengaruhi operasional maskapai penerbangan.

 

EDITOR: Dimas Ryandi