← Beranda

Minyak Goreng Kemasan Mahal Jadi Pertanyaan, Ini Jawaban Mendag

Mohamad Nur AsikinKamis, 17 Maret 2022 | 22.30 WIB
Mendag Muhammad Lutfi
JawaPos.com - Kebijakan harga eceran tertinggi (HET) telah dicabut, hal ini pun menyebabkan harga minyak goreng kemasan menjadi tidak terkendali di pasar. Tentu fenomena ini menjadi pertanyaan oleh publik.

Mengenai itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan bahwa mahalnya harga minyak itu adalah karena harga minyak sawit mentah dunia tengah meningkat akibat konflik antara Rusia dan Ukraina.

"Ada yang tanya kenapa kok harga tinggi, kita tahu bahwa invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan harga-harga barang tinggi," kata dia di Pasar Senen, Jakarta, Kamis (17/3).

Adapun, Rusia dan Ukraina sendiri merupakan negara produsen minyak nabati atau lebih dikenal dengan minyak biji matahari atau sunflower. Akan tetapi, dengan konflik ini, pengguna minyak biji matahari beralih ke CPO yang mengakibatkan harga komoditas itu meningkat karena permintaan meningkat.

"Terutama karena mereka penghasil minyak sunflower. Nah subsitusinya adalah minyak CPO, sebabkan harga CPO loncat dari Rp 14.600 di awal Februari jadi Rp 18.000 kemarin. Sekarang sudah turun sedikit tapi pada dasarnya naik karena mekanisme pasar," terang dia.

Mengenai itu, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Oke Nurwan menyampaikan bahwa imbas dari invasi Rusia ke Ukraina membuat negara tersebut berhenti memproduksi minyak sunflower.

"Minyak nabati dari Ukraina kan berhenti produksinya. Padahal dia cukup tinggi 17 persen pasokannya ke dunia," terang dia di lokasi yang sama.

Dengan stop produksi minyak nabati Ukraina ini, tentunya memicu gejolak di pasar internasional yang berimbas terhadap harga CPO yang ikut melonjak. "Harga udah pasti naik. Kebutuhan minyak dunia dari sawit itu 43 persen," pungkasnya.
EDITOR: Mohamad Nur Asikin