← Beranda

Harga Cabai Masih di Atas Rp 100 Ribu, IKAPPI: Terjadi Setiap Tahun

Mohamad Nur AsikinRabu, 29 Desember 2021 | 23.13 WIB
Pedagang memilah cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu (22/12/2021). Harga cabai rawit di sejumlah daerah mengalami kenaikan dari Rp80.000-an per kilogram menjadi sekitar Rp100.000 per kilogram karena dipicu pasokan yang menurun akib
JawaPos.com - Harga kebutuhan pangan pokok hari ini masih melonjak tinggi. Hingga saat ini harga cabai rawit merah belum juga turun dan masih dijual di atas Rp100 ribu per kilogram. Mengutip situs resmi infopangan, harga tertinggi ada di Pasar Tebet Barat seharga Rp135 ribu per kilogram dan terendah seharga Rp 85 ribu per kilogram.

Kenaikan harga juga terjadi di beberapa pasar lainnya seperti, Pasar Induk Kramat Jati naik Rp1.000 menjadi Rp80.000 per kilogram, Pasar Senen Blok III-VI Rp10.000 menjadi Rp110.000 per kilogram, Pasar Cibubur naik Rp10.000 menjadi Rp100 ribu per kilogram, Pasar Perumnas Klender naik Rp5.000 menjadi Rp100 ribu per kilogram.

Selanjutnya, Pasar Gondangdia baik Rp5.000 menjadi Rp115.000 per kilogram, Pasar Cempaka Putih naik Rp10.000 menjadi Rp110.000 per kilogram, Pasar Baru Metro naik Rp5.000 menjadi Rp115 ribu per kilogram, dan Pasar Koja Baru naik Rp10.000 menjadi Rp110 ribu per kilogram.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, harga cabai cenderung meningkat setiap tahunnya mengukuti momentum perayaan tahunan seperti Lebaran hingga Natal dan Tahun Baru.

“Cabai (naik) terjadi tiap tahun. Rp100 ribu lebih tahun lalu dan tahun sebelumnya juga (diatas) Rp100 ribu,” kata Abdullah Mansuri saat dihubungi oleh JawaPos.com, Rabu (29/12).

Menurutnya, kenaikan harga cabai yang selalu melonjak setiap tahunnya terjadi karena pemerintah tidak memiliki grand design yang baik. Padahal, siklus tersebut berasal dari dua faktor yaitu faktor iklim dan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap komoditas cabai.

“Kalau musimnya hujan La Nina dan seterusnya pasti produksi ngga aman. Otomatis di pasar juga bergejolak,” pungkasnya.
EDITOR: Mohamad Nur Asikin