← Beranda

Sewa atau Beli Properti Rumah? Kuncinya Bergantung Kemampuan Cicilan Kredit terhadap Pendapatan

Agfi SagittianMinggu, 2 Juli 2023 | 17.27 WIB
SESUAIKAN KEBUTUHAN: Deretan rumah di kompleks perumahan di kawasan Surabaya Timur, Selasa(27/6). Pengembang menyasar keluarga muda sebagai end user.

Saat tiba harus memilih sewa atau beli hunian, pertimbangan faktor keuangan menjadi yang utama. Properti bisa menjadi aset dan investasi. Kemampuan membeli, khususnya skema kredit, harus diperhatikan.

---

CERTIFIED financial planner (CFP) Rizqi Syam menjelaskan, dari jenis income saja, setiap orang punya pola yang berbeda. Ada yang memiliki pendapatan stabil seperti karyawan. Ada juga yang fluktuatif seperti pengusaha.

”Rumusannya, kita akan lihat dari tiga hal, yaitu harga properti, gaji, dan kemampuan kredit ideal. Sederhananya, jika cicilan masih di bawah angka 25 persen dari income bulanan tanpa cicilan lainnya, opsi membeli bisa dibilang aman,” ujar Rizqi di Jakarta Jumat (30/6).

Rizqi membeberkan, rasio utang yang ideal adalah 35 persen dari pendapatan. Pembagiannya, 20–25 persen untuk kredit produktif. Misalnya, tempat tinggal. Sisanya adalah konsumtif seperti untuk pembelian barang-barang lain.

Menurut dia, seseorang harus memiliki proyeksi yang matang tentang pekerjaan yang dijalani atau bisnis yang sedang ditekuni. Setidaknya, sebelum mencicil atau membeli rumah, ada gambaran tentang cara melunasi.

”Karena income tidak hanya digunakan untuk mencicil rumah pastinya. Ada kebutuhan untuk menyisihkan yang lain seperti tabungan dana darurat, asuransi, kesehatan, dan investasi,” urainya.

Rizqi menuturkan, jika rasio cicilan dibanding income di atas 25 persen, opsi sewa lebih aman dan rasional. ”Lebih baik kita tunda untuk membeli hunian. Sambil menyewa, kita memupuk DP yang lebih besar agar cicilan bisa kita tekan,” tuturnya.

Berbicara mengenai dilema sewa atau beli rumah, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengakui bahwa generasi milenial dianggap sulit membeli rumah pertama. Biaya hidup yang tidak seimbang dengan pendapatan membuat sulit membeli rumah.

Imbasnya, mereka frustrasi dan mengalihkan prioritas pada leasure seperti traveling atau kuliner dibanding menabung untuk membeli rumah.

”Prioritas tersebut merupakan bentuk frustrasi generasi milenial lantaran harga properti yang terlalu tinggi. Bukan mereka tidak mau beli,” ujarnya.

Menurut Ali, pemerintah juga berupaya meningkatkan rasio kepemilikan rumah. Misalnya, program terobosan rent to own sehingga memungkinkan nasabah menyewa rumah lebih dulu untuk kemudian diubah menjadi hak milik.

Setelah perjanjian sewa itu selesai dan telah memenuhi nilai kesepakatan hak milik, bisa dilanjutkan dengan kredit pemilikan rumah (KPR). ”Jadi, program ini mengakomodasi milenial yang belum memiliki daya cicil, tapi punya daya sewa. Dan, ketika sewa sudah selesai, properti bisa menjadi hak milik atau aset,” beber Ali.

Sementara itu, pelaku usaha properti konsisten dalam pengembangan produk hunian untuk keluarga muda. Sebab, keluarga muda masih dianggap pasar tergemuk dan bakal bertahan lama.

Direktur Marketing PT Intiland Development Tbk Wilayah Surabaya Harto Laksono menyatakan, end user sudah pasti menjadi ceruk pasar yang diincar berbagai pengembang dalam jangka panjang. Apalagi, bonus demografi Indonesia mulai muncul tahun lalu.

”Seperti yang dibilang pemerintah, bonus ini bertahan 20–30 tahun ke depan. Artinya, pembeli rumah pertama alias end user di usia muda bakal bertahan lama,” ujarnya kepada Jawa Pos Jumat (30/6).

Karena itulah, pengembang terus berupaya memperbarui produk sesuai dengan keinginan keluarga muda. Menurut dia, generasi milenial lebih menginginkan tempat tinggal yang compact. Di sisi lain, mereka ingin ruang dan fasilitas komunal yang cocok untuk keluarga barunya.

Dalam sebuah proyek, lanjut dia, kelompok konsumen generasi muda diakui menyerap sekitar 80 persen. ”Sisanya ya pasangan usia pensiun atau mungkin sekadar investasi untuk disewakan,” ungkapnya.

Developer juga membangun hunian segmen menengah ke atas. Namun, hunian itu ditujukan bagi konsumen muda yang ingin naik kelas setelah anggota keluarga bertambah.

”Memang, untuk menggaet konsumen di kue ini, harus ada pembeda. Salah satu strategi adalah membuat area ramah anak yang pasti dimiliki atau akan dimiliki keluarga muda,” paparnya. (agf/bil/c14/dio)

PLUS MINUS SEWA DAN BELI RUMAH

Skema Sewa

Plus

Modal awal lebih rendah

Tidak membatasi penempatan karier

Tidak riskan untuk pendapatan yang fluktuatif

Minus

- Tidak menjadi aset

- Harga tinggi di lokasi strategis

- Potensi sering pindah

Skema Beli

Plus

Memiliki aset

Harga properti semakin naik

Bisa dijadikan income pasif (disewakan)

Minus

Modal awal lebih besar

Keterikatan sesuai dengan tenor

Perlu sisihkan biaya maintenance

Diolah dari berbagai sumber

EDITOR: Dhimas Ginanjar