JawaPos.com - Novel adalah salah satu karya sastra yang memiliki pelbagai genre, salah satunya adalah fiksi-sejarah. Novel sejarah adalah novel yang terinspirasi oleh peristiwa di masa lalu.
Menurut H.B Jassin, dunia novel adalah realitas yang berbeda dengan dunia nyata, di mana para penulisnya memegang otoritas penuh atas dunia yang diciptakannya. Kendati begitu, banyak novel yang isinya terinspirasi dari dunia nyata.
Bagaimanapun bentuknya, novel sejarah karena gaya penulisannya, acapkali membantu pembaca untuk memahami situasi masa lalu dan untuk belajar darinya.
Novel sejarah Pada dasarnya, ditulis untuk dapat mengadaptasi peristiwa masa lampau atau menulis ulang kisah orang-orang berpengaruh yang hidup di masa lalu, si penulis akan melakukan riset secara mendalam demi menyampaikan fakta yang akurat.
Pada 17 Agustus nanti, Indonesia menginjak umurnya yang ke-79. Karena usianya yang sudah menginjak senja, tentu banyak tragedi yang telah dilaluinya. Untuk itu kita membaca, agar kita tidak mengulangi kesalahan yang terjadi di sana.
"Mereka yang tidak mengingat masa lalu. Dikutuk untuk mengulanginya” tulis George Santayana.
Berikut adalah 5 novel berlatar belakang sejarah Indonesia yang wajib kamu baca!
- Tetralogi Pulau Buru – Pramoedya Ananta Toer
Dinamakan Tetralogi Pulau Buru berarti ada empat buku yang bersambung yang sama-sama ditulis ketika si penulis (Pramoedya Ananta Toer) ditahan di Pulau Buru.
Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca mengambil latar belakang di era kolonialisme Belanda. Novel ini melukiskan keadaan bangsa Indonesia yang masih terkena diskriminasi oleh para penjajah.
Minke si tokoh utama berjuang untuk mendapati hak-haknya sebagai manusia yang utuh, tidak dibeda-bedakan. Dia mendambakan kehidupan yang setara seperti di Prancis yang menganut “kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan”. Keempat novel ini menceritakan tokoh Minke dari sejak menjadi siswa di H.B.S hingga dirinya mendirikan koran harian pertama yang dimiliki oleh pribumi yaitu: medan prijaji.
- Laut Bercerita – Leila S. Chudori
Laut Bercerita mengambil latar belakang di Yogyakarta ketika Indonesia di bawah kendali rezim Orde Baru yang dinahkodai Soeharto.
Si tokoh utama Biru Laut Wibisana, mahasiswa UGM bersama teman-temannya mendirikan sebuah organisasi bawah tanah untuk menyuarakan kebenaran yang telah lama dibungkam. Karena dianggap berbahaya, Laut dan teman-temannya ditangkap, disiksa hingga dihilangkan.
Meskipun kelelahan secara fisik dan batin, Laut tetap memegang prinsipnya hingga akhir hayatnya. Dengan membaca novel ini pembaca mendapat gambaran bagaimana situasi politik saat itu.
- Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari
Sesuai judulnya novel ini menceritakan Srintil, seorang ronggeng dari desa dukuh paruk. Ahmad Tohari menulis novel ini dari daerah kelahiran dirinya; Banyumas.
Srintil adalah seorang ronggeng yang lahir di era Orde Lama. Dikatakan dirinya ditakdirkan untuk menjadi ronggeng terakhir desa tersebut. Hal itu belum tergambar hingga pada akhirnya meletus peristiwa 65.
Desa dukuh paruk yang tidak tahu apa-apa ikut terlibat, hanya karena desa tersebut mendapat sponsor dari partai yang dilarang oleh pemerintahan Orde Baru.
- Pulang – Leila S. Chudori
Pulang menceritakan mereka yang tidak bisa kembali ke Indonesia karena dideportasi oleh rezim Orde Baru. Dimas Suryo adalah wartawan yang ditugaskan untuk mengikuti konferensi di Havana, Kuba. Dirinya tidak bisa pulang ke Indonesia hanya karena dia diduga memiliki kedekatan dengan para ‘golongan kiri’.
Selama rezim Orde Baru masih berdiri, ia dan ribuan orang lainnya tetap dianggap sebagai tahanan politik yang menyebabkan mereka tidak bisa pulang ke Indonesia. Keinginan Dimas sebenarnya cukup sederhana, hanya ingin pulang dan mati di tanah kelahirannya, Indonesia, tapi di situ saja ia tak lagi diterima.
- Amba – Laksmi Pamuntjak
"Untuk mereka yang pernah ditahan di Pulau Buru, yang telah memberiku sepasang mata baru” begitu kalimat pembuka buku Amba.
Ini adalah kisah Amba dan Bhisma, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah prahara tahun 1965. Kisah cinta Amba dan Bhisma merupakan pengantar bagi pembacanya memasuki peristiwa mencekam di bulan September 1965.
Amba dan Bhisma dipaksa untuk berpisah karena situasi politik. Bhisma yang terduga terlibat dalam G30S membuat pembaca bisa melihat gambaran kehidupan ribuan tahanan politik yang diasingkan di Pulau Buru dalam kesengsaraan dan penantian untuk bisa pulang.