---
SAYA sering kali mengkritisi jalan hidup pribadi. Kenapa hidup saya begini-begini saja? Bisakah hidup saya lebih bermanfaat? Apa sebetulnya yang saya kejar? Tapi kerap pula itu cuma kritik sekejap, lalu menguap. Tanpa telaah serius, itu sebatas jadi keluhan.
Sebaliknya, kritik diri yang didalami sungguh-sungguh akan terasa dampaknya. Fahruddin Faiz tekun menuliskan serpihan pemikiran dan gejolak jiwa hingga lahirlah Terjemah Rasa. Sebentuk media muhasabah yang tak hanya bagi dirinya, tapi juga para pembaca.
Fahruddin Faiz sosok berperawakan kecil, tapi nama besarnya tak diragukan lagi, terutama bagi pencinta filsafat di Jogjakarta. Sejak 2013 mengampu Ngaji Filsafat yang digelar pekanan di Masjid Jendral Sudirman. Sudah ada ratusan pertemuan dan ratusan santri yang mendengar kajiannya.
Buku keenamnya di MJS Press, pihak yang juga memprakarsai Ngaji Filsafat, berupa sehimpun catatan atas pemaknaan seputar aku, hamba, dan cinta, yang disajikan dalam narasi pendek dan puisi bebas.
Tiga topik besar itu dibagi jadi bab masing-masing ”Kau Kira Aku Ada?”, ”Meniti Jalan Cahaya”, ”Cinta Itu Lagi”. Sedangkan satu bab lagi, ”Anak-anakku Kalian Manusia Juga Hamba”, lebih berupa wejangan dan tuntunan pada kaum muda agar selalu mengukur diri dan berpegangan pada-Nya.
Buku curahan rasa ini agak beda dari buku Fahruddin sebelumnya yang amat kental bernuansa filsafat. Misal Sebelum Filsafat (2018), semacam pengantar ilmu filsafat; Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika (2020) tentang bias dan kesalahan berpikir/tuntunan berpikir logis; Lintasan Perspektif (2020) yang membahas topik dan tokoh fundamental dalam kajian filsafat.
Lantas, apakah Terjemah Rasa bukan tulisan filsafat? Untuk menjawabnya, kita perlu meminjam penjelasan pendiri Rumah Filsafat, Reza A.A. Wattimena. Menurutnya, ada empat tujuan tulisan filsafat. Pertama, mengganggu kebiasaan/status quo, yakni tidak memakai pemikiran kritis alias hanya ikut arus. Semangatnya dari Socrates, di mana filsafat sebagai lalat pengganggu yang memaksa orang berpikir dan berevaluasi. Kedua, mengganggu ketidakberpikiran, yakni hidup yang hanya mengikuti pakem. Misalnya, hidup haruslah kuliah-menikah-punya anak-tua-sakit-wafat. Ketiga, demitologisasi dan kritik ideologi, yakni membongkar cara pikir yang tak sesuai realitas atau mengkritisi kebekuan cara pikir terkait tradisi/praktik lama yang dianggap benar karena umum dilakukan. Keempat, bisa menawarkan solusi. Ini biasa muncul sendiri ketika mengkritik.
Kembali ke tanya di atas, saya kira Terjemah Rasa termasuk tulisan filsafat. Buku ini bentuk gugatan atas status quo diri sendiri serta upaya memaknai lagi tapak tilas hidup. Sedangkan upaya memaknai hidup adalah bukti kritis atas jalan hidup yang hanya ikut arus.
Saya sempat melahap teks dengan mode cepat, tapi tampaknya itu bukan cara tepat menikmati buku ini. Saya rasa, membaca buku ini harus beritme pelan seperti gaya tutur lisan Fahruddin saat ceramah filsafat. Agar tak cuma teks yang terbaca, tapi juga subteks yang tersembunyi mampu ditangkap dan dimaknai dengan baik.
Fahruddin menghadirkan sosok rekaan berkarakter alim-bijak demi mengantar pesan tanpa terkesan menggurui. Ada pria bertutur lembut, pemuda berwajah cahaya. Lain waktu lewat Pak Yai, guru mulia, bahkan lewat bayangan di cermin. Misalnya, dalam penggalan sajak Cermin #2 (halaman 37).
Di depan cermin/Merenungi bayang itu, tampak wajah asliku//Di hadapan bayangan aku berkata:/Diri ini punya banyak kelemahan/Bayangan itu berkata:/Diri ini punya banyak kelebihan//Di hadapan bayangan aku berkata:/Aku juga bisa salah/Bayangan itu berkata:/Aku lebih baik dari lainnya//.
Berpusat pada ”aku”, Fahruddin secara apik mengajak muhasabah tanpa berceramah. Satu waktu Fahruddin mempreteli keagungan diri. Misalnya, lewat kisah guru menyemprot muridnya yang dinilai ”nggaya dan mbagusi” (halaman 82).
Sang guru lalu menggugat rekam jejak murid: sudahkah menasihati diri kok percaya diri menasihati orang, sudahkah tertata hidupnya kok berniat menata hidup orang, sudah pastikah selamat hidupnya kok mau menyelamatkan orang lain.
Lain waktu lebih dalam lagi, yakni evaluasi intern sampai tahap melucuti eksistensi diri. Lewat penggambaran pemuda asing menitip sepucuk pesan yang menuntun ”si aku” menjawab kegelisahan soal siapa dirinya, Fahruddin mengajak merenung (halaman 31): tiada itu hakiki, diadakan itu esensi, mengada itu eksistensi, merasa ada itu ego pribadi, ingin (dianggap) ada itu ambisi, mengada-ada itu nafsu duniawi, kehilangan ada itu kodrati, tiada itu kembali hakiki.
Dengan rendah hati Fahruddin memasrahkan segala tumpahan rasa bermuatan introspeksi itu kepada kata- kata, membiarkan pembaca menemukan makna-makna baru seputar hidup lewat buku Terjemah Rasa.
”Menerjemahkan rasa ke dalam kata memang tidak sesederhana membunyikan pikiran ke dalam suara atau menuangkan pemahaman ke dalam cerita. Kata-kata akan memenjara rasa dan mengurungnya dalam pagar arti dan definisi. Namun demikian, kata-kata juga yang akan mampu mengundang jutaan makna lain yang berbeda” (halaman 8). (*)
- Judul: Terjemah Rasa
- Penulis: Fahruddin Faiz
- Penerbit: MJS Press Jogjakarta
- Cetakan: I, Juli 2021
- Tebal: 164 halaman
- ISBN: 978-623-91890-8-2
*) AHADA RAMADHANA, Penulis dan pekerja media daring