← Beranda

Ensiklopedia Musisi

Ilham SafutraMinggu, 10 Mei 2020 | 23.00 WIB
Photo
Buku ini menyatukan informasi yang berserakan. Membingkainya sehingga menjadi satu kesatuan yang diakronis. Namun, lebih banyak berisi informasi umum dan tanpa ulasan kritis.

---

UNTUK apa membaca buku yang berisi tentang profil musisi atau kelompok musik idola jika publik bisa langsung mengakses ”belakang panggung” dengan mem-follow media sosialnya? Bukankah yang demikian itu justru terasa lebih intim?

Pada satu sisi berita yang disuguhkan lebih baru serta hangat dan pada sisi lain publik dapat langsung bertegur sapa dengan musisi. Tapi, musik terus hidup dan berkembang. Nasib musisi mungkin akan terlupakan, tergantikan dengan musisi lain yang lebih mampu diterima pasar. Pada konteks itulah pencatatan tentang ”ensiklopedia” musisi menjadi penting untuk dilakukan. Setidaknya menjadi bekal dalam mengonstruksi peta perkembangan musik pop tanah air yang selama ini dirasa masih gelap.

Buku Dua Dekade Musik Indonesia 1998-2018 adalah sebentuk ikhtiar dalam mewujudkan cita-cita mulia itu. Buku ini dibuat berdasar 5 kategori, yakni 10 besar band Indonesia tahun 1945-1997, 10 besar band Indonesia tahun 1998-2018, daftar 100 band Indonesia tahun 1998-2018, daftar penyanyi Indonesia tahun 1998-2018, serta kronik berita-berita seputar musisi dan kelompok musik yang pernah dimuat koran-koran nasional.

Batasan tahun menjadi penting agar pembaca mengetahui dengan jelas kronologi musisi maupun kelompok band yang pernah eksis di belantika musik tanah air. Setidaknya dengan membacanya kita menjadi tahu bahwa sejarah musik di negeri ini dibangun dari proses yang panjang.

Band legendaris seperti Bimbo, Koes Plus, Swami, Dara Puspita, Dewa 19, God Bless, Slank, Sheila on 7, dan Naif termasuk dalam 10 besar band di Indonesia yang memberikan pengaruh penting. Mereka tidak saja menciptakan bunyi dan nyanyian, tapi juga gaya hidup di zamannya.

Tentu kita masih ingat tembang Kangen dari Dewa 19 yang masih disenandungkan hingga kini oleh pemuda dimabuk asmara yang terpisah jauh dari kekasih pujaan. Begitu juga Bento dan Bongkar dari Swami sebagai representasi musik kritik bagi penguasa Orde Baru kala itu.

Lewat musik kita tidak saja menikmati suara, tapi juga kisah. Swami yang digawangi Iwan Fals, Sawung Jabo, dan Toto Tewel hanya mampu membuat dua album, Swami I (1989) dan Swami II (1991), karena setelah itu mereka tak mendapatkan izin manggung dari penguasa. Karena itu, judul dalam buku ini untuk band tersebut terasa sangat pas, dua kali berarti, setelah itu mati (halaman 22).

Banyak musisi maupun kelompok band yang sekadar hadir sekilas mengisi waktu, menemani dengan karya yang sekadar enak untuk didengar tapi terlalu mudah untuk dilupakan. Karya yang demikian sering kali mengandalkan sensasi, bukan kualitas.

Akibatnya, tidak jarang saat membuka lembaran-lembaran kertas dalam buku ini, kita dihadapkan pada nama beberapa musisi maupun band yang asing. Sesekali kita dipaksa mengingat seperti apa karya mereka.

Buku ini memang hanya berisi profil, tidak disertai ulasan kritis tentang karya maupun konteks di selingkarnya. Tidak dijelaskan pula alasan pemilihan musisi atau band dalam buku ini, sementara banyak musisi lain tidak tercatat. Sebutlah, misalnya, Didi Kempot, penyanyi pop Jawa yang sudah malang melintang di industri musik negeri ini.

Tanpa harus membaca buku ini, sejatinya kita juga dapat dengan mudah menemukan ulasan serupa di kanal-kanal virtual. Keunggulan buku ini adalah mampu menyatukan informasi yang berserakan. Membingkainya sehingga menjadi satu kesatuan yang diakronis.

Namun, sekali lagi, buku ini lebih banyak berisi informasi umum. Barangkali karena dihimpun dari berbagai sumber dan diulas tim yang tidak memiliki kecakapan lebih di bidang musik.

Lewat judul Dua Dekade Musik Indonesia, niscaya dapat disertakan rentetan jejak ”perjalanan pasang surut” industri musik. Bukankah musisi maupun band yang termuat di buku ini berada dalam dikotomi persoalan -kasus- industrial yang berbeda.

Musisi yang eksis di tahun ’90-an (juga di bawah itu), misalnya, hidup dalam zaman di mana industri musik negeri ini sedang bergairah. Ukuran keberhasilan dihitung dari seberapa banyak kaset (pita) yang terjual di pasaran.

Pembajakan tentu ada, tapi tidak semarak sekarang. Karena itu, kualitas karya menjadi sangat diperhitungkan. Dewa 19 dan Sheila on 7 adalah contoh ideal. Mereka harus berjibaku meluluhkan hati banyak produser ibu kota agar bersedia mensponsori karya-karya masing-masing. (*)




*) ARIS SETIAWAN, Etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta




JUDUL BUKU: Dua Dekade Musik Indonesia 1998-2018
PENULIS: Kelik M. Nugroho
PENERBIT: Kepustakaan Populer Gramedia
CETAKAN: 2020
TEBAL: 355 halaman
ISBN: 978-602-481-309-3
EDITOR: Ilham Safutra