JawaPos.com - Anak-anak dan ibu-ibu mengalami trauma atas bencana banjir bandang yang melanda tiga provinsi di Sumatera. Baik itu Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Utara (Sumut), dan Aceh. Trauma itu mesti dipulihkan dengan melibatkan psikolog untuk trauma healing.
Trauma healing itu difokuskan untuk warga yang berada di pengungsian dampak banjir bandang. Contohnya di Kota Padang. Posko bantuan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Padang dipusatkan di kawasan Belimbing, Kecamatan Kuranji.
Feri Mukli selaku penanggung jawab Posko PSI Kota Padang mengatakan, selain pemenuhan kebutuhan dasar, posko bantuan juga mulai memberikan layanan trauma healing bagi para penyintas.
“Kepada anak selanjutnya akan masuk kepada orang dewasa, seperti melakukan senam dan juga kami rencana akan menyewa mobil untuk mereka jalan-jalan ke sekitaran Kota Padang. Karena kami yakin mereka jenuh juga di posko terus,” ujar Feri ketika dihubungi, Kamis (4/12).
Feri menyebut, kondisi para pengungsi relatif stabil dan tidak ada keluhan kesehatan darurat. Namun tidak dapat dipungkiri, ada sejumlah pengungsi yang memiliki penyakit bawaan sejak sebelum bencana melanda.
Baca Juga: Walhi Sebut Bencana Banjir dan Longsor Sumatera Diperparah Kerusakan Lingkungan Sejak Era Soeharto
Untuk pelaksanaan trauma healing, PSI menggandeng mahasiswa psikologi dari UIN Imam Bonjol Padang agar pendampingan dilakukan secara terarah. “Kami ajak adik-adik mahasiswa dari jurusan psikologi UIN Imam Bonjol Padang dan dibantu kader PSI,” jelas Feri.
Menurut dia, masih ada sejumlah kebutuhan yang sangat mendesak bagi para penyintas. Bantuan ituberkaitan dengan kebutuhan harian yang tidak banyak tersedia di posko. “Vitamin, susu dan pakaian dalam, untuk baju ganti alahmdulillah sudah banyak masyakat yang menyumbang,” ungkapnya.
Adapun kegiatan trauma healing diikuti oleh puluhan anak pengungsi. “Lebih kurang 25 orang. Kemaren kami libatkan juga beberapa anak dekat posko, sebagai memancing keceriaan. Dari anak" korban banjir,” kata Feri.
Menurut Feri, keterlibatan anak-anak sekitar posko juga membantu menciptakan suasana yang lebih ceria dan mengurangi tekanan psikologis bagi anak-anak terdampak bencana. Upaya yang dilakukan posko PSI Belimbing ini diharapkan dapat membantu penyintas—khususnya anak-anak—memulihkan kondisi mental mereka setelah mengalami bencana besar.
Baca Juga: TNI AL Kirim Kapal Tanker, Pasok Bahan Bakar untuk Warga di Daerah Terdampak Bencana Sumatera
770 Orang Meninggal, 463 Masih Hilang
Sebagaimana diketahui, jumlah korban meninggal dunia dan korban hilang pasca bencana alam di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) berdasar catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah menyentuh angka 1.233 orang.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, korban meninggal dunia dan korban hilang sampai Rabu malam (3/12) sudah lebih dari seribu orang. Rinciannya sebanyak 770 korban meninggal dunia dan 463 korban hilang.
”Secara total korban meninggal yang sudah tervalidasi dan terverifikasi itu 770 jiwa dan korban hilang yang masih dalam pencarian 463 jiwa,” ungkap dia.
Rinciannya, jumlah korban meninggal dunia di Aceh sebanyak 277 orang, kemudian korban hilang dan masih dalam pencarian 193 orang.
Di Sumut, korban meninggal dunia sebanyak 299 orang dan korban hilang 159 orang. Sementara di Sumbar korban meninggal dunia 194 orang dan korban yang masih hilang 111 orang.
Tidak hanya korban jiwa dan korban hilang, laporan terbaru dalam Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Provinsi Aceh, Sumut, dan Sumbar mencatat 2,6 ribu korban luka; 3,2 juta jiwa terdampak, dan lebih dari 746,2 ribu korban kini masih berada di lokasi pengungsian.
”Pencarian dan pertolongan korban, secara total kita masih ada sekitar 463 korban yang hilang. Saat ini tim Basarnas beserta Tim Gabungan TNI-Polri dan relawan masih terus melakukan upaya pencarian,” jelasnya.
Kemudian, lanjut dia, adalah pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Dia mengakui tugas itu menjadi salah satu tantangan terbesar lantaran masih ada beberapa kendala di lapangan seperti keterbatasan akses.
Pemulihan sektor transportasi juga menjadi salah satu prioritas. BNPB sudah mendapat arahan dari presiden, yakni penanggulangan bencana di 3 provinsi itu menjadi prioritas nasional.
”Sesuai yang disampaikan oleh presiden bahwa penanganan bencana di 3 provinsi ini merupakan prioritas nasional,” imbuhnya.