← Beranda

Mewariskan Keahlian Kerajinan Keramik Dinoyo di Era Digital Bisa Kepada Siapa Saja

Ilham SafutraSenin, 6 Januari 2025 | 05.22 WIB
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mencoba membentuk keramik dari tanah liat di Kampung Wisata Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Sabtu (4/1). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)

JawaPos.com - Para pengrajin keramik di Kampung Wisata Keramik Dinoyo dihadapkan dengan ancaman kelestarian dan keberlanjutan para pengrajin yang mulai menurun terhadap keramik.

Betapa tidak, kini di kampung yang berada di Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang jumlah pengrajin dan pedagang keramik hanya bersisa 24 orang. 10 di antaranya adalah pengrajin dan sisanya pedagang.

"Sekarang cuma segitu yang tersisa pengrajinnya," ungkap Juwadi, salah satu pengrajin keramik di Dinoyo kepada JawaPos.com pada Sabtu (4/1).

Pengrajin keramik 58 tahun itu menyadari saat ini anak-anak atau generasi muda di Dinoyo tidak begitu tertarik menjadi pengrajin keramik. Mereka lebih memilih merantau atau menekuni bidang lain sebagai profesinya. Sehingga, kerajinan keramik hanya dilakoni oleh orang-orang sudah berusia cukup berumur. "Ada yang muda tapi sangat sedikit," ujar pria yang mulai menekuni kerajinan keramik sejak 1995 itu.

Dalam mengantisipasi terputusnya ilmu kerajinan keramik, Juwadi bersama pengrajin keramik lainnya berusaha menularkan ilmu keahlian keramik itu kepada siapa saja. Tidak mesti kepada anak-anaknya atau anak-anak di Dinoyo. "Kepada siapa saja yang datang ke sini untuk belajar membuat keramik kami para pengrajin sangat bersemangat sekali mengajarkan ini. Karena keramik Dinoyo ini sangat terkenal di berbagai daerah dan luar negeri," ujarnya.

Bagi dia tidak masalah keahlian keramik itu akan berkembang di daerah lain. Yang penting keramik-keramik asal Dinoyo atau Indonesia tetap berkembang, meskipun tidak di Dinoyo. "Kawasan ini selain tempat kerajinan juga jadi tempat wisata edukasi, terutama edukasi belajar proses membuat keramik," ungkapnya.

Sehingga demikian setiap pekan selalu ada wisatawan datang ke Dinoyo hanya sekadar ingin tahu bagaimana cara membuat keramik dengan bagus. Mulai dari tanah liat basah, dibentuk, dikeringkan, diwarnai, dibakar, dan diberi pengkilap.

Keramik Custom dan Cetakan

DENGARKAN PENJELASAN: Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat berkunjung Kampung Wisata Keramik Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Sabtu (4/1). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)
DENGARKAN PENJELASAN: Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat berkunjung Kampung Wisata Keramik Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Sabtu (4/1). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)

Saat ini pembuatan keramik di Dinoyo lebih banyak dengan teknologi, yakni menggunakan cetakan. Alasannya untuk memenuhi pesanan skala banyak dengan waktu pembuatan yang sangat singkat. Sebab, keramik-keramik yang dibuat di Dinoyo biasanya dipesan konsumen dalam jumlah besar dengan jenis hampir sama. Harganya tentu beragam. Mulai dari Rp 25 ribu hingga jutaan rupiah.

"Untuk keramik seharga Rp 25 ribu biasanya pesanan minimal 200 keramik. Untuk pembuat sebanyak itu bisa satu hingga dua minggu. Kalau tidak pakai cetakan tidak mungkin bisa selesai dibuat dalam waktu dua minggu," ujarnya.

Pasalnya, untuk pembuatan keramik manual berbentuk candy lebih berupa custom kerap dikerjakan satu hingga dua minggu untuk satu keramik. "Makanya yang custom itu harganya lebih tinggi karena membutuhkan nilai seni yang tinggi," tandasnya.

Pemasaran Keramik di Dinoyo Sudah Digital

TERUS AJARKAN SEMANGAT MEMBUAT KERAMIK: Juwadi, pengrajin keramik di Kampung Wisata Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Sabtu (4/1). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)
TERUS AJARKAN SEMANGAT MEMBUAT KERAMIK: Juwadi, pengrajin keramik di Kampung Wisata Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Sabtu (4/1). (ILHAM SAFUTRA/JAWAPOS.COM)

Eksistensi Kampung Wisata Keramik Dinoyo mendapat apresiasi dari Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid. Apresiasi itu sampaikan langsung saat dia berkunjung ke Dinoyo pada Sabtu (4/1).

Apresiasi itu tidak sekadar bertahannya Dinoyo dalam menghasilkan keramik, tetapi pemasaran keramik yang dilakukan anak muda di sana sudah berbasiskan digital. Tidak lagi konvensional.

Menurut Meutya, keramik merupakan salah satu barang yang dapat dengan mudah menembus pasar internasional. Para pelaku UMKM perlu mempelajari digitalisasi agar penjualan keramik bisa memperluas target pasar karena transaksi pembayaran yang mudah dilakukan, salah satunya pembayaran digital seperti QRIS.

Di samping itu, untuk mengembangkan ilmu kerajinan keramik tidak lagi harus secara konvensional kepada anak muda. Bisa memanfaatkan teknologi baru, seperti memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pemanfaatkan AI dapat membantu menarik minat masyarakat dari usia muda melalui konten-konten pembuatan keramik atau pemasaran yang menarik.

"Adanya AI juga membantu pelaku UMKM mempelajari tren keramik apa yang sedang diminati oleh masyarakat atau mempelajari teknik baru dari pengrajin keramik mancanegara," ujarnya.

Dengan perkembangan teknologi baru di dunia digitalisasi, kata Meutya, Pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan pendampingan pada para pelaku UMKM dalam mempelajari teknologi baru dan menciptakan regulasi yang tepat untuk menjaga keberaturan penggunaannya.

“Kecerdasan artificial (AI) ini teknologi yang akan merevolusionir banyak hal, termasuk UMKM. Jadi kalau digitalisasi itu kita mendorong pertumbuhan lebih cepat, tapi dengan kecerdasan artificial ini nanti masuk semakin banyak lagi sekarang sudah, itu akan merevolusi cara-cara kita ber-UMKM,” ujar Meutya.

Dalam kunjungannya tersebut, Meutya meminta pemerintah daerah untuk memberikan pendampingan pada pelaku UMKM yang ada, agar teknologi yang ada dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal.

EDITOR: Ilham Safutra