Jumlah penghuni di Dusun Ngendak, Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Pacitan, selalu tidak lebih dari 10 kepala keluarga (KK). Kalaupun lebih, itu tidak akan bertahan lama. Sebab, sesuatu yang tidak baik akan menghampiri KK baru. Karena itu, mereka harus segera pindah.
---
DUSUN Ngendak terletak di atas gunung. Jaraknya dari Kota Pacitan sekitar 20 kilometer. Akses menuju lokasi hanya bisa dilalui dengan sepeda motor atau jalan kaki. Maklum, tanjakannya sangat curam. Belum lagi saat hujan. Berbahaya dan berisiko.
Berada di atas gunung, Dusun Ngendak sangat sunyi dan sejuk. Ditambah suara aliran air dari atas gunung. Benar-benar terasa di tengah alam. Sebenarnya tidak ada yang membedakan kampung tersebut dengan permukiman lainnya. Namun, kondisinya sepi. Maklum, hanya ada sembilan rumah. Itu pun, ada yang dibiarkan kosong.
Dusun Ngendak kerap dijuluki Kampung Pitu. Sebab, hanya ada 7 KK di situ. Kondisi tersebut berlangsung sejak lama. Namun, saat Jawa Pos bertandang ke sana November lalu, jumlahnya sudah menjadi 8 KK. Total ada 24 orang yang tinggal di sana. Sebetulnya, bertambahnya KK sering terjadi. Tapi, ada saja kejadian yang tak mengenakkan. Karena itu, ada yang mengalah keluar kampung agar jumlah KK tak bertambah.
Solekhan, salah seorang warga Dusun Ngendak, menceritakan, kampungnya tidak pernah dihuni lebih dari 10 KK. Saat lebih dari 7 KK, sering kali ada kejadian. Khususnya di KK yang baru. Mulai tidak kerasan, konflik, cerai, meninggal dunia, hingga persoalan lainnya. ’’Pokoknya, akhirnya mereka tidak tinggal di sini,’’ ucapnya.
Pernah juga ada warga yang sudah membangun rumah. Tiba-tiba, saat pisah KK dengan keluarga besarnya, istrinya tidak betah. Akhirnya mereka ikut ke rumah istrinya di Jawa Tengah. Sedangkan anaknya nomor dua meninggal. Percaya atau tidak, kata Solekhan, cerita tersebut nyata. Dia tak tahu kenapa itu bisa terjadi. Namun, masyarakat mengaitkan hal tersebut dengan tokoh ulama yang pernah singgah ke kampung.
Pada zaman penjajahan, Dusun Ngendak menjadi persembunyian para ulama dari kejaran Belanda. Sebab, dari bawah, Belanda tidak melihat keberadaan Dusun Ngendak di ketinggian. Keberadaan para ulama itu dibuktikan dengan beberapa benda peninggalan.
Salah satunya, petilasan pendedehan. Petilasan itu berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 3 meter. Tempat tersebut dulu digunakan untuk berjemur Mbah Nolosuto dan para ulama. Lokasinya berdekatan dengan sungai. Menurut Solekhan, dulu Mbah Nolosuto berjemur di sana setelah kedinginan menyeberangi sungai.
Saat itu, para leluhur juga mewanti-wanti. Kampung tersebut tidak boleh dihuni banyak orang. Semua penghuni juga masih saudara. Solekhan sendiri adalah keturunan keempat. Menurut dia, ada pantangan bagi yang datang ke kampung. Yakni, tidak boleh membawa niat buruk. ’’Dulu ada PKI masuk ke sini, tiba-tiba lari dan akhirnya tertangkap,’’ ucap sesepuh dusun tersebut.
Pernah juga, lanjut dia, ada orang luar datang meminta nomor togel. Tepatnya di petilasan pendedehan. Belum sempat ritual, dia kabur dikejar bola api sampai tidak bisa berdiri. Konon, pemimpin yang tidak bersih juga dilarang datang. Sebab, jabatannya bisa segera hilang.
Petilasan lainnya ada di sungai. Sebuah cekungan batu dipercaya dulu sebagai tempat wudu ulama. Bahkan, di batu tersebut terdapat dua lubang kecil seukuran tempurung lutut. Konon, itu adalah bekas lutut ulama saat sedang membuat tempat wudu.
Sebuah masjid kecil juga menjadi bukti jejak ulama di Dusun Ngendak. Bangunan tersebut diduga berusia ratusan tahun. Masyarakat menyebutnya sebagai masjid tertua di Pacitan. Empat kayu besar sebagai tiang bangunan masih dibiarkan asli. Begitu juga lantai dan kubahnya. ’’Kubahnya ini unik dari semacam lempengan dan tidak ada di masjid lain,’’ kata pria 65 tahun itu.
Setiap 27 Rajab, Dusun Ngendak ramai pengunjung. Khususnya anak pondok. Mereka datang untuk bersalawat dan memanjakan doa. Mengingat, tempat tersebut menjadi salah satu lokasi penyebaran Islam di Pacitan. Beberapa wali waktu itu juga pernah berkumpul di sini.
Sementara, pada Jumat Pon, Jumat Wage, dan Pahing, warga Dusun Ngendak selalu mengadakan pengajian dan salawatan di masjid. Hal tersebut dilakukan penduduk sejak lama. Termasuk menghormati para leluhur.