JawaPos.com - Salah satu pria asal Desa Winongsari, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri bernama Agung Wicaksono ini sebelumnya pernah terjun di dunia modeling, hingga dinobatkan sebagai Putra Batik Kabupaten Kediri pada 2019.
Meski pernah menjadi Putra Batik Kabupaten Kediri, kehidupan pria yang akrab disapa Agung ini tak seindah saat dirinya menerima penghargaan beberapa tahun silam.
Alumnus SMKN 1 Ngasem ini sempat mengurungkan niatnya untuk mencicipi bangku kuliah meskipun sudah diterima di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.
"Saya tak bisa ambil karena digandoli sama bapak," kenang Agung, dikutip dari Radar Kediri (Jawa Pos Group), Rabu (24/1).
Akhirnya Agung memutuskan untuk mencari pekerjaan dan diterima di salah satu minimarket.
"Lama-lama saya tak betah karena disuruh-suruh terus. Akhirnya ketemu teman saya, bapaknya usaha tahu," kenangnya.
Dari tempat orang tua temannya, Agung akhirnya belajar untuk membuat tahu. Dia mencermati setiap proses pembuatan tahu hingga dirinya bisa memproduksi sendiri tahu.
Tidak berhenti di situ, bagi pemula seperti Agung, memasarkan produk tahun yang sudah dibuatnya justru menjadi tantangan yang tak mudah untuk dirinya.
"Itu saya keliling ke desa-desa. Masih awal-awal sampai keempat desa. Itu pun hari pertama cuman laku sepuluh biji," kenang Agung.
Pria yang memiliki tinggi badan 164 sentimeter ini tak menyerah begitu saja. Meski seminggu pertama dirinya hanya bisa menjual tahu 10 biji, tahu yang tak terjual di hari itu dipasarkan lagi keesokan harinya. Bahkan terkadang dibantu oleh temannya.
Saat itu Agung juga masih malu-malu dalam menjual tahu. Apalagi ketika berjualan pembelinya kebanyakan ibu-ibu yang suka mengajaknya ngobrol.
Baca Juga: Gaikindo Siapkan Sejumlah Pameran Otomotif Menarik di 2024, GIIAS dan Imos Dijanjikan Makin Seru
"(Ibu-ibu itu) kalau manggil mas ganteng.. mas ganteng," ceritanya dengan tersipu malu.
Meski pernah menjadi Putra Batik Kabupaten Kediri, Agung tidak pernah merasa malu melakoni semuanya. Dirinya tidak pernah memperdulikan cibiran dan pandangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Nggak malu sama sekali. Selama halal ya nggak masalah," ucapnya dengan percaya diri.
Setelah satu bulan berjualan tahu keliling, akhirnya Agung mulai memiliki pelanggan dan pendapatnya juga bertambah. Dari hasil berjualan tahu, dirinya bisa menabung dan menyiapkan modal untuk tempat produksi tahu sendiri.
Di sisi lain, Agung juga terus berinovasi dengan membuat resep rahasia agar tahu yang diproduksinya memiliki cita rasa yang berbeda dari tahu lainnya.
Namun usaha tersebut tidak berjalan mulus begitu saja. Agung sempat kekurangan modal ketika akan membangun tempat produksi tahu.
Selain itu, dirinya sempat banting setir dan meninggalkan usaha tahu tersebut karena memiliki persoalan dengan teman yang mengajarinya membuat tahu.
Akhirnya pada 2022 Agung ikut temannya menjadi penyelenggara event, yakni konser Denny Caknan dan Happy Asmara di Kabupaten Kediri.
"Dari situ saya ketemu teman lagi. Saya dibantu modal untuk usaha tahu," terangnya.
Setelah mendapatkan modal, dia pun kembali membangun tempat usahanya. Tahu yang diproduksi Agung juga semakin digemari banyak pelanggan.
Bahkan Agung sudah bisa merekrut karyawan sendiri. Usaha tahunya pun dalam sehari bisa memproduksi hingga 1.200 biji.
Tak ingin berhenti sampai di situ, Agung kembali berinovasi dari tahu yang diproduksinya dikembangkan menjadi usaha tahu tek.
"Jadi ada dua orang yang bekerja di gerobak tahu tek. Lalu yang di tempat produksi ada tiga orang," jelasnya.
Meski sempat dinobatkan sebagai Putra Batik 2019 dan menyabet juara kostum terbaik, dia tidak malu dan tidak menutup-nutupi kisah hidupnya sebagai penjual tahu keliling.
Justru Agung mampu mengubah cibiran orang-orang terhadap dirinya menjadi hal yang positif.
"Jadi dulu ada yang menyepelekan, katanya saya pendek jadi nggak bisa ikut ajang-ajang (pemilihan). Itu waktu dulu saya masih MTs. Terus saya akhirnya memberanikan diri saat SMK, karena saya patah hati," ucapnya.