"Tinju sudah menjadi hidup saya. Sudah jadi darah daging saya. Dan saya tidak mau berhenti"
Prayugo Utomo, Medan
Seorang lelaki terlihat tampak kesulitan menggulung hand wrap di kedua tangannya di gelanggang olahraga di Jalan Williem Iskandar, Kota Medan.
Setelah hand wrap lusuh itu terpasang, laki-laki bernama Ardian Siregar itu melanjutkan lari-lari kecil berkeliling pelataran. Itu dilakukannya sebanyak lima kali kelilin, silanjut dengan stretching.
Tak lama berselang, datang seorang laki-laki berbadan tegap. Otot lengannya menunjukkan dia rajin berolahraga. Ternyata itu Yudi Stones. Pelatih Ardian jelang pertandingan profesionalnya di Singapura.
Begitu Yudi datang, Ardian langsung memasang sarung tinju berwarna hitam. Sarung tinju hitam tersebut tampak tak baru lagi. Beberapa kulitnya sudah terkelupas. Tapi masih bisa dipakai untuk latihan.
"Ardian, kesini kau," kata Yudi yang memakai kaus merah,Rabu (28/11).
Ardian bergegas. Yudi yang mantan juara tinju nasional, memberikannya arahan. Kemudian mereka langsung berlatih. Yudi memasang Punch Mit (pad yang digunakan untuk latihan) di tangan. Keduanya langsung sparing ringan.
Sesekali keduanya berhenti. Sambil menjelaskan strategi yang akan dipakai melawan Karroum Abdelelah, petinju asal Prancis.
Ardian mengangguk, kemudian latihan dilanjut. Semangat ditunjukkan meski tidak berada di sasana. Suara pukulan begitu keras. Keringat pun semakin deras mengucur di badan keduanya.
Usai latihan, JawaPos.com mendapat kesempatan berbincang dengan Ardian. Laki-laki yang juga pengemudi ojek online ini akan berangkat ke Singapura seorang diri, Kamis (29/11) pagi. Tidak ada manajemen ataupun kolega yang mendampingi laki-laki 34 tahun itu disana.
"Gak ada biaya bang. Ini ajah berangkat dana sendiri," kata Ardian, Rabu (28/11).
Keterbatasan dana itu tidak menyurutkan langkahnya. Keinginan yang kuat mengantarkannya ke ajang The Ring Fighting Championship meski tidak ada kontribusi dari pemerintah. Tinju di Sumatera Utara (Sumut) katanya, memang seakan 'mati suri'.
Jumlah atletnya banyak. Dari yang muda hingga yang berumur, tetapi pertandingan minim. Sehingga kerap kali petinju kelas amatir tidak berkembang.
Bagi Ardian, tinju sudah menjadi passion. Karir bertinju sudah dimulainya sejak dia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tepatnya di kelas Amatir 1996 silam.
Dua tahun di kelas amatir, bapak dua anak itu pindah kelas ke profesional. Berharap banyak pertandingan yang akan diikutinya.
Alhasil, dia mendapat 12 sabuk emas dari berbagai kejuaraan. Selain itu banyak medali yang dia dapat dari pertarungan yang dilakoninya.
"Kalau dulu masih banyak kejuaraan. Saya juga pernah ikut gelaran tinju di Indosiar yang sempat tenar dulu," kata suami dari Retno Kartika Wardani ini.
Namun impiannya menjadi petinju profesional jauh dari yang dibayangkan. Dia tidak fokus karena harus menafkahi keluarga. Tidak seperti atlet luar negeri yang punya fasilitas hingga gaji dan tunjangan.
Untuk menyambung hidup, Ardian menjadi petugas keamanan atau Satpam di salah satu perusahaan penyalur. Dia mengandalkan kemampuan fisik dan beladirinya.
Laki-laki yang memiliki tinggi 165 cm ini juga rangkap profesi sebagai pengemudi ojek online. Karena penghasilannya satpam belum juga mencukupi biaya hidup di Kota Medan.
Keberangkatannya ke Singapura menjadi momen yang tidak terlupakan bagi Ardian. Karena dia akan diantar oleh ratusan rekannya pengemudi Ojek Online ke Bandara Kualanamu.
"Tinju sudah menjadi hidup saya. Sudah jadi darah daging saya. Dan saya tidak mau berhenti," ujarnya.
Kata dia, tinju di Sumut tidak maju karena minim partisipasi dari pemerintah. Sehingga para promotor juga enggan membuat kompetisi. Imbasnya, hanya sedikit yang menjadi manajer dari atlet. Karena penghasilannya tidak bisa dijanjikan.
"Kita disini atlet tidak punya Ayah Angkat (manajer). Jadinya kita ya berjuang sendiri. Apalagi begitu banyak organisasi yang menaungi tinju ini. Beda kelas, beda organisasi. Perhatian pemerintah sangat kurang," katanya.
Itu juga yang membuat Ardian tidak punya sasana. Untuk latihan di Ring biasanya dia menumpang ke beberapa sasana.
Terkadang dia juga merasa sungkan kepada pemilik sasana. Karena harus meminjam ke sana kemari. Namun apa boleh di kata. Memang begitu nasib petinju seperti Ardian.
Di Singapura, Ardian akan membawa nama Indonesia. Harapannya cuma satu. Memenangkan pertarungan dari petinju Perancis yang lengkap fasilitasnya.
"Intinya saya mau menang. Saya bawa nama Sumut dan Indonesia. Semoga bisa semakin harum nama tinju kita di Nasional dan Internasional," tandasnya.
Yudi Stone juga memberikan komentar serupa. Dia ingin Ardian menang. Meskipun dengan keterbatasan materi dan fasilitas latihan.
Yudi baru melatih Ardian sebulan terakhir. Itu pun karena diminta. Yudi yang kini menjadi pegawai di Dispora Sumut mengajarinya banyak trik.
"Hanya satu bulan belakangan ini. Teknik fisik saya poles ke Ardian. Mudah-mudahan membawa hasil yang baik. Semoga juga promotor trinju dunia melirik Ardian," katanya.
Soal kondisi miris tinju di Sumut dia juga mengkritik pemerintah. Kata Yudi, harusnya pemerintah bisa turun tangan langsung menggaet atlet-atlet. Paling tidak memperbanyak event.
"Beberapa tahun belakang tinju kita mati suri. Baik profesional dan amatir. Kalau di jawa begitu antusias mereka membangkitkan tinju profesional," paparnya.
Dia berkaca pada era 1990 an. Petinju Sumut begitu disegani. Banyak nama besar yang dihasilkan dari Sumut. Syamsul Anwar Harahap, David Hutabarat, Gunung Tua Sihombing, Ricardo Simanungkalit dan sederet nama besar lainnya sudah membuat harum dunia pertinjuan di Sumut.
"Ardian Siregar go internasional ini . Perangkat daerah ataupun sponsor, ayolah kita bahu membahu membangkitkan tinju profesional hari ini," tandasnya.