← Beranda

Sempat Berhenti Beroperasi, Ternyata Ini Polemik yang Menyelimuti Armada Trans Siginjai di Jambi

Rofia Ismania SartiSenin, 13 November 2023 | 17.01 WIB
Armada Trans Siginjai sedang beroperasi (Radar Jambi)

 

 

JawaPos.com- Armada Trans Siginjai diketahui sebagai transportasi massal yang beroperasi di Provinsi Jambi.

Transportasi yang biasa disebut dengan Bus Tayo ini, telah beroperasi pada 13 Desember 2017.

Namun bus ini sempat berhenti beroperasi selama satu bulan. Penghentian itu dikarenakan kontrak dengan pihak ketiga telah habis.

Alhasil, Dinas Perhubungan Provinsi Jambi membuka lelang untuk pengelolaan transportasi massal tersebut pada bulan Januari 2023 yang lalu.

Kini Trans Siginjai telah dikelola oleh pihak ketiga yang memenangkan lelang. Namun Trans Siginjai masih terbilang sepi, masyarakat pun lebih memilih alternatif lain untuk transportasi.

Menurut laman Antara pada Senin (13/11), hal itu disebabkan adanya keterbatasan armada, sehingga kedatangan antar armada dinilai masih terlalu lama.

Perlu diketahui, Trans Siginjai hanya memiliki 10 unit saja, yang terbagi ke tiga koridor atau rute.

Seperti empat bus untuk rute Bandara-Sengeti, empat bus armada ke perkantoran (Inspektorat Provinsi) – Pijoan dan dua armada lainnya untuk koridor Bandara-Candi Muaro Jambi.

Sementara rute yang dilewati yaitu Terminal Sijenjang, Batalyon Sijenjang, Pertamina Kasang, Rumah Dinas Gubernur, Rumah Sakit DKT, Simpang Mangga, Mesjid Al-Falah, Broni, Telanai, Simpang Rimbo, Mendalo, dan Pijoan.

Baca Juga: Asyik! Dua Ruas Tol Trans Sumatera Beroperasi Gratis Hari ini

Sama seperti armada Trans di kota-kota lainnya, Trans Siginjai dihadirkan untuk memudahkan mobilitas warga Jambi. Supaya masyarakat mau menggunakan transportasi publik.

Hal itu berbanding terbalik saat mendapati kursi terlihat kosong dan jarang diminati oleh masyarakat.

Sementara itu, permasalah lain yang ditemui yaitu pada kondisi eksisting halte Trans Siginjai. Masih dijumpai kinerja halte belum sesuai standar yang ada.

Contohnya penempatan halte tidak sesuai dengan lokasi bangkitan penumpang yang ada, sehingga penumpang yang naik sepi.

Masih ditemukan pula beberapa halte belum dilengkapi tempat duduk, jadwal keberangkatan tidak tersedia, tidak ada tempat berteduh (saat panas maupun hujan).

Tidak tersedia fasilitas keamanan seperti CCTV, serta banyaknya pemasangan iklan liar membuat calon penumpang enggan untuk menunggu di halte.

Jika dilihat dari segi harga, Trans Siginjai terbilang ekonomis. Seperti Jalur armada menuju ke Sengeti kabupaten Muaro Jambi hanya dibanderol dengan tarif 8000 per orang dan perkantoran Provinsi ke Pijoan senilai 5000 per orang. Namun hal itu bukan menyoal harga, tetapi fasilitas dan pelayanan juga harus ditingkatkan.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti