Hingga kemarin, Pos Pemantauan Gunung Api (PGA) Raung tetap menyebutkan bahwa situasi gunung aktif itu masih terpantau aman. Meski demikian, warga tetap diminta waspada mengingat aktivitas gunung yang masih fluktuatif.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Api (PGA) Raung Mukijo menyatakan, kabar adanya suara gemuruh tersebut disampaikan warga di sekitar kaki gunung. Suara tersebut terdengar beberapa kali dari arah barat atau dari arah Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember. ”Namun, suara itu tak terdengar di pos. Sejauh ini, aktivitasnya masih belum meningkat dan terpantau aman,” ujarnya.
Diprediksi, fenomena suara gemuruh itu sangat berkaitan dengan aktivitas vulkanis Gunung Raung yang saat ini meningkat. Apalagi, bila berkaca pada erupsi sebelumnya, yakni pada 2012 dan 2015, suara gemuruh merupakan ciri khas Gunung Raung. ”Cekungan kawah Gunung Raung yang besar membuat efek resonansi suara dari aktivitas kawah berupa letusan terdengar seperti bergemuruh,” terangnya.
Sementara itu, dari pengamatan PGA Raung, sejauh ini cuaca terpantau cerah. Angin bertiup lemah ke arah utara dengan suhu udara 14 hingga 29 derajat Celsius.
Dari segi visual, gunung terlihat jelas. Sementara itu, asap kawah tidak teramati. Selain itu, kemarin terdapat aktivitas kegempaan/letusan sebanyak enam kali dengan amplitudo 6–9 mm berdurasi 51 hingga 150 detik.
Tak hanya itu, terjadi tremor nonharmonik 60 kali dengan amplitudo 1 hingga 8 mm dengan 46–387 detik. ”Tidak ada perubahan status aktivitas Gunung Raung,” ungkapnya.
Mukijo tetap mengimbau masyarakat atau wisatawan untuk waspada. Sebab, status Gunung Raung dapat berubah sewaktu-waktu.
Selain itu, pihaknya melarang masyarakat atau wisatawan untuk melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak. ”Untuk saat ini, jalur pendakian masih ditutup karena masih menunggu status Gunung Raung normal kembali,” pungkasnya.
Pembukaan TNBTS Direncanakan Agustus
Sementara itu, setelah ditutup total gara-gara pandemi Covid-19, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sudah diancang-ancang bakal dibuka kembali.
Jika tak ada aral melintang, keindahan destinasi wisata andalan Jatim itu bisa dinikmati lagi pada Agustus mendatang. Kepastiannya menunggu kesepakatan resmi empat kepala daerah di wilayah administratif TNBTS.
Perwakilan Seksi Pengilahan Taman Nasional (SPTN) Senduro Khairul Saleh menyatakan, empat kepala daerah di wilayah TNBTS (yakni bupati Lumajang, bupati Pasuruan, bupati Probolinggo, dan bupati Malang) sudah menggelar rapat koordinasi terkait dengan pembukaan destinasi tersebut.
”Rakor ini menindaklanjuti keputusan Kementerian Lingkungan Hidup (Kemen LH) dan edaran gubernur Jatim tentang kehidupan normal baru sektor pariwisata,” katanya kemarin.
Direncanakan, TNBTS sudah bisa beroperasi dalam waktu dekat. Kemungkinan Agustus mendatang. ”Tapi, kepastian resmi bergantung empat kepala daerah,” katanya.
Senada, Kabid Destinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang Yudi Prasetya menyatakan, koordinasi empat daerah terkait dengan pembukaan TNBTS sudah dilakukan. ”Kepastiannya masih menunggu MoU (memorandum of understanding) pelaksanaan protokol kesehatan 4 bupati dengan pengelola TNBTS,” ujarnya.
Jika nanti benar-benar dibuka, operasional TNBTS menerapkan standar protokol kesehatan pencegahan Covid-19.
Fluktuasi Kondisi Gunung Raung
16 Juli−17 Juli
Gunung Raung mengalami 60 kali letusan kecil dan 23 kali embusan. Namun, saat itu status gunung dinyatakan masih normal.
17 Juli−19 Juli
Erupsi itu menghasilkan kolom abu berwarna cokelat dengan ketinggian 50−200 meter di atas puncak kawah. Situasi berpotensi menimbulkan bahaya sebaran material. Gunung Raung ditetapkan berstatus siaga I.
19−29 Juli
Gunung Raung tetap berstatus siaga I. Kemarin warga di wilayah kaki gunung mendengar suara gemuruh akibat erupsi yang masih berlangsung.