← Beranda

Ini 13 Fakta Terselubung Masjid Jin di Malang

Dimas RyandiSelasa, 4 Juli 2017 | 00.59 WIB
Penampakan Masjid Jin di Malang yang belum rampung dan sudah menelang biaya ratusan miliar

JawaPos.com - Masjid Jin atau ada juga yang menyebutnya Masjid Tiban di Malang Jawa Timur memiliki ‘misteri’ yang sampai saat ini mengundang sejumlah wisatawan untuk menyambanginya. 




Pengunjungnya pun tidak hanya masyarakat lokal tapi juga warga negara asing (WNA) dari Malaysia dan Brunei Darussalam.  



Lokasi Masjid itu tepatnya berada di RT 27/RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen. Mayoritas sopir angkutan atau taksi lokal sudah hafal jika ditanya rute menuju daerah itu. 



Ada sejumlah fakta menarik dari Masjid Jin yang namanya sudah terkenal hingga luar negeri itu. 



1. Masjid Jin dibangun tahun 1978


Namun hingga saat ini masjid yang memiliki arsitektur unik itu belum juga selesai. Bahkan, bisa jadi tidak akan pernah rampung.



2. Dibangun tanpa Gambar 


Uniknya, masjid yang memiliki 10 lantai dan berdiri di lahan seluas 6,5 hektare itu dibuat tanpa ada gambar rancangan atau desain. 



3. Desainnya berdasar mata batin Kiai 


Desain bangunan tempat ibadah itu dibangun hanya semata-mata dengan mengandalkan mata batin melalui salat Istikharah.



4. Memiliki Ratusan Menara


Dari penampakannya ”Masjid Jin” memiliki  ratusan menara. Tinggi menara itu kabarnya tidak sama.  



5. Berada di Komplek Pesantren Salafiah


Jika melihat dari papan nama yang terpampang di pintu masuk ”Masjid Jin”, jelas tertulis: Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah.



6. Butuh rute khusus untuk masuk Masjid Jin 


Bagi pengunjung yang ingin menjelajah di Masjin Jin tau ke ponpes itu, sudah ada rutenya. Mereka tinggal mengikuti petunjuk arah yang sudah disediakan. 



7. Tidak semua Ruangan Dibuka


Jadi, setiap pengunjung bisa menyaksikan setiap ruangan yang ada. Namun, tak semua ruangan bisa disaksikan pengunjung. 



8. Ratusan Ruangan dalam 10 Lantai


Untuk menghitung jumlah ruangan di setiap lantai, tim juga sempat kesulitan. Selama tiga jam lebih, beberapa anggota tim disebar untuk secara khusus menghitung jumlah ruangan mulai dari lantai 1 hingga 10. Ada yang mencatat 173 ruangan ada juga 184.



9. Konstruksinya Serampangan


ada kesan kuat yang langsung tebersit. Yakni, konstruksi bangunannya terkesan tidak tertata dan sekilas agak serampangan. 



10. Dominasi ornamen berwarna Biru dan Putih


Meski tak beraturan, anehnya, tetap menyenangkan jika dipandang. Salah satu sebabnya, di setiap ruangan kaya akan hiasan ornamen biru dan putih. Corak hiasannya pun seperti tidak lazim. Namun, lagi-lagi tetap menyenangkan jika dilihat.



11. Jadi tempat tinggal Kiai Sepuh


Ruangan di lantai I kebanyakan masih berupa bangunan kuno. Di lantai ini, terdapat kamar yang dulu ditinggali oleh almarhum KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rohmad Alam. Dia adalah pendiri Ponpes Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah (selanjutnya disebut Bihaaru) yang wafat pada 2010. 



12. Telan biaya Rp 800 Miliar


Angka itu dihasilkan dari penghitungan harga lahan dan bangunan. Berdasarkan data di kepala Desa Sananrejo dan camat Turen, harga tanah di area ”Masjid Jin” berkisar Rp 400 ribu per meter persegi. 



Karena lahan tersebut seluas 6,5 hektare, berarti uang yang dikeluarkan untuk pembebasan lahan mencapai Rp 26 miliar (400.000 x 65.000 meter persegi).



Sementara itu, untuk biaya pembangunannya, diasumsikan Rp 2 juta per meter persegi. Dari lahan 6,5 hektare tersebut, sekitar 4 hektare sudah terisi bangunan.



Dengan demikian, bangunan satu lantai menghabiskan dana Rp 80 miliar (2.000.000 x 40.000). Karena ada 10 lantai, berarti total dana yang dikeluarkan sekitar Rp 800 miliar (80 miliar x 10 ).



13. Tidak pernah minta Sumbangan


Pengasuh Ponpes Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah KH Ahmad Hasan menyatakan, pihaknya tidak pernah menghitung jumlah dana yang dikeluarkan.



Jadi, dari mana dananya? Abah Hasan, panggilan akrab KH Ahmad Hasa, menjelaskan, ada beberapa sumber dana pembangunan. Selain uang pribadi Kiai Ahmad, juga ada sumbangan santri dan donatur.




”Kami tidak pernah meminta sumbangan. Tapi, kalau ada yang menyumbang, ya tidak apa-apa,” kata Abah Hasan. (c3/dan/dms/JPG)

EDITOR: Dimas Ryandi