Eko mulai membuka toko kecil di depan rumahnya pada 2012. Saat itu bisnisnya belum menunjukkan perkembangan. Demi meminimalkan pengeluaran, akhirnya dia memanfaatkan lahan di ruangan yang dijadikan studio. Langkah itu sekaligus dilakukan untuk membenahi sistem kerja tim DGTMB.
Di sana Eko mengembangkan dua profesinya sekaligus. Menjadi pelaku seni rupa dan pebisnis. Menurut dia, menyatukan tempat usaha dengan studionya adalah pilihan yang tepat. Dia bisa tetap berkarya sembari melakukan pengawasan. ”Jadi ya, memang saya butuh mendampingi mereka. Sambil berkarya lukis, saya juga mengawasi kerja tim DGTMB,” katanya.
Seiring dengan berjalannya waktu, animo masyarakat terhadap merchandise yang dijualnya semakin meningkat. Produksi pun diperbanyak. Hasil lukisan Eko juga semakin bertambah. Akibatnya, ruangan semakin penuh dengan lukisan kanvas dan barang dagangan. Juga, orang-orang yang bekerja di sana. Ayah dua anak itu pun akhirnya memutuskan untuk memisahkan studio dengan toko pada akhir 2017.
”Toko yang ngalah akhirnya karena udah padet. Di sana jadi rumah, terus ada tim studio juga. Jadi, ya udah cari tempat,” tutur Eko.
Store DGTMB yang ditempati sekarang di kawasan Tegalrejo, Jogjakarta, dia sewa hingga Oktober mendatang. Setelahnya, mereka berpindah lagi ke daerah Sleman. Menjadi satu dengan lokasi Eko Nugroho Art Class. ”Di sana kami udah beli. Nggak ngontrak lagi. Ruangan yang bersebelahan sama art class,” jelasnya.
Di lokasi berbeda di daerah Ngemplak, Sleman, Jogjakarta, sebuah rumah tua dengan halaman luas dipilih Farid Stevy untuk menjadi tempat bisnis. LiBStud namanya. Di atas lahan dengan luas 800 meter itu, sejumlah bisnis miliknya dijadikan satu. Ada LiBS Space (art class), LiBS Store, LiBS Sajen (tempat makan), LiBS Scooth yang biasa dijadikan tempat kumpul komunitas vespanya, serta workshop brand pribadinya, FRDSTVY. Dengan begitu, segala kegiatan bisa dilakukan di dalam satu bangunan.
Baca juga: Dari Kanvas ke Kaus, Penanda Zaman untuk Seni yang Tak Berjarak
”Ini mimpi saya, punya tempat kerja yang memerdekakan orang-orangnya. Makanya, saya namankan liberate,” jelas Farid. Meski, lanjut dia, secara bisnis jauh dari situasi ideal. ”Tapi, setidaknya merdeka itu tercapai. Dan, itu menyenangkan buat saya,” ujarnya.
Namun, sejak pandemi melanda, LiBStud belum lagi dibuka untuk umum. Hanya LiBS Store dan LiBS Sajen yang buka. Dia menyatakan, dalam waktu dekat LiBStud kembali dibuka dengan kapasitas pengunjung yang terbatas untuk semua kegiatan.
Jauh sebelum bisnis merchandise-nya berkembang seperti sekarang, Farid pernah menggabungkan workshop dengan studionya di rumah. Namun, hal tersebut tidak berjalan baik. Dia merasakan betul ada perubahan pada kondisi psikologisnya. Sampai akhirnya, dia memutuskan untuk memisahkan studi tempatnya berkarya dengan bekerja. ”Ya, rupanya memang lebih sehat begitu,” ujar dia.