← Beranda

Secondary Skin di H House dengan Motif Batik Truntum

Lailatul FitrianiKamis, 2 Januari 2025 | 02.28 WIB
INTERAKSI: Ruang utama menyatu tanpa sekat dengan void tinggi sehingga terhubung dengan lantai atas dan view taman belakang yang terasa luas. (Foto: Ranah Timur Architects)

Hunian di kawasan Tangerang Selatan ini hasil perpaduan desain masa kini dan rumah tradisional Jawa. Elemen batik truntum pada fasad menjadi spotlight.

H HOUSE merupakan proyek renovasi yang mempertahankan hampir seluruh bangunan existing-nya. Namun, dilakukan penyesuaian pada struktur bangunan agar mampu menopang penambahan lantai 2.

”Kami juga menghilangkan dinding-dinding pembatas existing pada ruang utama supaya ruangan terasa lebih besar dan lega,” papar arsitek prinsipal Ranah Timur Architects Regi Kusnadi.

Secara konsep, owner menginginkan nuansa rumah Jawa. Rumah existing sebelumnya juga memiliki ornamen Jawa yang unik dan menarik. Regi memosisikan rumah sebagai kanvas kosong untuk menampung kreativitas owner sehingga H House dapat mencerminkan karakter penghuninya.

”Kami coba hadirkan nuansa itu dengan memakai tegel homemade tradisional yang didatangkan langsung dari Jogja, warna hijau khas rumah tradisional Jawa sebagai aksen. Dan, secondary skin motif batik truntum permintaan khusus klien,” bebernya.

Fasad berbentuk segitiga juga mencerminkan sebagian besar rumah tradisional Jawa yang memiliki atap segitiga. Sisi kanannya dibuat kisi-kisi kayu yang dapat dibuka tutup.

Keberadaan secondary skin berfungsi menyaring cahaya yang masuk mengingat posisi rumah menghadap barat. Cahaya matahari yang masuk dari secondary skin itu menghasilkan bayangan motif batik truntum pada lantai. Cantik.

ATAP SEGITIGA: H House memadukan elemen rumah Jawa dengan tampilan kekinian. Sisi fasad diberi kisi-kisi kayu yang dapat dibuka tutup. (Foto: Ranah Timur Architects)
ATAP SEGITIGA: H House memadukan elemen rumah Jawa dengan tampilan kekinian. Sisi fasad diberi kisi-kisi kayu yang dapat dibuka tutup. (Foto: Ranah Timur Architects)

Memasuki ruang utama, penggunaan elemen kayu banyak direpetisi ke dalam interior. Misalnya, pada langit-langit rumah dan lantai yang memberi kesan hangat. Regi menuturkan, desain hunian itu terinspirasi dari Keraton Jogjakarta dan Ndalem Gamelan.

”Untuk H House ini, kami pakai ceiling dari WPC dan lantainya laminated wood yang lebih mudah perawatannya dibandingkan kayu solid karena tidak lembap,” ungkap Regi.

Ruang utama, ruang keluarga, ruang makan, dan dapur menyatu tanpa sekat. Dari area itu juga dapat langsung melihat ke taman belakang yang hanya dibatasi pintu folding kaca sehingga pandangan terasa luas. Master bedroom di samping taman mendapatkan view taman belakang.

Baca Juga: Megahnya Andaraa Home dengan American Style di Lahan 60 Meter Persegi

BAYANGAN ELOK: Permintaan owner untuk menggunakan motif batik truntum pada secondary skin menghasilkan bayangan cantik di lantai ruangan. (Foto: Ranah Timur Architects)
BAYANGAN ELOK: Permintaan owner untuk menggunakan motif batik truntum pada secondary skin menghasilkan bayangan cantik di lantai ruangan. (Foto: Ranah Timur Architects)

Pada lantai 2, terdapat area belajar yang menjadi satu dengan wardrobe dan storage. Lantai 1 dan 2 saling terhubung melalui pemanfaatan void. Dengan begitu, interaksi antaranggota keluarga tetap dapat terbentuk meski berada di lantai yang berbeda.

”Area wardrobe ini menjadi penting untuk menyimpan banyak barang supaya rumah tetap terlihat rapi. Kalau biasanya lemari itu di dalam kamar, di sini kamar hanya untuk tidur. Jadi, semua aktivitas di lakukan di luar kamar,” ujarnya.

Pada bagian belakang, terdapat balkon untuk area servis dengan material kaca buram yang ditutup stiker guna menghalau pandangan ke area tersebut. Namun, sinar matahari tetap bisa masuk untuk memberikan tambahan pencahayaan alami. Sebab, cahaya dari balkon depan tersamarkan oleh kisi-kisi. (lai/c6/nor)

---

H House

ATAP SEGITIGA: H House memadukan elemen rumah Jawa dengan tampilan kekinian. Sisi fasad diberi kisi-kisi kayu yang dapat dibuka tutup. (Foto: Ranah Timur Architects)
ATAP SEGITIGA: H House memadukan elemen rumah Jawa dengan tampilan kekinian. Sisi fasad diberi kisi-kisi kayu yang dapat dibuka tutup. (Foto: Ranah Timur Architects)
  • Luas lahan: 100 meter persegi
  • Luas bangunan: 160 meter persegi
  • Arsitek prinsipal: Regi Kusnadi dan Antonius Setha Pramudya (Ranah Timur Architects)
  • Tim arsitek: Fendy Pradana, Dania Sulistyati
  • Lama pembangunan: 1 tahun
  • Lokasi: Cirendeu, Tangerang Selatan

---

Highlight

• Material Aluminium

Secondary skin pada sisi kiri fasad memiliki bentuk unik. Material aluminium di-cutting dengan motif batik tuntrum. Selain menambah estetika, juga memberikan elemen budaya Jawa yang kental.

• Void

INTERAKSI: Ruang utama menyatu tanpa sekat dengan void tinggi sehingga terhubung dengan lantai atas dan view taman belakang yang terasa luas. (Foto: Ranah Timur Architects)
INTERAKSI: Ruang utama menyatu tanpa sekat dengan void tinggi sehingga terhubung dengan lantai atas dan view taman belakang yang terasa luas. (Foto: Ranah Timur Architects)

Keberadaan void menjadi penghubung lantai 1 dan 2. Keterbukaan itu juga memudahkan cahaya alami dari skylight dan kaca fasad depan belakang menyebar ke seluruh ruangan. Rumah berkesan lebih lega berkat void tinggi.

• Ceiling WPC

Ceiling kayu pada H House menggunakan material wood plastic composite (WPC) sebagai pengganti kayu solid. Dengan begitu, tetap didapatkan kesan rumah tradisional, tapi secara perawatan lebih mudah daripada kayu solid.

EDITOR: Ilham Safutra