Rumah kayu menghadirkan nuansa relaksasi yang nyaman di tengah perkotaan. Penggunaan beton diminimalkan. Kayu solid menjadi elemen utama pada hunian di kawasan Sunter, Jakarta Utara, itu.
FASAD prisma trapesium memberikan nuansa yang unik dan menonjol dari hunian di sekitar. Sudut-sudut yang miring menciptakan garis dinamis, memberikan kesan tidak ada batas yang tegas antara rumah dan alam.
”Bentuknya membesar ke atas dan ke depan melambangkan pohon yang tumbuh ke atas dan semakin besar,” ungkap arsitek Sujiva Architects Yuyun Soewahjo mengenai konsep unik fasad Tree House.
Penggunaan dinding beton pada fasad diminimalkan guna memberikan kesan alam yang sejuk. Hanya menyisakan sebidang dinding beton yang sengaja ditampilkan di tengah bangunan dengan finishing cat tekstur. ”Kami buat sebagai lambang batang pohon kuat yang menopang rumah pohon di atasnya,” sambungnya.
Kisi-kisi kayu vertikal pada sisi kanan melambangkan hutan. Sekaligus berperan memberikan privasi dan keteduhan untuk ruangan di baliknya. ”Karena kisi-kisi ini, kami bisa membuat jendela-jendela besar untuk ruang di belakangnya sehingga ruangan menjadi tidak terbatas,” lanjut Yuyun.
Pada sisi kiri, kayu ulin disusun horizontal membentuk sirip-sirip. Saat sore, cahaya dari barat akan tersaring oleh sirip-sirip kayu sehingga memberikan siluet matahari terbenam pada master bedroom di baliknya.
”Kami mengusung format form follow function, terbentuk dari susunan layout ruangan yang diatur dengan tujuan semua ruangan mendapat cahaya dan penghawaan alami,” terangnya.
Hunian tiga lantai tersebut menggunakan perpaduan atap beton dan genting. Di lantai 1, hanya ada foyer untuk menerima tamu, toilet tamu, ruang penyimpanan sepatu, dan area servis di belakang.
Dari foyer, penghuni naik ke lantai 2 yang berisi ruang keluarga, ruang makan, dapur, dan kamar anak dengan balkon semi-outdoor. Sementara itu, lantai 3 berisi master bedroom, kamar anak, dan laundry room.
”Penghuni rumah sangat menyukai kayu. Maka, kami gunakan kayu-kayu solid yang kokoh. Untuk plafon, kami bereksperimen dengan stiker motif kayu,” imbuh Yuyun.
Furnitur indoor pun didominasi warna-warna kayu yang hangat dan timeless. Terdapat taman kecil dengan atap terbuka di belakang ruang makan. Dinding taman diberi aksen tali air pola random sebagaimana dinding pada tangga untuk mengalirkan air rembesan saat hujan.
”Pada tangga kami buat skylight berongga yang ditutup kasa antinyamuk untuk menangkap sinar matahari pagi dan sore. Kami menyebutnya kantong cahaya bagi ruangan di tengah rumah,” ujarnya. (lai/c7/nor)
Baca Juga: Rumah dengan Konsep Industrial-Rustic di Solo Punya Lapangan Basket di Rooftop
Tree House
- Arsitek: Yuyun Soewahjo (Sujiva Architects)
- Luas lahan: 122,5 meter persegi
- Luas bangunan: 250 meter persegi
- Lama pembangunan: 2,5 tahun
- Lokasi: Sunter, Jakarta Utara
Baca Juga: Arsitek Erwin Kusuma Siasati Kontur Tanah untuk Rancangan Rumah, Bagi BGH House Menjadi Dua Massa
Highlight
Material Kayu Solid
Jenis kayu yang digunakan adalah kayu keras yang awet, bahkan sampai ratusan tahun. Antara lain, kayu ulin pada fasad, kayu jati pada lantai, dan kayu oak untuk kusen serta tangga.
Siluet dari Sirip
Kayu-kayu solid pada fasad disusun horizontal membentuk sirip-sirip. Dengan susunan itu, cahaya matahari dari barat dapat dipecah dan diteruskan ke dalam sehingga saat sore hari mendapat siluet cahaya yang indah.
Tiga Kantong Cahaya
Selain skylight berongga pada tangga, kantong cahaya lain adalah bukaan balkon pada fasad di bawah prisma trapesium dan void di belakang lahan. Dengan begitu, semua ruangan memiliki penyinaran yang baik.