Dengan ukuran lahan 4 x 20 meter, hunian yang terletak di Cipulir, Jakarta Selatan, itu menjadi tantangan tersendiri bagi arsitek Yudhi Puspa Tia. Terlebih, lokasi tersebut merupakan kawasan permukiman yang cukup padat. Konsep split level yang akhirnya dipilih.
MENERAPKAN konsep split level artinya memiliki ketinggian antarlantai sekitar setengah sampai tiga perempat dari ketinggian biasa. Hal itu dapat menciptakan beragam ruangan yang lebih luas di tengah keterbatasan lahan. Untuk rumah ini, Tia menerapkan empat level.
Level 1 mengakomodasi carport untuk dua mobil dan area servis seperti kamar ART, cuci jemur, dan toilet tamu. Lalu, level 2 merupakan area komunal, antara lain ruang keluarga, ruang makan, dan dapur. Naik ke level atasnya, ruangan pertama yang menyambut adalah working area.
Terdapat tangga pendek yang menghubungkan ke kamar tidur utama. Sedangkan tangga satunya mengarah ke kamar anak dengan konsep sharing, kamar mandi, dan roof garden. Karena mengusung split level, otomatis terdapat banyak tangga di rumah itu. Agar tidak terkesan penuh, mengingat rumah hanya memiliki lebar 4 meter, tangga dibuat dengan material yang ”ringan” dan melayang.
Tinggi anak tangga juga diperhatikan agar tetap nyaman, yakni sekitar 17 sentimeter dengan lebar pijakan kaki 30 sentimeter. Tangga menggunakan material baja, sama seperti struktur rumah. Tia bercerita, dirinya menerima proyek itu saat kondisi rumah sudah memiliki cor dak beton lantai 2. Sebab, pemilik rumah sebenarnya sudah memiliki gambar perencanaan dari arsitek lain, tapi kemudian berubah pikiran dan meminta Tia mendesain ulang.
Struktur baja pun diinjeksikan untuk menyesuaikan existing dak lantai 2. Konstruksi baja lebih mudah dirangkai sehingga waktu pengerjaan bisa lebih cepat. Plus, biaya pembangunan lebih efisien.
”Baja juga bisa didaur ulang, apabila suatu saat jika rumah dibongkar, struktur utamanya dapat dirangkai ulang atau dijual,” kata arsitek prinsipal Studio RDP itu. Hanya, material tersebut memiliki sedikit kelemahan.
Salah satunya, harga yang cukup mahal, lalu diimbangi dengan adanya sistem dan tim yang memadai agar menekan biaya pembangunan. ”Selain itu, dibutuhkan perhitungan dan keahlian untuk perencanaan bangunan dengan struktur baja,” terang Tia.
Struktur baja dibiarkan terekspos dengan hanya melapisinya menggunakan cat putih. Alhasil, interior rumah pun didominasi warna putih yang menambah kesan bersih dan lapang, juga mudah dipadupadankan dengan material dan warna lainnya. (adn/c7/nor)
Baca Juga: The Laweyan House, Hunian Yang Mempertahankan Ndalem dan Gandok
---
HIGHLIGHTS
Fasad Masif
Terletak di kawasan yang cukup padat dan berpotensi bising, maka fasad dibuat masif. Material GRC board 12 mm yang ditopang dengan rangka baja memperkuat fasad. Terdapat beberapa jendela dengan kaca hitam yang menghalau pandangan dari luar ke dalam.
Udara dari Depan
Sirkulasi udara utama mengalir dari depan ke belakang. Area taman sebagai resapan dan pertukaran udara berada di bagian belakang rumah. Rumah ini juga dilengkapi roof garden sebagai tambahan tempat melakukan aktivitas luar dan skylight agar rumah selalu terang.
Akses ke Rumah Ortu
Sebelah kiri rumah merupakan hunian orang tua yang masih satu lantai. Dengan begitu, dinding area dapur dan ruang tamu di lantai 2 bisa ditambahkan dengan jendela dan roster. Lantai dasar juga memiliki akses pintu langsung ke rumah orang tua.
---
RUMAH CIPULIR
- Arsitek: Yudhi Puspa Tia (@studio.rdp)
- Luas tanah: 78 meter persegi
- Luas bangunan: 200 meter persegi
- Lama pengerjaan: 10 bulan
- Lokasi: Jakarta Selatan