← Beranda
Lahir di Tengah Ancaman, Anak Gajah Sumatera di Tesso Nilo Diberi Nama Nona Seroja
Muhammad RidwanJumat, 12 Juni 2026 | 05.33 WIB
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan bersama anak gajah yang diberi nama Nona Seroja di Tesso Nilo, Kamis (11/6).

JawaPos.com - Di tengah berbagai tantangan yang masih membayangi upaya konservasi gajah Sumatera, kelahiran seekor anak gajah betina di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) menghadirkan harapan baru bagi pelestarian satwa liar di Riau. Anak gajah tersebut diberi nama “Nona Seroja” oleh Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan sebagai simbol optimisme bagi masa depan gajah Sumatera.

Pemberian nama itu menjadi bentuk doa dan harapan, agar populasi gajah Sumatera terus tumbuh dan berkembang di habitat alaminya. Kelahiran Nona Seroja juga dinilai sebagai momentum penting di tengah berbagai upaya penyelamatan satwa liar, serta perlindungan kawasan konservasi di Tesso Nilo.

Irjen Herry Heryawan mengaku merasa tersanjung saat diminta memberikan nama bagi anak gajah tersebut. Ia menyebut, kesempatan itu merupakan kehormatan sekaligus amanah yang penuh makna.

Baca Juga: 7 Perbedaan Ferry Merak-Bakauheni Kelas Eksekutif dan Reguler, Mana yang Lebih Nyaman?

“Sebelum menetapkan nama tersebut, saya juga menyampaikan dan meminta izin kepada Menteri Kehutanan Bapak Raja Juli Antoni. Alhamdulillah beliau berkenan dan menyetujui nama yang kami usulkan,” kata Irjen Herry Heryawan, Kamis (11/6).

Ia menjelaskan, nama Nona Seroja dipilih karena memiliki filosofi yang erat dengan kondisi Tesso Nilo saat ini. Seroja dikenal sebagai bunga yang tumbuh di lumpur keruh, tetapi mampu mekar dengan indah dan bersih di atas permukaan air.

“Nona Seroja melambangkan kemurnian, ketahanan, dan keindahan. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah segala kekacauan, alam selalu memberi kesempatan bagi harapan untuk tumbuh dan mekar,” ujarnya.

Menurutnya, kelahiran Nona Seroja menjadi bukti bahwa alam masih memberikan kesempatan bagi semua pihak untuk memperbaiki dan menjaga kelestarian kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi gajah Sumatera.

“Beberapa waktu lalu kita berduka atas berbagai ancaman yang menimpa satwa liar di Tesso Nilo. Hari ini Allah SWT menghadirkan kabar gembira melalui kelahiran Nona Seroja. Ini simbol bahwa harapan untuk menjaga kelestarian Tesso Nilo masih hidup dan harus terus diperjuangkan bersama,” tuturnya.

Irjen Herry menegaskan, menjaga kelestarian gajah Sumatera tidak cukup hanya dengan merawat habitatnya, tetapi juga harus dibarengi penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan satwa liar.

Ia menekankan, Polda Riau akan terus memperkuat perlindungan satwa liar melalui pendekatan Green Policing yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari keamanan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Selain itu, Polda Riau juga tengah melanjutkan pengembangan penyidikan kasus perdagangan satwa liar dilindungi berupa gading gajah dengan menerapkan instrumen Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Langkah tersebut sebagai upaya merampas aset hasil kejahatan agar rantai perdagangan satwa liar dapat diputus hingga ke sisi finansialnya.

“Kami tidak hanya mengejar pelaku, tetapi juga akan mengikuti aliran uangnya. Kejahatan terhadap satwa liar adalah kejahatan terhadap masa depan lingkungan," tegasnya.

Sementara itu, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyambut baik nama yang diberikan kepada anak gajah tersebut. Ia menilai, nama Nona Seroja terdengar indah dan memiliki makna mendalam bagi semangat pelestarian satwa liar dan lingkungan hidup.

“Nama itu mencerminkan harapan, kelembutan, sekaligus ketangguhan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Semoga Nona Seroja tumbuh sehat dan menjadi simbol optimisme bagi masa depan konservasi gajah Sumatera,” ucap Raja Juli.

Lebih lanjut, Raja Juli berharap kelahiran anak gajah tersebut menjadi pengingat bahwa upaya menjaga kawasan konservasi dan melindungi satwa liar harus terus dilakukan secara konsisten oleh seluruh pihak.

“Konservasi bukan hanya menjaga satwa, tetapi menjaga masa depan generasi yang akan datang,” pungkasnya.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah